9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

An-Ndang


Aan dan Andang. Dua nama yang hampir mirip memang. Andang, ku ingat –inget kapan Allah mulai mempertemukan kita. Berawal di DKI saat itulah mungkin Allah mengenalkanku lebih dekat dengan sohib yang satu ini. Bahkan sangat dekat bagai saudara sendiri sekarang. Mungkin perkenalan yang lebih intens karena kita satu ngajian dengan Mas Anas saat itu. Pas aku jadi kabid Danus DKI dia menjadi salah satu tim Danus. Saat aku menjadi Ketua DKI dia kupercaya jadi Kabid MSC (Moslem Study Club), meskipun dia juga menjabat sebagai Menteri Kerohanian BEM Farmasi saat itu. Hingga saat itu aku merasa semua berjalan biasa saja. Namun saat aku dicalonkan jadi Ketua BEM Farmasi, aku tidak tau mengapa tapi mungkin disanalah Allah mengenalkanku lebih dekat dengannya.. Aku masih ingat, saat itu aku lebih banyak berdiskusi dan memperoleh semangat dan kekuatan darinya. Bahkan saat aku terpilih jadi Ketua BEM Farmasi dialah orang pertama yang kumintai pendapat sekaligus kuminta jadi Menteri Pengmas. Entah mengapa saat itu aku hanya memiliki satu kekuatan yang membuatku mampu menjalankan BEM ke depan yaitu dengan menggandengnya untuk masuk di BPHku. Dia menguatkanku saat kuragu untuk memutuskan kepengurusan BEMku. Sosok yang membantuku ‘melamar’ menteri-menteri BEMku. Seorang yang senantiasa membatuku dalam semua kegiatan BEM dari berfikir hingga membuang sampah-sampah yang berserakan. Setelah itu tak terhitung lagi sudah berapa banyak kegiatan, kenangan, perjalanan, haru birunya yang ku lewati dengan sohibku ini Menemani malam-malam merenungkan BEM disaat semua pengurus sudah diperaduannya. ‘Membentakku’ dengan kerja kerasnya saatku melamun dalam kegalauan. Hingga tak terasa banyak hal yang telah aku ceritakan padanya. Terlalu banyak malah, sebuah kebiasaan yang jarang aku lakukan pada semua orang yang dekat denganku. Di kampus ini yang kumerasa tahu tentangku hanya Toinx, Andang, Dayen, Kirwanto, Ferry, Arina, Faisal, Nurul. Sangat sedikit dibanding sekian banyak orang yang kukenal dan mengenalku.
Aan dan Andang. Arek-arek bilang kami bagai pinang dibelah dua (wakaka..). Karyawan farmasi lebih mudah mengingat nama Andang tapi lebih kenal aku sebagai orangnya. Jadi sering salah ngomong. Gara –gara itu aku jadi berfikir ulang, apa yang menyamakan kami atau apa yang bisa membedakan kami. Andang pake kacamata aku tidak. Aku suka berfikir konseptual andang taktis, yang terkenal dengan semboyannya saat mengerjakan sesuatu ”mending digarap dewe timbang loro ati”. Aku punya dua HP CDMA dan GSM lha Andang gak punya sama sekali. Dulu sempat punya tapi jarang bisa mbales sms trus Hpnya erroran gitchu. Pernah Hpnya ketinggalan 7 kali dan ketujuh kali itu selalu balik lagi. Hebat. Tapi sekarang dia kagak punya HP. Andang cumlaude sedang aku tidak tapi masih diatas 3 dikit. Dia lebih bisa membuat orang lain nyaman ketika berbicara dengannya ketimbang aku. Nah yang ini aku tidak tau mengapa, tapi menurutku temen-temen yang belum mengenalku agak sungkan atau canggung berbicara denganku. Jebolan anak DKI kale. Hehe. Andang obyek yang dikuyo-kuyo (dikerjai) saat kami berempat atau berenam ngumpul bareng, sedang aku bagian yang mengkuyo-kuyo. Aku gak suka pedas andang rajane, tapi lebih jago lagi dayen. Aku magetan dia madiun. Aku ’sopir’ dia yang kubonceng. Kata faisal ”yo mending awak kesel timbang dibonceng Andang” hahaha. Itu dulu saat Andang belum mahir pake motor. Tapi sekarang…podo wae wakaka. Dia selera makannya tinggi, bisa membedakan dengan jeli rasa masakan. Sedang daku yang penting bisa makan saat lapar itu sudah cukup. Aku suka olah raga sedang andang harus berkorban setiap hari pulang habis maghrib kalau tidak ingin diajak main futsal orang-orang rektorat di depan kostnya. Dia tidak suka olah raga blas., tapi kok ada –ada juga yang mengatai dia atletis. Atletis dari hongkong. Perumpamaan dia gak suka olah raga kata faisal lagi, ”kalo orang maen sepak bola berusaha merebut dan mencari bola dia malah lari jika bola mengarah padanya” Hahaha. Dan masih banyak lagi yang membedakanku dengannya.
Dibali keberbedaan itu tersimpan kesamaan yang tak tersengaja. Kami sama-sama mahasiswa ’kere’ tapi sering rebutan ntraktir saat makan bareng. Sama- sama belum punya pacar atau lebih tepat pacarannya abis nikah aje. Sama-sama suka traveling. Sama-sama suka kerja ngoyo. Aku berfikir keras untuk mencari kesamaan-kesamaan diantara kami. Dan susah sekali kutemukan. Ternyata lebih banyak menemukan perbedaannya. Tapi entah mengapa kumerasakan kenyamanan dipersahabatan ini. Merasakan pengertian di persaudaraan ini. Terlalu banyak yang kurasakan daripada yang bisa aku tuliskan. Sebab persahabatan hanya bisa dirasakan tanpa ada sebuah penjelasan kata. Tidak ada kata tidak untuk sahabat. Saat ia ’benar’ ataupun ’salah’. Mendukung sepenuhnya saat ia ’benar’ dan mendukunya dengan meluruskan saat ia ’salah’. Tapi itulah kami menjadi sahabat karib hingga kini, hingga ke surga kuberdoa. (21:00/7/2/08)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 8, 2008 by in [Yang Kukenal] and tagged , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: