9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

5 kucing aneh

Kemarin aku pulang kampong, gak lama cuma 2 hari. Sekedar mengisi ‘energi’ semangat dan melepas kangen suasana rumah. Berangkat dari Surabaya sore, nyampek magetan pasti diatas jam 9 malam. Alhamdulillah dapat bis magetan, jadi bapak gak mapak jauh. Biasanya kalo malam aku naik bis sumber kencono jurusan solo, jadi turun di maospati. Kasian bapak kalo njemput, harus nempuh satu jam perjalanan.

Sampai dirumah, seperti biasa teh hangat buatan ibu yang pas dengan lidahku sudah siap. Dan hal yang rutin aku lakukan, selalu bercerita dulu sampai larut malam dengan bapak ibuku sebelum tidur. Bercerita tentang kuliahku, adek-adekku, keluargaku, familiku, semuanya. Malam itupun sampai jam 11 malam aku, bapak, ibu ngobrol bareng, sedang kedua adekku sudah terlelap dari sebelum aku datang.

Pagi yang indah, saatnya penggemukan badan (he..he..). Bapak dan Dek Koko lebih dulu makan, mau upacara tujuhbelasan. Kucing itu, entah siapa namanya masih ada. Masih kucing yang sama seperti aku pulang terakhir 2 bulan lalu. Ketika kutanya pada ibu mengapa dipelihara, padahal warnamya tidak menarik. Jawaban yang sama pula yang dikatakan ibu, ”Kucing iki bedo An, gak gelem njupuk panganan opo wae nek gak diwenehi”. Masak sih, dalam hatiku menyakinkanku. Begitu bapak mulai makan, kucing itu mengeong di lantai depan bapak. Tanpa dikomando bapak melempar secuil tempe. Seperti mendapat daging empuk kucing itu menyantapnya. Aku menganggap biasa. Dek Koko mulai makan. Kucing itu bersikap sama dan Dek Koko melakukan apa yang dilakukan bapak.

Lauk pauk sudah sipa di meja. Saatnya makan, begitu mau duduk. Ee.. si kucing menempati tempat duduk dari kain. Tertidur ia. Aneh. Meja yang penuh makanan tidak dijamah sedikitpun oleh si kucing. Benar kata ibu. ”Kucing kuwi pancen seneng turu neng kono An, gak ngerti nyapo? Mungkin empuk lan anget” kata ibu. ”lha kae anake papat (4) neng mburi” tembah ibu. Hah.. berarti ada lima kucing ’aneh’ dirumahku.

Kadang membuatku berfikir manusia dengan kucingku. Belum tentu semua manusia seperti kucingku. Maka tidak heran ketika Allah menyebutkan manusia bisa lebih hina dari binatang. Membiasakan diri tidak mengambil barang yang bukan milik kita adalah hal yang sulit, sebab lebih banyak barang yang bersifat subhat di dunia ini. Nah disanalah ujian ’kejantanan’ orang muslim diuji. Maka beruntunglah orang-orang yang senantiasa bersikap waro’ (berhati-hati).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 23, 2007 by in [Uncategorized].

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: