9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Apa arti ‘kenangan’?

Lembar demi lembar aku buka, tiap nama beserta foto aku lihat tajam. Siang tadi aku kembali melihat buku kenangan waktu SMA kelas satu. Tak ketinggalan buku kenangan SMA waktu lulus. Ada banyak teman ternyata disana. Satu lagi yang gak mungkin ketinggalan, bahkan senantiasa aku buka setiap aku membutuhkan semangat. Adalah buku tulisan saudara-saudaraku kepadaku. Di buku kecil cover warna hijau itu terdapat saran, kritik, pendapat sohib-sohibku kepadaku. Dulu memang kami tukar buku untuk saling memberi pendapat dan kesan selama 3 tahun bertemen. Ketika membacanya aku seperti orang ‘gila’. Kadang tersenyum sendiri, sesaat kemudian terdiam, sedih. Seakan- akan aku masih SMA dengan segala kenangannya. Sampai disini aku bertanya apa arti kenangan?

Telpon buntutku yang penuh isolasi berdering. Tertulis jelas Pak omen –sohib baikku sekaligus ‘guru’ku di desa sejak aku kenal dunia masjid dulu- yang nelpon. Entah mengapa, pembicaraan yang paling singkat 15 menit itu selalu membawa suasana saat aku tegar menghadapi segalanya, saat aku dipaksa dewasa ketika masih belia, saat dimana harus mempertahankan persahabatan diatas segalanya, mengorbankan semua rasa demi terjaga semua saudara. Tapi Pak omen yang sekarang jauh berbeda, jauh lebih luar biasa. Membuatku bersemangat menerima nada panggil itu. Sebab membuatku bersemangat menjalani segalanya. Pak omen adalah kenangan dan kenyataan. Aku masih bertanya apa itu kenangan?

Pun ketika sekarang hamper 5 tahun kurang 1 semester aku kuliah. Kembali aku memberikan buku kecil pada sohib-sohibku. Meminta mereka menilaiku, menasehatiku. Seakan film kehidupan hamper lima tahun di Farmasi berputar dengan sendirinya. Ada semua rasa disana. Ada bermacam senyum di waktu itu. Bahkan sejuta macam haru mengarungi tiap waktu. Terlintas semua peristiwa, terlihat wajah-wajah luar biasa, terlukis puluhan episode cinta, terlintas kisah persahabatan disana. Duch saat ini semua wajah luar biasa itu melintas satu persatu. Memandangku dengan senyuman terkembang. Seakan berkata, ”Aku pernah mengisi lembar perjalananmu meski hanya sekejap mata” . Aku semakin ragu bertanya, apa arti kenangan?

Apakah kenangan seperti yang dirasakan rasulllah saat mengingat khidijah? Sebuah kenangan. Bahkan begitu dalam kenangan itu hingga beliau marah ketika Aisyah –istri kesayangan beliau- mengolok khadijah? Apakah kenangan adalah kekuatan yang menjadikan Taj Mahal berdiri kokoh? Apakah kenangan yang membuat Bilal bin Robah –juru adzan Rasulullah- tidak mau mengumandangkan Adzan ketika rasulullah sudah meninggal? Apakah kenangan adalah kekuatan yang menyebabkan Abu bakar dan Umar tegar dalam kezuhudan yang sangat saat menjadi khalifah? Apakah juga kenangan yang merubah sosok Aa’ Gym menjadi seperti saat ini? Apa arti kenangan?

Kan kusimpan pertanyaan ini dulu, dan kutanyakan pada sang waktu nanti. Saat aku mampu memberikan sesuatu pada kenanganku, saat aku mampu menjadi sesuatu untuk sahabat-sahabatku, saat aku mampu memenuhi harapan-harapan pada orang-orang yang menaruh harapan padaku. Ku ingin jika waktu itu tiba, aku mampu mendefinisikan arti kenangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 16, 2008 by in [Catatan Harian] and tagged , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: