9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

‘Egois’

Banyak definisi tentang pemuda namun yang mudah dipahami adalah suatu sosok yang senantiasa dinamis dalam mengaktualisasikan dirinya. Mungkin karena itulah pemuda senantiasa mempunyai keinginan dan semangat yang ‘lebih’ dibanding dengan anak kecil oatau orang tua. Yang perlu diingat bahwa definisi ini tidak terikat batasan umur. Bagaimana dengan mahasiswa? Ada unsur intelektualitas yang perlu ditambahkan pada definisi pemuda supaya disebut mahasiswa. Artinya ada pola pikir yang berbeda dengan pemuda pada umumnya. Lebih menonjolkan rasionalitas dan solusi.

Nah, jika demikian ada dua peran utama mahasiswa yang disebabkan kemampuan intelektualitasnya. Pertama, sebagai control kebijakan pemerintah yang merugikan masyarakat yang biasa disebut agent of change. Peran ini bias dilaksanakan mahasiswa sebab dialah golongan yang dianggap mampu mengimbangi pola pikir pejabat. Artinya keberadaan mereka diperhitungkan oleh pejabat karena daya intelektualitas. Kedua, sebagai pengayom, konsultant, dan penggerak masyarakat. Untuk bisa menjadi konsultant dan penggerak masyarakat harus memiliki satu syarat utama yaitu keberadaannya diterima oleh masyarakat. Dan syarat ini mutlak dimiliki mahasiswa sebab mahasiswa berasal dari anak-anak masyarakat, sehingga dianggap sebagai bagaian dari masyarakat. Setidaknya itulah gambaran singkat dari mahasiswa secara sedikit ideal.

Fenomena yang cukup ’aneh’ menurut saya ketika melihat data bahwa hanya sekitar 6 ribu mahasiswa UNAIR dari sekitar 20 ribu mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya pada Pemilu Raya Mahasiswa UNAIR. Di farmasi tidak jauh beda hanya sekitar 500 mahasiswa dari 1000 mahasiswa yang menggunakan suaranya pada Pemilu Raya Mahasiswa Fakultas. Sehingga yang menjadi pertanyaan besar para pengurus Eksekutif Mahasiswa dan Legislatif adalah apa benar mereka representatif mahasiswa di fakultas atau Universitas? Apa benar setiap kegiatan dan tindakan mereka merupakan aspirasi mahasiswa? Kita tidak akan berkutat pada benar atau salah, namun akan kita bahas lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi tentang aspirasi mahasiswa.

Data Pemilu Raya diatas merupakan contoh kecil dari mekanisme menyampaikan aspirasi.Diskusi, Debat, Seminar, Diskusi panel, Saresehan, bahkan sampai berdemo merupakan media-media penyampaian aspirasi yang kerap dilakukan oleh mahasiswa. Namun ironinya media tersebut jarang dimanfaatkan mahasiswa. Kalaupun toh ada pada kegiatan-kegiatan tertentu dimana diasana mampu memberikan keuntungan pada pribadi tiap orang yang terhimpun pada kegiatan tersebut. Sebagai contoh ketika diadakan seminar tentang cara cepat mendapat modal pendirian apotek secara gratis dan mendapat sertifikat maka akan berjubel yang mendaftar. Namun ketika diajak demo tentang kebijakan pemerintah terhadap kesehatan secara gratis saya yakin akan berjubel yang menolak. Mengapa? Sebab contoh pertama memberi keuntungan pada pribadi masing-masing. Namun sayang, pada contoh kedua keuntungan tidak ada keuntungan yang diperoleh tiap individu. Meskipun pada contoh kedua akan sangat dirasakan manfaatnya pada masyarakat luas.

Kenyataan diatas kembali mengingatkan saya tentang debat OSPEK dengan tema mahasiswa aktifis vs mahasiswa study oriented. Disana kita diminta memilih menjadi bagaian mana. Ketika itu jumlahnya hampir sama banyak. Namun setelah saya kaji ulang berdasarkan kenyataan ada satu tipe mahasiswa yang kurang disana. Yaitu mahasiswa apatis atau cuek terhadap segala hal yang ada. Yang penting dia dalam kondisi ’aman’ dan merasa tidak merugikan orang lain masa bodoh dengan apa yang terjadi pada lingkungan. Saya bertanya pada diri sendiri, ”Mana yang lebih banyak jumlahnya ya?” saya berfikir keras hingga memperoleh kesimpulan bahwa tipe mahasiswa yang terakhirlah yang paling banyak. Seandainya mahasiswa tipe aktifis maka akan kita jumpai begitu maraknya kegiatan kemahasiswaan, setiap kegiatan peserta penuh. Namun tidak demikian yang terjadi. Ketika mahasiswa study oriented yang terbanyak maka akan kita dapati mahasiswa tepat waktu 80 % lebih dengan IPK 3,5 keatas semua. Sayangnya juga tidak saya temukan. Maka jika kedua tipe ini sedikit pasti tipe mahasiswa yang ketiga yaitu apatislah yang mendominasi. Itulah kiranya mengapa kegiatan-kegiatanmahasiswa sepi, Pemilu Raya Mahasiswa sedikit yang mencoblos, seminar yang membahas permasalahan bangsa lebih ramai panitianya.

Ironi memang ketika kita membandingkan dengan sejarah beserta pahlawan negeri ini dahulu. Bahkan negara ini tidak akan ada kedinamisan sama sekali ketika mahasiswa periode ’98 lebih banyak yang apatis. Tidak perlu jauh-jauh mencari contoh, bahkan orang tua kita berkorban bukan untuk diri mereka namun untuk kita, anaknya. Tidak tau mengapa begitu ’egois’ kita berfikir dan bersikap. Pernyataan ini bukan untuk mendiskritkan mahasiswa tipe ke tiga ’jelek’ dan mahasiswa tipe pertama dan kedua lebih ’baik’. Namun lebih kepada analisa mengapa ini terjadi disebagian besar bahkan mungkin mahasiswa negeri ini. Sebuah keberanian untuk keluar dari zona aman dan berfikir menurut sudut pandang yang lebih luas harus senantiasa kita mulai dari diri pribadi masing-masing. Semangat untuk menjadi bermanfaat tidak hanya pada dirisendiri tapi lebih kepada lingkungan yang lebih luas harus senantiasa kita kedepankan. Setidaknya mari berbuat untuk menoreh tinta ketika orang lain menyebut nama kita ada sepercik kebaikan yang terucap. Dibutuhkan peran serta aktif dari semua pihak untuk bangkit dari masalah yang mendera negari ini. Dan peran serta itu akan lebih nya jika dimulai dari mahsiswa dan pemuda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 1, 2008 by in [Opini] [Reportase] [Analogi] and tagged , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: