9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Membenarkan Sejarah atau Kebenaran Sejarah

20 Mei merupakan Hari Kebangkitan Nasional, begitulah buku sejarah kita mengatakan. Hari berdirinya Budi Utomo. Namun, jarang yang tahu kebenaran sejarah itu sendiri. Apakah sejarah yang tertulis di pelajaran-pelajaran SMP sampai SMA itu benar adanya atau sekedar mitos. Satu hal yang perlu kita tekankan, sangat besar perbedaan antara sejarah dan mitos. Sejarah berisi kisah yang nyata terjadi. Mitos merupakan kejadian yang sengaja dibuat dan bisa saja ditumpangi kepentingan tertentu.

Mari kita ulas dahulu mengenai Kebangkitan Nasional, setidaknya ada dua syarat yang harus dipenuhi jika predikat ‘Kebangkitan Nasional’. Pertama, hari itu harus merupakan moment yang luar biasa sehingga membangkitkan semangat nasionalisme. Kedua, hari itu merupakan berkumpulnya orang-orang dari berbagai penjuru tanah air atau dengan kata lain lingkupnya nasional.

Sejarah berdirinya Budi Utomo yang dijadikan Hari Kebangkitan Nasional ada kecacatan pada dua syarat diatas. Adalah fakta, bahwa setelah Dr. Wahidin Sudirohusodo, lulusan Sekolah Dokter Jawa (STOVIA) itu, mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh murid-murid STOVIA, OSVIA, Sekolah Pertanian, Sekolah Guru, dan Sekolah Kedokteran Hewan di Jakarta, kemudian melahirkan organisasi pergerakan modern bernama Budi Utomo (20 Mei 1908) yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan. Tapi fakta lainnya juga menunjukkan, bahwa organisasi tersebut pada dasarnya hanyalah organisasi yang didominasi para priyayi Jawa di mana status yang mereka peroleh lewat pendidikan barat, merupakan status yang menghamba kepada Eropa sebagai pemberi jasa atas pengetahuan yang mereka dapatkan.

Oleh karenanya, ketika dalam kongres pertama Budi Utomo pada bulan Juli 1908 di Yogyakarta, usulan Cipto Mangunkusumo dan Dr. Rajiman Wedyodinigrat agar Budi Utomo dijadikan partai politik dengan beranggotakan masyarakat banyak yang bukan priyayi, ditolak oleh kongres. Seperti kita ketahui kemudian, pergerakan Budi Utomo memang sengaja menjauhkan diri – di bawah tekanan penjajah – dari aktifitas politik yang dikhawatirkan akan mengganggu kepentingan kolonial di Hindia. Meski kemudian pada tahun 1909 anggota Budi Utomo mencapai 10.000 orang, Cipto Mangunkusumo mengundurkan diri, disusul sebagian tokoh Sunda yang tidak puas dan mendirikan Paguyuban Pasundan di tahun 1913. Pertanyaannya kemudian, apakah layak sebuah pergerakan yang notabene hanya kamuflase dari suatu strategi kolonial dijadikan momentum untuk spirit yang bernama “kebangkitan nasional?”

Dari bukti keterangan diatas menyatakan bahwa segmentasi Budi Utomo terbatas pada golongan periyayi atau ‘elite’. Murid STOVIA, OSVIA, Sekolah Pertanian, Sekolah Guru dan Sekolah Kedokteran Hewan buatan Kolonial adalah dari kalangan bangsawan. Lingkup wilayah Budi Utomo adalah daerah Jawa dan Madura, belum mencakup dari sabang sampai merauke.

Hal ini diperkuat dengan adanya keterangan bahwa pada tahun 1908 beberapa orang alumnus STOVIA (sekolah Kedikteran) asal Jawa Tengah dan Jawa Timur mengadakan pertemuan di Jawa Tengah. Petemuan ini terbatas di kalangan orang-orang Jawa saja, tanpa dihadiri oleh orang Sunda (Jawa Barat), apalagi perwakilan dari luar pulau Jawa. Mereka bincang soal nasib masa orang Jawa dalam pentas politik pemerintahan Hindia Belanda. Dari sinilah kemudian lahir Budi Utomo.

Berbicara mengenai Budi Utomo tanpa ada pembanding yang jelas kurang etis kiranya. Sekarang, mari kita bandingkan dengan satu organisasi pada awal-awal kebangkitan Indonesia. Sarekat Dagang Islam (SDI) yang berdiri 16 Oktober 1905 oleh H. Samanhudi. Anggaran Dasar SDI yang tercatat pada Ensiklopedia Indonesia : bertujuan untuk beriktiar meningkatkan persaudaraan diantara anggota, dan tolong menolong di kalangan kaum muslimin, berusaha meningkatkan derajat kemakmuran dan kebebasan negeri.

Perkembangan yang pesat dari SDI membuat pemerintah kolonial waktu itu membekukannya pada wal agustus 1912. Karena tidak ada bukti yang kuat 26 Agustus 1912 pembekuan dicabut, dengan syarat harus dilakukan perubahan Anggaran Dasar. Berdirilah Sarekat Islam (SI) yang merupakan perombakan SDI. Ensiklopedia Nasional juga mencatat bahwa pada periode setelah 1916, wawasan SI adalah wawasan nasional untuk terbentuknya suatu bangsa. Hal ini dibuktikan pada konggres ke II tahun 1917 disahkan sifat politis SI. Isi pokok organisasi antara lain mengharapkan hancurnya kapitalisme dan memperjuangkan agar rakyat nantinya akan dapat melaksanakan pemerintahan sendiri. Tahun1916, tercatat 181 cabang SI diseluruh Indonesia dengan tak kurang dari 700.000 orang tercatat sebagai anggota. Budi Utomo pada masa kejayaannya hanya beranggotakan 10.000 anggota saja.

Hari Kebangkitan Nasional yang sedemikian ‘sakral’ seyogyanya kita tempatklan sebagaimana mestinya. Kebenaran sejarah yang keliru atau dikelirukan sepatutnya kita luruskan sehingga semangat dalam merayakannya dapat dirasakan sampai lubuk jiwa. Perayaan Harkitnas sebenarnya bertujuan untuk mengenang heroisme para tokoh dan perjuangan untuk meraih kemerdekaan yang terjajah saat itu. Sekarang perayaan itu juga harus tetap kita maknai untuk bangkit dari krisis multi dimensi yang melanda bangasa ini. Moral rakyat terpuruk, ekonomi yang tidak berpihak paa rakyat, kemiskinan tak kunjung teratasi, banjir rutin, lapindo dan segala permasalahan yang ada adalah PR kita untuk menyelesaikannya.

Para pendahulu kita telah mengajarkan bagaimana harus bersikap terhadap keterpurukan. Sekarang saatnya kita meneladani mereka. Mengutip yang dikatakan M. Natsir dalam “Indonesisch Nationalism” mengatakan bahwa pergerakan Islamlah yang pertama meretas jalan di negeri ini bagi kegiatan politik yang mencita-citakan kemerdekaan, yang telah menebarkan benih kesatuan Indonesia. Sebagai mahasiswa tentu moment Hari Kebangkitan Nasional ini ini harus kita sikapi dengan berfikir dan bertindak secara nasional. Menjadi problem solver pada permasalahan bidang keilmuwan kita masing-masing sudah menjadi satu titik penting bagi kebangkitan bangsa Indonesia. Hal ini tentunya dimulai dengan pembenaran sejarah sehingga jelas mana Mitos mana Sejarah. (disari dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 26, 2007 by in [Moslem Corner], [Opini] [Reportase] [Analogi] and tagged , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: