9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

‘pekerja’ peradaban


Mencari kebenaran benar-benar membutuhkan kesabaran ternyata. Apalagi sebuah keyakinan, perlu sebuah perjuangan. Sebuah kebahagian tersendiri bagi saya yang lemah segalanya diberi kesempatan merasakan literature dengan kenyataan. Semua berawal ketika dulu masih “jaim” (istilah temen –temen yang berarti jaga image) di BEM Farmasi. Malam itu seperti biasanya belum pulang ketika semua mahasiswa Farmasi sudah keperaduan dan menikmati semua buku kefarmasian. Aku masih di kampus menyelesaikan yang tertunda (wuehh..). Ba’da sholat isya’ di mushola Farmasi berukuran 4 x 4 meter, tidak terlalu besar memang tapi cukup bersih dan mempunyai sejarah dan perjuangan yang dalam. Saat memakai sepatu di kursi kayu timur mushola dating kawanku juga duduk disana selesai shlat juga kelihatannya. Tanpa aku duga dia memulai bertanya kepedaku tentang masalah keorganisaian di Farmasi, hingga kemudian bertanya ke masalah perbedaan harokah. Dia menanyakan hal-hal tersebut karena melihatku sebagai mantan ketua SKI Farmasi dan saat itu menjabad ketua BEM Farmasi. Sehingga dia beranggapan aku punya andil mengatur keorganisasian yang ada di Farmasi. Awalnya aku mengangap dan menjawab biasa saja. Tetapi semakin lama tak terasa semakin dalam. Hingga ia bertanya tentang perbedaan manhaj antara temen-temen tarbiyah dengan HTI. Mulai dari hadist ahad sampai siksa kubur. Aku mencoba menjawab sebisaku. Namun seolah dia sudah mempersiapkan semua jawaban balik dari semua jawabanku. Hingga pada suatu titik akhir aku tidak bisa menjawab. Dan aku memilh untuk mengakhiri perbicaraan itu.

Aku tidak habis pikir dengan semua pertanyaan itu, malamnya aku susah tidur. Memikirkan dan mencari semua jawaban pertanyaan yang tidak bias kujawab. Aku membuka Riyadhus sholihin, situs ikhwan, e book, dan semua buku yang kupunya dan kawan-kawanku punyai. Alhamdulullah aku menemukan ‘kekuatan’ kembali. Semua pertanyaan yang mengganggu pikiranku tercerahkan kembali. Namun semuanya belum berakhir disana, ada satu pertanyaan dari diriku sendiri yang belum terjawab saat itu. Bagaimana aku kok gak bias menjawab pertanyaan- pertanyaan yang sebenarnya sepele seperti itu. Bagaimana dengan adek-adekku yang lain? Terkadang aku menepisnya. Mungkin adek-adekku yang ngaji lebih huebat dariku. Aku saja yang kurang baca. Tidak berhenti disana, aku masih saja mencari dan bertanya kepada kakak angkatan atas pertanyaanku tersebut. “Mengapa mereka begitu handal berdiskusi, berdialoq sedangkan kita lebih bisa mengerjakan intruksi tanpa bisa memahami lebih dalam?”. Dari semua jawaban yang diberikan mas-mas dari angkatan atas, ada satu hal yang menusuk dalam bagiku. Saat itu beliau mengatakan “ Ya jelas saja seperti itu, karena memang kita dilatih dari ‘kecil’ hingga ‘dewasa’ untuk ‘bekerja’ dan ‘bekerja’ karena memang kita pekerja sedang mereka memang dilatih untuk menjawab dan mempersiapkan jawaban terhadap kekurangan dan kejanggalan yang ada pada mereka. Tidak ada yang berbeda antara manhaj kita dengan manhaj yang diemban Rasulullah jadi tidak ada yang perlu kita perdebatkan atau cari ‘jawaban’ dari perbedaan tersebut karenan memang tidak berbeda”. Agak lama aku diam (maklum lagi telo –telat loading- hehe). Sejak saat itu aku agak tenang, paling tidak untuk beberapa waktu.

Bulan berjalan dan haripun berlari. Secara tidak sengaja aku menemukan ‘kekuatan’ kembali terhadap keagak tenangan beberapa bulan ketika aku membaca buku memoir Hasan Al Banna. Ada sebuah kisah yang unik menurutku. Pada saat akan didirikan sebuah masjid Ikhwan di Ismailiyah kota dimana merupakan kantor pertama Ikwanul Muslimin. Di pertengahan pengerjaan masjid mengalamai hambatan sehingga dihentikan pengerjaannya. Banyak sekali isu dan gunjingan dari masayarakat sekitar yang ada penyakit di hati mereka menganai hal penghentian pengerjaan masjid tersebut. Maklum saja karena dana dari pembangunan masjid tersebut ada yang dari sumbangan masyarakat. Hal tersebut membuat resah anggota –anggota ikhwan lalu mengadukannnya kepada sang Imam Hasan Al Banna. Mengetahui hal tersebut ada sebuah langkah yang tidak seperti biasanya dilakukan. Kalu dulu-dulu setiap ada isu yang tidak benar pasti segera bergerak kerumah-rumah dan warung-warung serta warga sekitar untuk mentabayaun. Tapi ini tidak. Beliau menginstruksikan untuk segera memesan batu pondasi masjid dan melanjutkan pekerjaan tanpa menggubris omongan-omongan warga. Batu- batu pondasi masjid sudah dipesan. Karena transportasi tidak bisa menjangkau sampai dekat pemangunan masjid maka seluruh anggota Ikhwan harus mengangkati batu-batu itu cukup jauh untuk sampai di tempat pembangunan masjid. Semua dilakukan dengan bersama-sama dan penuh keringat. Sekali lagi tanpa ‘menggubris’ semua perkataan warga. Dan ’ampuh’ ternyata. Tanpa perlu mentabayun semua isu dan gunjingan warga sekitar, semua omongan yang meresahkan tersebut hilang dengan sendirinya setelah melihat ’kerja’ dari para Ikhwan dalam membangun masjid. Mungkin itulah maksud kakak angkatanku bahwa kita adalah ’pekerja’ dan harus senantiasa ’bekerja’. Dan aku baru mendapatkannnya sekian bulan dari saat beliau mengatakannya.

Setelah membaca itu hatiku ’tenang’. Sekitar setengan tahun kemudian, tepatnya 1 bulan yang lau (he..he..) kelompok ngajiku silaturahim ke ustadz Ibnu Shobir di benowo.ada sebuah taujih yang mengena bagiku atau mungkin sebuah jawaban lanjutan dari pertanyaan-pertanyaanku setengah tahun lalu. Ketika itu aku bertanya tentang pertanyaanku yang sama pada kakak angkatanku setangah tahun lalu. Entah mengapa, tapi untuk meyakimkan. Seperti Ibrahim yang ingin melihat Rabbnya supaya tentram hatinya mungkin. Beliau memulai menjawab dari timbulnya fikrah –fikrah yaitu masa setelah Umar bin Khattab ra. Terlihat jelasnya pada konspirasi pembunuhan Ustman bin Affan ra. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Mengapa baru terlihat pada masa Ustman bin Affan ra? Apakah pada Rasulullah, Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra tidak ada? Beliau melanjutkan seberanranya mulai jamannya Rasulullahpun sudah ada tapi kalau jamanya rasulullah masih hidup bisa langsung diluruskan. Pada saat Abu Bakar ra dan Umar ra pun seberanya sudah ada tapi perbedaan itu tidak menjadi besar sebab sebagian waktu dan energi umat islam digunakan untuk bekerja, maka bisa kita lihat perluasan wilayah umat islam yang sangat pesat sekali. Maka ketika jaman setelah Umar ra kita baca disejarah kerja untuk memperluas atau ‘bekerja’ tidak banyak lagi. Sehingga ada energi dan waktu longgar yang tidak termanfaatkan. Dalam artian ketika waktu longgar dan kosong itu semakin banyak biasanya akan digunakan untuk berfikir yang ‘tidak-tidak’. Nah disinilah pintu perbedaan itu muncul. Maka sangat berbeda orang yang bekerja dengan yang tidak punya kerjaan. Lalu beliau menyitir surat An Nisa’ ayat 95 dibawah ini :

95. Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk[340] satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk[341] dengan pahala yang besar,

[340] Maksudnya: yang tidak berperang karena uzur.

[341] Maksudnya: yang tidak berperang tanpa alasan. sebagian ahli tafsir mengartikan qaa’idiin di sini sama dengan arti qaa’idiin Maksudnya: yang tidak berperang karena uzur..

Beliau mencontohkan, sepasang suami Istri sedang bertengkar. Kemudian datang tamu suami istri juga. Maka mau- tidak mau sepasang suami istri tadi harus menyambut berdua sebab tamunya suami istri juga. Sepasang suami istri yang bertengkar tadi juga harus bersikap rukun-rukun saja. Seperti itulah bekerja meniadakan perbedaan bahkan pertengkaran. Sebab semua energi terhabiskan untuk bekerja, sehingga tidak ada waktu dan energi untuk melihat perbedaan. Karena kita adalah ’pekerja’.

One comment on “‘pekerja’ peradaban

  1. faisol
    September 3, 2008

    terima kasih sharing info/ilmunya…saya membuat tulisan tentang “Tidur Ketika Khutbah Jum‘at, Mengapa?!”silakan berkunjung ke:http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/hidup-ini-memang-penuh-kelucuan.htmlsalam,achmad faisolhttp://achmadfaisol.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 5, 2008 by in [Moslem Corner] and tagged , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: