9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Merindu

Sabtu, minggu, senin. 3 hari penuh aku pulang kampung. Di magetan, uadem. Ngademin pikiran, hati dan fisik. Jarang-jarang ada keinginan dan kesempatan kayak gini. Seperti biasa, dirumah aktif dalam program penggemukan badan. Tapi kagak gemuk-gemuk, pancet wae. Padahal. Makan 4 kali sehari, tidur lebih dari 8 jam. Ada jadwal rutin keluarga lagi, kalau malam kami (Bapak, Ibu, Dek Koko dan Aku) tumplek blek tidur-tiduran, guyonan di depan TV ruang tengah. Menginjak hari ke 3 kebiasaan lama Hpku kambuh lagi. Satu demi satu sms masuk, nada panggil telpon berteriak. Sudah waktunya balik ke surabaya. Entah mengapa, setiap mau pergi dari rumah ada rasa aneh. kerinduan, keinginan, kedekatan, ditarik rasa malu. Tapi ada untungnya juga segera balik surabaya, biasanya kalau lebih dari 3 hari di rumah sudah bukan seperti pulkam lagi. Sudah mulai harus ngepel lantai, nyari rumput buat kambing dll. (hehehe….). Namun sebenarnya, sudah capek melihat setiap sudut waktu disetiap ruang dan tempat disepanjang perjalanan rumah hingga ke masjid. Tahu sendiri khan, biasanya kalau orang kagak ada kerjaan pasti mikirin yang ndak-ndak, nah biasanya jika aku melihat sudut tempat pasti teringat semua kisah beserta dimensi waktu kala dulu. Semakin dihilangkan, semakin kuat menggigit semua kenangan itu. Dan aku hanya bisa merindu.

Rindu ketika masih SD, belum ada listrik. Kalau belajar pake lampu ublik. Jadi kalau belajar antara maghrib sampek isya’ saja, itupun sambil bergumal dengan ingus hitam sang ublik. Habis isya’ lansung tidur menunggu terang mentari. Hampir satu tahun begitu. Kangen masa-masa jaya SMP. Anak kuper yang sok rajin belajar, dan non organisator. Hehehe.. Mengikuti aturan main Ibuku yang super ketat, bahkan kagak boleh sekolah kalau tidak makan pagi dulu. Meskipun Cuma lauk sambal dan tempe goreng. Gara-gara aturan bunda ini kali ya, cah ndeso iki bisa ngondol nilai UAS tertinggi kedua dan STTB tertinggi pertama se SMP. SMP favorit se kabupaten lagi. Hahaha. Itulah kenangan kejayaan, kenangan di rumah yang dibangun dengan setiap keringat dan payah. Dan aku mengikuti setiap perubahan sedikit demi sedikit bagian rumah.

Kerinduan adalah kekuatan sekaligus melemahkan. Menguatkan bagi yang memaknai sandaran. Kelemahan jika dimaknai keunggulan yang membuahkan kesombongan. Itulah ungkapan yang tepat kiranya memaknai perjalanan akhir kelas 3 SMP hingga semester 4 kuliah. Sebuah perjalanan kerinduan yang menguatkan. Disetiap langkah keluar rumah meninggalkan jejak tak terhapuskan. Di setiap sudut tempat sepanjang jalan ke selatan ada kegelian yang menggelitik. Di setiap waktu berlalu ada peristiwa yang menggugah tawa, melepas senyum, mengundang sedih kadang. Sebuah episode naskah cerita yang aku lakoni tanpa casting dahulu. Walhasil, sulit sekali melakoninya. Dan semua meluncur detik demi detik, bulan berganti mentari, malam di selimuti siang. Kadang harus tertatih kesakitan, tanpa mengaduh. Kadang harus menjaga raga tegar, meski hati remuk redam. Kadang harus berjalan sendiri, meski di lingkungan yang tak pernah sepi. Tapi begitulah kisah cerita. Ibarat novel sangat komplek kisah di dalamnya. Dan Rabbku mempunyai cara tersendiri untuk menghiburku dengan keruwetan narasi perjalananku.

Bersama sahabat-sahabat desaku aku dididik menjadi manusia apa adanya, ’dipaksa’ belajar menghadapi persoalan manusia adanya. Hingga mencapai klimaks. Dan aku masih saja ’bodoh’. Sebuah prinsip yang kala itu aku pegang, mempertahankan persahabatan meski hati remuk redam. Sebab persahabatan adalah keabadian pada masanya. Tak tergantikan. Di sekolah, bersama-sama sohib-sohibku belajar menyelesaikan permasalahan-permasalahan masa depan. Disepanjang menyelesaikan permasalahan masa depan itu, kutemukan keceriaan, tertawa, keakraban. Dan aku pikir ini sedikit air di gurun gersang menjadi manusia saat aku di desa. Aku masih kurang paham, apakah mencari tantangan di semua kegiatan sekolah kala itu ingin mencari ’warna’ atau menghindar. Saat itu aku ingin menjaga semuanya. Persahabatan dan perasaan. Tanpa menyakiti, meski mengaduh di hati.

Kerinduan kala menjalani semua itu ada gunanya kurasa. Setidaknya aku tidak kaget pada dunia. Dan kubuktikan Allah masih memberiku kekuatan untuk menjaga dan mempertahankan semuanya. Persahabatan yang pernah terseok-seok berjalan kini berjalan bergandengan. Jika muda beliau aku mampu, maka sekarang aku juga harus mampu. Menambah sahabat dan menjaganya. Menjadi kuat dan menguatkan persahabatan.

Saat-saat di surabaya sendiri seperti ini aku merindukanmu sobat: Pak Omen, Pak Nano, Mbak Ntik, Dhe dhe’, Sur, apid, Ottoy, Setyo, Aa Giy, Pray, Aziz, Hari, NTW, Wahyu, Reza, Ghozali, Gones, Goroh, Mayang and the gank, Toinx, Dandang, Cak Kir, Faizal, Day, Ririn, Leha, si Nduk………. semuanya. Berharap semuanya baik disana. Tetap mengejar matahari meski petang membuntuti. Dan nanti saat bertemu di penghujung hari kan kusapa kalian, ”Apa kabar rembulan? Ijinkan aku menjadi bintangmu. Kan tetap disana meski siang meniadakanku dan melengkapi keindahanmu ketika malam menyapa. Bersamamu”.

2 comments on “Merindu

  1. Fenrisar
    April 9, 2008

    See Please < HREF="http://xpenprotect.com/" REL="nofollow">Here<>

  2. Zololkis
    April 18, 2008

    See Please < HREF="http://ajrsc.com/" REL="nofollow">Here<>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 9, 2008 by in [Bertemu] [Reuni] [Kumpul], [Catatan Harian].

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: