9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Demokrasi

Perjalanan sistem demokrasi di Indonesia sangat panjang, berawal dari Indonesia sebelum merdeka hingga saat ini. Setiap waktu sedikit – sedikit mengalami perubahan dalam tataran pelaksanaannya. Namun sejarah awal dari kata – kata demokrasi itu sendiri muncul secara ‘meledak’ menjelang awal kemerdekaan, padahal perjuangan mencapai kemerdekaan itu sendiri tercatat kaum ‘santri’lah yang menpunyai andil sangat besar. Setelah kemerdekaan di Indonesia terjadi perang Ideologi, disanalah makin memperjelas arti kata demokrasi yang di pahami masyarakat dan disebarkan oleh Negara melalui lembaga – lembaga pendidikan. Sehingga arti demokrasi yang dipahami masyarakat kebanyakan adalah pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat, persis seperti yang dikatan Abrahan Lincon. Hingga 27 tahun yang lalu muncullah sebuah gerakan yang ingin mengubah masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang Islami melalui dua jalur, jalur system dan jalur pembinaan. Merubah masyarakat dengan mengubah system atau aturan dan membina moral masyarakat. Salah satu harapannya adalah mengubah makna demokrasi dalam tataran pelaksanaan tidak menyimpang dari hukum- hukum Allah dan tidak membuat kemudharatan pada masyarakat yang lebih besar.

Sebenarnya sistem demokrasi saat ini dengan ’demokrasi’ yang dipahami dalam Islam ada persamaan dan ada pula perbedaannya, namun sekali lagi sistem yang dibuat manusia amatlah lemah dan pasti ada cacat. Dalam membahas ini pandangan yang sangat bagus adalah dari seorang pemikir Islam Dr. Dhiya’uddin Ar-Rais. Beliau mengatakan bahwa memang ada persamaan dan perbedaan dari sistem demokrasi yang dipahami yang dipahami sebagaian besar masyarakat saat ini, namun perbedaannyalah yang lebih banyak. Beliau melanjutkan. ” jika yang dimaksud dengan demokrasi – seperti definisi Abraham Linchon : Dari rakyat dan untuk rakyat- pengertian itupun ada di dalam sistem negara Islam dengan pengecualian bahwa rakyat harus memahami Islam secara komperhensif. Jika yang dimaksud Demokrasi adalah adanya dasar- dasar politik atau sosial tertentu ( misalnya, asas persamaan di hadapan undang – undang, kebebasan berfikir dan berkeyakinan, realisasi keadilan sosial, atau memberikan jaminan hak- hak tertentu, seperti hak hidup dan bebas mendapat pekerjaan) semua dijamin dalam Islam. Jika mdemokrasi diartikan sebagai sistem yang diikuti asas pemisahan kekuasaan, itupun sudah ada dalam Islam. Kekuasaan legislatif sebagai sistem terpenting dalam sistem demokrasi diberikan penuh kepada rakyat sebagai satu kesatuan dan terpisah dari kekuasaan Imam tau Presiden. Pembuat Undang – undang (UU) atau hukum didasarkan pada Al- Qur’anm dan Hadist, ijma’, atau ijtihad. Dengan demikian, pembuatan UU terpisah dari Imam, bahakan kedudukannya lebih tinggi dari Imam. Adapun Imam harus mentaatinya dan terikat UU. Pada hakikatnya, kepemimpinan ada di kekuasaan eksekutif yang memiliki kewenangan independent karena pengambilan keputusan tidak boleh didasarkan pada pendapat atau keputusan penguasa atau Presiden, melainkan berdasarkan p[ada hukum – hukum syariat atau perintah Allah SWT.”

Menurut Dhiya’udin Ar-Rais, ada tiga hal yang membedakan Islam dan Demikrasi.. Pertama, demokrasi yang populer di Barat definisi ’bangsa ” atau ”umat” dibatasi wilayah, iklim, darah, suku, bangsa, bahasa, dan adat – istiadat yang mengkristal, sehingga lebih mengarah ke nasionalisme dan rasialisme. Dapaun menurut Islam tidak ada yang membatasi karena yang menyatukakan umat adalah ikatan akidah, pemikiran, dan perasaan. Siapapun yang mengikuti Islam ia masuk salah satu negara Islam terlepas dari jenis, warna, kulit, negara, bahasa, atau batasan lain. Kedua, tujuan Demokrasi menurut orang – oarang barat hanya berorientasi pada kesejahteraan rakyat dengan memenuhi kebutuhan duniawinya saja. Di dalam Islam menyangkup aspek spiritual dan materiil, namun justru aspek spirituil yang lebih diutamakan. Ketiga, kedaulatan umat menurut demokrasi barat adalah sebuah kemutlakan, terlepas rakyatnya bodoh, zalim, bermaksiat. Namun di dalam Islam kedaulatan rakyat tidak mutlak, melainkan terikat pada hukum – hukum Allah. Didalam Islam kekuasaan tertinggi bukan di tangan penguasa karena Islam tidak sama dengan paham otokrasi. Kekuasaan bukan pula di tangan tokoh – tokoh agama karena Islam bukan berpaham teokrasi. Begitupun bukan di tangan Undang _ undang- buatan manusia- karena Islam tidak sama dengan paham nomokrasi. Setidaknya itulah makna demokrasi yang dipahami apara aktivis muslim – termasuk Ikhwanul Muslimin.

Dalam Islam hubungan Demokrasi dengan kebebasan individu juga ada, jika yang dimaksud kebebasan Individu bahwa rakyat berhak menentukan pemimpinnya maka Ikhwan menerima, namun jika kebebasan itu berarti pula bahwa rakyat dapat merubah hukum Allah maka Ikhwan menolak demokrasi. Ikhwan hanya mau terlibat jika dalam sistem tersebut memungkinkan syariat Islam diberlakukan dan kemungkaran dihapuskan. Menolong meskipun sedikit masih lebih baik daripada tidak menolong begitu menurut ustadz Ma’man Hudhaibi.

Di Indonesia perjalanan untuk menuju arah Demokrasi menurut pandangan Islam terus berjalan sedikit – demi sedikit, gerakan kader dakwah terus melaju dalam perpolitikan di Indonesia. Image yang berkembang pada masyarak saat ini bahwa politik itu kotor tidak sepenuhnya benar, memang pernyataan itu benar jika yang ada dikancah perpolitikan nasional adala orang – orang yang ’bejat’ moralnya sehingga membuahkan peraturan yang semakin menyengsarakan rakyat. Jika yang mengisi Parlemen sebagai badan pembuat aturan adalah orang – orang yang moralnya ’lurus’ maka peraturan yang dihasilkanpun akan berpihak pada rakyat. Saat ini yang menjadi polemik tersendiri adalah sebagian besar yang mendukung ’goal’nya peraturan yang notabenenya merugikan Islam kebanyakan dari orang –orang yang KTPnya adalah Islam. Fenomena seperti inilah yang sangat membaratkan, pertanyaan terbesar adalah mengapa bisa seperti itu. Jawaban yang bijak mungkin ”mereka berpolitik dulu baru berislam, bukan berislam baru berpolitik” (Tulisan ketika masih ingusan 2 tahun lalu)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 16, 2008 by in [Moslem Corner], [Opini] [Reportase] [Analogi] and tagged , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: