9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Belajar dari Badar

Sejarah mencatat, peperangan pertama umat islam adalah perang badar. Sebuah perang yang dikehendaki Allah secara langsung. Sebuah peperangan yang kemudian Rasullah sampai berdo’a hingga jatuh sorban beliau. Bagaimana tidak, niat semula hendak merebut barang dagangan Abu Sofyan karena sebelumnya mereka telah merampas barang dagangan Abu Bakar ra. Tapi kemudian Allah berkendak lain. Rencana ini didengar kafilah dagang Abu Sofyan, lansung saja seribu pasukan kafir Quraisy datang dari mekah dengan senjata lengkap. Bisa dibayangkan? 300 orang tanpa persenjataan yang memadai harus menghadapi 3 kali lipat kaum Quraisy. Tapi disinilah Allah hendak ‘menguatkan’ kaum muslimin. Allah mengabadikan ini dalam Qur’an (QS 8:7). Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah[597] yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, [597]. Maksudnya kafilah Abu Sofyan yang membawa dagangan dari Siria. Sedangkan kelompok yang datang dari Mekkah dibawah pimpinan Utbah bin Rabi’ah bersama Abu Jahal.

Tapi justru di titik inilah sejarah heroik kaum muslimin dimulai. Dan Allah tidak akan membiarkan hamba-hambanya yang bertaqwa. Mari kita simak pertolongan yang Allah turunkan untuk kaum muslimin dalam melawan kafir Quraisy dan tentara syaiton.

QS. 8:9. (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”

QS. 8:11. (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu)[598].

[598]. Memperteguh telapak kaki disini dapat juga diartikan dengan keteguhan hati dan keteguhan pendirian.

QS. 8:43. (yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

Tidak cukup disini, bahkan Rasulullah sampai mengatakan bahwa surgalah jaminan bagi para tentara badar apapun yang mereka lakukan setelah peperangan tersebut (kecuali murtad). Subhanallah. Sehingga tidak heran, jika sahabat-sahabat yang paling disegani dan dijadikan rujukan setelah Rasullah meninggal adalah mereka yang ikut serta dalam perang badar. Mengapa? Karena mereka telah teruji. Sebab mereka menolong agama Allah disaat sebagian besar manusia saat itu memusuhi agama Allah. Mereka mengorbankan segalanya untuk agama Allah disaat semua orang mengorbankan seluruh hartanya untuk memadamkan agama Allah. Bisa fikirkan berapa jumlah kaum muslimin kala itu disbanding jumlah kaum kafir? Sangat sedikit. Tapi dalam kesedikitan, mereka tidak ragu. Maka apakah kita harus ragu pada Rabb yang telah menghidupkan kita ?

QS. 47:7. Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Apa yang akan terjadi jika kita ditolong Allah? Maka Allah menjawabnya dalam :

QS. 3:160. Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.

Disana ada syarat yang harus dipenuhi orang –orang mukmin, yaitu betawakkal pada Allah. Menyerahkan segala sesuatunya pada Allah semata setelah berusaha sekuat tenaga. Setelah merencanakan secara rapi segalanya. Setelah mengupayakan segala daya. Kemudian menyerahkan hasil akhir pada Allah semata. Sebuah renungan mungkin perlu kita lakukan. Sudahkah Allah senantiasa mengalahkan ’musuh-musuh’ kita selama kita ’berjuang’. Apakah musuh itu kemalasan, keterbatasan dana, pesimistis, cacian, rintangan atau musuh secara nyata yaitu syaiton. Jangan-jangan kita sendiri yang membuat Allah belum ’menolong’ kita. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Akhirnya mari kita renungkan ’perjalanan’ kita selama ini

QS. 29:2. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Wallahu A`lam Bish-shawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 2, 2008 by in [Moslem Corner], [Sirah Nabi] and tagged , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: