9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Ijinkan kami ‘bernyanyi’


“Selama saya menjabat sebagai rektor saya tidak mau tanda tangan untuk men DO (Droup Out) mahasiswa” itulah salah satu ungkapan yang terlontar dari salah satu pembicara pada seminar character building yang diikuti sebagian besar oleh para aktivis se-indonesia di makasar, termasuk saya kebetulan ada disana. Tidak hanya itu ternyata beliau adalah salah satu anggota DPR RI juga. Selanjutnya si’bapak’ tadi juga mengungkapkan justru kritik dan saran dari mahasiswa sangat diperlukan, dan aneh jika mahasiswa yang kritis dan aktif berorgnisasi malah terancam DO karena aktifitasnya dan kekritisannya.
Seyogyanya kita mengembalikan pola pikir Perguruan Tinggi untuk apa ada? Mari kita bertanya, kemana dan pada siapa PT itu ada? Apakah untuk kesejahteraan Dosen yang lebih utama atau pengembangan Mahasiswa? Mensejahterakan karyawan yang lebih utama atau melayani mahasiswa dalam meningkatkan kreativitas dan akademis? Tanpa ada mahasiswa maka PT ibarat Negara tanpa penduduk dan sudah pasti tercoret dari daftar nama Negara di bumi, begitupun PT. Seperti Negara dan segala pejabat pemerintahan ada untuk mensejahterakan rakyat. PT ada menpunyai tujuan utama menciptakan genersi penerus bangsa yang siap pakai dan ’mumpuni’ dalam menjaga keberlangsungan ’merah-putih’. Mahasiswalah yang harus diutamakan, sudah basi juga mengulas bahwa mahasiswa yang siap pakai tidak hanya cerdar dalam akademis namun mempunyai keahlian khusus dan spesifik. Sehingga tidak heran jika dalam setiap PT pasti ada UKM olah raga, UKM keilmuwan, UKM Jurnalistik, UKM kewirausahaan dan yang lainnya. Disanalah mahasiswa mampu mengaplikasikan minat dan bakat secara ’total’ selain mendalami akademis dan relatif dipandang lebih bisa memberikan output yang nyata.
Bagaimana ketika output yang ada terkesan semu seperti, ”Kebahagiaan terbesar kami jika kami mengadakan kegiatan yang menjadikan orang lain merasa senang dan merasa memperoleh manfaat terhadap kegiatan yang kami selenggarakan” atau ”ada pujian dari mahasiswa fakultas lain dan universita lain yang merasa iri pada kami lantaran kami mampu membuat kegiatan yang belum pernah ada sebelumnya”. Tegas saya katakan itu juga hobi, siapa disana? Saya biasa menyebut aktivis (konseptor).
Sering kita lihat mahasiswa yang rela kadang mengorbankan waktu kuliah untuk bertanding basket, badminton, sepakbola, main musik, menulis dll ketika ditanya kenapa? Sebagian besar akan menjawab ’hobi’. Kawan, bagaimana dengan kami? Apakah sebuah rasa haus yang senantiasa ingin mengembangkan organisasi, menyelenggarakan kegiatan untuk mahasiswa tidak bisa diakui sebagi hobi? Saya yakin sebagian besar dari anda mengatakan ’ya’, tapi lihatlah kenyataannya terkadang anda masih menganggap kami berbeda atau ’tidak jelas’. Bahkan sifat kritis kami yang berorientasi padamu kawan sering anda salah tafsirkan, keberanian kami mengungkap hal kebenaran sering dianggap tidak sopan. Begitupun oleh para ’pejabat’ fakultas sifat kritis kami dianggap salah tempat, keberanian kami berbicara dibungkam sistem yang ada, keinginan kami yang ’aneh’ menurut mereka adalah batu sandungan. Kawan itu adalah hobi kami, jika anda ada yang hobi main basket tentu ada lapangannya, begitupun yang hobi main piano pasti ada piano, bagaimana dengan kami? Terasa semu bukan? Organisasi dan waktulah tempat kami memainakan organisasi kami. Sekarang mari kita lihat, organisasi secara nama, sekretariat, dan bentuk memang sudah ada disana mengasilkan output. Namun ada sisi yang hilang yaitu waktu, di fakultas kita ini ’aneh’ semua mahasiswa diharap ’aktif’ tidak hanya dalam akademis namun waktu dan sistem yang ada justru menghanlangi hal tersebut. Mungkin bagi yang hobi olahraga, musik, menulis masih bisa memainkan hobi mereka dengan tenang diluar waktu kuliah, masih leluasa meneguk waktu sabtu minggu. Bagaimana dengan kami? Jika sabtu digunakan kuliah pengganti, hobi kami ’mati’ sebab habi kami butuh organisasi dan waktu. Kenapa? sebab hari minggu tidak boleh ada kegiatan kemahasiswaan, begitu aturan di fakultas ini. Kawan kami iri pada kalian yang bisa ’memainkan’ hobi dengan ’riang’. (pujangga) — tulisan ini aku buat menjelang lomba segitiga emas 1 tahun lalu ketika mangkel pada birokrasi kampus. gara-gara anak Paduan suara gak diijinkan latihan di dalam kampus padahal besoknya mau lomba. huhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 21, 2008 by in [Opini] [Reportase] [Analogi].

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: