9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Cara yang Baik

Setiap perjalanan hidup mengandung pelajaran tersendiri dan berbeda – tiap orang dalam menyikapinya. Dulu ketika aku duduk kelas 1 SMA lagi sregep –sregepnya liqo’ semua yang kulakukan berbekal ‘semangat’. Sering adu mulut dengan ibu gara-gara celenaku aku lipat sampai diatas kaki, atau kalo sholat subuh gak pake qunut dan seperti orang muda (hehe) aku tak mau mengalah. Setiap kali makan dapat dipastikan bertengkar dengan bapak gara-gara makan dengan 3 jari dan salah satu kaki diangkat. Meniru seperti apa makannya Rasulullah. Pernah juga diomelin ustadzah-ustadzah TPA gara-gara kalo ngajar satriwati yang masih kecil-kecil gak pake ngeliat mereka sedikitpun. Bahkan bukan rahasia umum jika aku diundang nderes aku satu-satunya peserta yang gak akan pernah menyentuh makanan atau minuman sedikitpun, meskipun khatamku bareng sama pak moden. Masih juga aku ingat ketika baru membaca buku bahwa pake jilbab itu wajib aku langsung nyeramahi sambil bawa Qur’an pada Ustadzah-ustadzah TPA kalo jilbab itu Wajib lengkap dengan dalilnya. Walhasil mereka malah marah. Dan aku cuek saja. Asal gugur kewajiban bagiku. Begitupun ketika diminta jadi bilal sholat tarawih, tak ada lagi puji-pujian bagiku, padahal dulunya aku salah satu yang ahli masalah puji-pujian selepas adzan sambil menunggu makmum datang. Jadi teringat kejadian ‘lucu’, habis sholat dhuha di masjid SMA ketika akan masuk kelas. Anak- anak cewek bergerombol di depan pintu. Begitu aku mau masuk semua langsung sambil memberi jalan sambil berselonoh, “Minggir-minggir! Aan mau lewat”. Entah mengejek atau menghormati kala itu. Aku tersanjung waktu itu. Bagiku saat itu, semua berlaku harga mati. Seperti apa aku kala itu, semua orang masih menerimaku. Itu yang kulupa.

Perjalanan waktu membawaku menyadari kenyataan. Mengambil pelajaran. Meneguk pengalaman bahwa aku hidup bersama orang – orang yang mencintaiku. Lama, perlahan dan dalam aku berfikir dari waktu – kewaktu. Apa seperti ini harus bersikap kepada orang-orang yang telah melahirkan, dan memberi kebahagian dalam perjalanan hidupku. Apa harus dengan adu otot untuk memberi arti pada sahabat-sahabatku. Bertahap aku mulai berubah sedikit-demi sedikit, meskipun kadang out of control. Dan sekali lagi, pengalaman, cobaan, pelajaran adalah guru terbaik. Meskipun jujur, kala itu aku kadang menangis merenung. Merasa diri orang munafik, kotor. Sehingga sering menolak untuk memberi nasehat tentang sesuatu hal yang aku belum bisa menjalaninya. Sedikit demi sedikit Allah mendewasakanku melalui caraNya. Ketika kuliah, alhamdulillah aku diberi kesempatan untuk melihat dunia secara lebih nyata dengan semua ’sarana’ kehidupan. Mengenal keistimewaan setiap hamba yang beragam dan berbeda.

Di setiap sarana itulah harus dipertaruhkan. Apakah bisa mewarnai atau justru terwarnai. Dan seperti biasa, aku yang lemah lebih sering terwarnai. Lebih sering hanyut dari pada menepi dan berpegangan erat. Kembali aku berfikir, bagaimana berada di antara kedua hal diatas. Tidak melawan arus ataupun tidak ikut terhanyut. Jadi teringat kata-kata bapak, ”Le, nek eneng banjir. Sopo wong sing sing arep mbendung bakal jebol bendungane. Sopo sing ora mbendung bakal kegowo banjir. Sing apik banjir iku digolekne dalan ben ora mbayani wong akeh”. Ya. Aku harus belajar mengarahkan. Uangel pool jian (istilah magetanan).

Sampai disini terkadang aku masih berfikir, mana cara yang benar? Apa harus memakai ’harga mati’ terhadap segala sesuatu. Atau mengikuti untuk mengarahkan. Lama aku meyakinkan diri. Hingga Allah meyakinkanku. Ketika acara Mabit di masjid Nuruzzaman 3 bulannan yang lalu. Ustadz yang memberi taujih menitir tentang pentingnya bersikap lemah lembut. Beliau mengabil pelajaran dari Surat An Nahl ayat 125 yang terjemahannya 125. ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” beliau melanjutkan dengan tafsir dari ayat ini menurut Ibnu Kastir dan ulama yang mengarang buku tafsir. Dalam tafsir tersebut menyatakan bahwa ayat ini ditujukan untuk orang-orang non muslim. Sedang yang dimaksud Hikmah diatas adalah Al Qur’an. Beliau menjelaskan bahwa untuk menyeru orang-orang non muslim harus berpedoman dari Al Quran, menyeru dengan cara yang baik dan memberi argumen atau bantahan kepeda mereka dengan cara yang baik pula. Maka tidak heran ketika sila ke 4 pancasila dalam bermusyawarah kata-kata hikmat kebijaksanaan termuat dengan jelas disana. Itu kata-kata Alqur’an. Yang semakin memperjelas bagaimana peran ulama dalam perjuangan kemerdekaan. Itulah mengapa Nabi Musa gak Pede jika harus mengajak Fir’aun bertobat sendirian, hingga beliau meminta Harun yang perkataannya lemah lemut untuk menemani. Tidak cukup demikian, bahkan Allah berpesan pada keduanya agar menasehati Fir’aun dengan perkataan dan cara yang baik.

Yang membuatku terhenyak kemudian adalah kelanjutan dari penjelasan beliau, ”Jika kepada orang diluar Islam saja kita dituntun untuk berdakwah dengan cara yang baik, apalagi dengan sauadara kita yang sudah jelas bersyahadat. Harusnya dengan cara yang jauh lebih lemah lembut dan cara yang paling baik”. Benar. Itulah kata hatiku pertama kali mendengan perkataan beliau. Bukankah ciri umat Muhammad adalah yang bersikap tegas pada non muslim dan berlaku lemah lembut sesama muslim. Untuk sekarang aku masih harus banyak belajar mewarnai tanpa harus terwarnai.

About these ads

2 comments on “Cara yang Baik

  1. Duran
    February 27, 2008

    See < HREF="http://nyd-weight-loss-side-effects.blogspot.com/" REL="nofollow">HERE<>

  2. Duran
    March 2, 2008

    This comment has been removed because it linked to malicious content. Learn more.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 26, 2008 by in [Moslem Corner] and tagged , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 138 other followers

Tulisan Terdahulu

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 138 other followers

%d bloggers like this: