9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Belajar Cinta (2)


Lama sekali sebenarnya keinginan untuk menulis tentang Umar bin Abdul Aziz ini. Sebuah keinginan yang suapaya terwujud saya harus mencantumkannya sebelum membuat untuk menguatkan azzam. Makanya saya tuliskan keinginan itu pada seri belajar cinta bag 1. lahir pada tahun 60 H, satu tahun setelah Muawiyah meninggal.
Berbicara mengenai umar, sebenarnya kita sedang membicarakan cicitnya Umar Ibnu Khattab, salah satu sahabat Rasulullah yang luar biasa. Menantu Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Sosok yang sebelum menjabat menjadi khalifah pernah terlambat sholat berjama’ah gara-gara menyisir rambutnya, namun berkebalikan 180 derajat ketika menjadi khalifah yang hanya mempunyai satu baju saja. Seorang yang besar rasa takutnya pada Allah sehingga menjadi sebuah kebiasaan ketika sehabis sholat isya’ di masjid ia merenung sambil menangis hingga tertidur dan terbangun sholat tahajud sampai subuh tiba. Seorang peminpin yang hanya memerintah 29 bulan dan meninggal diusia 39,5 tahun. Namun diusia mudanya dan sesingkat pemerintahannya telah membawa kemakmuran yang dasyat, hingga semua penduduk tidak mau lagi menerima zakat karena telah berkecukupan. Seorang khalifah yang kematiaanya tidak hanya ditangisi kawan namun juga sampai kaisar romawi saat itu ikut bersedih.
Belajar cinta dari keluarga Umar maka tidak akan terlepas dari Istri, serta anak-anak beliau. Tidak pula dapat memilah dari keutuhan keluarga ini untuk tetap bersama di dunia hingga ke surga. Masa-masa sebelum menjadi khalifah tidak akan kita bahas karena disana Umar hidup dalam ketentraman, namun yang akan kita bahas dimana Umar diamanai urusan Umatnya Muhammad yaitu ketika menjadi khalifah. Banyak sekali pelajaran cinta disana, tidak sedikit kisah cinta disana. Ketika pertama diangkat menjadi khalifah, hal pertama yang ia lakukan adalah membersihkan segala harta yang ia miliki yang disana diduga ada hak kaum muslimin disumbangkan ke baitul mal. Ada sebuah dialog cinta suami istri yang serasi disana, Fatimah binti Abdul Malik mempunyai permata yang tiada bandingannya, pemberian bapaknya. Umar berkata kepadanya, “Pilihlah satu diantara dua pilihan, kamu mengembalikan perhiasan itu ke baitul mal atau kita berpisah?” Fatimah menjawab, “Aku memilihmua daripadanya, dan dari semisalnya meskipun berlipat lipat”. Semasa Umar meninggal dan Yazid menggantikannya. Dia berkata kepada Fatimah, “Jika kamu mau aku akan mengembalikannya kepadamu”. Dengan Tegas Fatimah menjawa, “Tidak, demi Allah. Semasa hidup aku tidak menginginkannya, bagaimana mungkin aku memintanya kembali setelah kematiaanya”. Dari segi kepemilikan sebenarnya perhiasan itu sah milik Fatimah, namun karena kehatian-hatian Umarlah harta itu dikembalikan. Mari kita liaht lebih dalam kisah ini. Mengulang-ulang kisah ini maka teringat bagaimana tepatnya Allah memilihkan Khadijah sebagai Istri Rasullah untuk mendampingi masa Awal-awal da’wah beliau yang penuh tekanan dan kesusahan. Begitupun Fatimah yang mampu mengimbangi Suaminya, saling menyokong satu sama lain. Dan memang begitulah sebuah cinta, tidak ada pembatas harta disana. Senantiasa berorientasi jauh kedapan hingga menembus batas kehidupan untuk mengharap surga bukan dunia. Bahkan meski sang sang Suami telah tiada kenangan cinta itu tak akan memudar.
Tidak hanya kepada sang Istri kecintaan itu, juga kepada anak-anaknya. Suatu ketika Umar membagikan apel dari harta fai’, lalu salah seorang anaknya yang masih kecil mengambil satu dan memakannya. Umar lantas mengeluarkan apel itu dari mulutnya dan memukulnya. Anaknya mengadu pada Ibunya sambi menangis, kemudian sang Ibunda membelikannya apel di pasar. Ketika Umar pulang ia mencium bau apel, bertanya Umar pada Istrinya, “Fatimah. Apakah kamu mengambil sesuatu dari harta fai’? kemudian fatimah menjelaskan. Umar berkata, “ Demi Allah, aku mengambil dari anakkku seperti aku menariknya dari hatiku, akan tetapi aku tidak ingn menyia-nyiakan bagianku disisi Allah hanya kaena sebuah apel dari fai’ kaum muslimin”. Suatu ketika sehabis sholat isya’ umar pulang kerumah menemui putri-putri beliau, ketika melihat kedatangan umar, putri-putri beliau berhamburan pergi ke kamar. Kejadian tidak biasa itu ditanyakan kepad pengasuh putri-putrinya, “Ada apa dengan mereka?” dijawab oleh pengasuhnya,” Mereka tidak mempunyai makan malam kecuali kacang adas dan bawang merah, mereka tidak ingin engkau mencium bau mulut mereka”. Mendengar itu Umar menangis. Kemudian berkata, “Duhai Putri-putriku, apa gunanya kalian makan-makanan yang lezat tetapi ayah kalian digiring ke Neraka” mendengar itu ikut menangislah putri-putri beliau. Tidak hanya kepada anak-anaknya, bahkan kecintaan beliau sampai kepada calon anak-anaknya juga. Pada masa pemerintahannya Umar membangun rumah makan untuk fakir miskin dan ibnu sabil. Suatu ketika Umar mendapati pelayannya membawa segelas susu dari rumah makan itu. Umar bertanya, “Apa ini?” Dijawab oleh pembantunya, “ Istrimu, seperti yang enkau ketahui sedang hamil, ia ingin susu. Seorang wanita sedang hamil jika mempunyai keinginan tidak dituruti ditakutkan janinya akan keguguran. Karena dirumah tidak ada susu sama sekali aku mengambil dari rumah ini.” Kemudian Umar membawa pelayannya menemui Istrinya seraya berkata, “Kata pelayan ini, bahwa yang bisa menjaga janinmu adalah makanan fakir miskin. Jika memang begitu semoga Allah menggugurkannya.” Istrinya berkata kepada pembantunya, “Kembalikan saja susu itu, Demi Allah aku tidak akan meminumnya”. Mari kita lihat disana, Kekuatan seorang Istri mendampingi suaminya. Ketegaran seorang suami menjaga keluarganya dari api neraka. Mengasuh buah hati mereka untuk kehidupan yang lebih mulia. Sekali lagi betapa serasi sepasang hamba Allah ini menjalani kehidupan dan memebri contoh kehipan untuk menjadi panutan. Tanpa ada rasa cinta diantara keduanya kepada Allah dan kehidupan Akherat mustahil mampu bertahan menjalani penjara dunia sementara. Bahakan sangat singkat saat menjabat khalifah. Hanya 29 bulan. Tapi demi Allah kekutan keserasian cinta itu akan membuahkan InSyaAllah keabadian di surga.
Suami, Istri dan Anak adalah keutuhan cinta yang harus mampu saling melengkapi di kala kekurangan, saling menyokong dikala cobaan, saling menghibur dikala kesedihan, saling menyemangati dikala keputusa asaan, saling mengingatkan dikala kealpaan, saling menjaga dikala ketakutan. Cinta harus mempunyai orientasi jangka panjang. Bukan hanya didunia tujuannya tetapi kampung akherat. Tanpa ada kesamaan misi ini akan terseok-seoklah cinta itu menjalaninya. (saat – saat galau menuju ke bulan)

2 comments on “Belajar Cinta (2)

  1. Shakadal
    March 25, 2008

    See please < HREF="http://xp-protect-2008.com/" REL="nofollow">here<>

  2. Dumuro
    April 5, 2008

    SECURITY CENTER: See Please < HREF="http://xpenprotect.com/" REL="nofollow">Here<>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 25, 2008 by in [Moslem Corner], [Opini] [Reportase] [Analogi] and tagged , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: