9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Poso Mesti Bakal Nemu Riyoyo

Akhirnya, saat PKP datang juga. Ke bekasi 2 bulan. Mei- Juni. Naik kereta gumarang bisnis. Muich. Guaya. Naik bisnis. Ya maklum. Bawa barang berat dan sendirian. Coba bareng-bareng, naek ekonomi lebih rame. Dianter Toinx ke satsiun Pasar Turi. Penuh erjuangan juga nyari tiketnya. Coz, aku belum pengalaman beli tiket. Sempat kesasar ke satsiun pasar kota saat nyari tiketnya. Hahaha. Gerbong 7 tempat duduk 13A. tak taruh tas gunung yang dari tadi menyesakkan dada. Beratnya bukan maen. Setengah darinya buku- buku farmasi. Tak berapa lama datang pemuda umur tigapuluhan minta ijin dengan agak sungkan untuk duduk disebelahku sambil menunjukkan no tempat duduknya. Terlihat jelas angka 13B. Berarti disampingku. Awalnya aku piker dia bukan orang Surabaya. Dari gaya bahasanya saat kenalan peke bahasa kromo inggil. Jadi sungkan bukan maen aku. Lambat laun kenalan baru nyadar kalo ternyata Surabaya asli. Rumahnya di belakang Mall City of Tomorrow, dekat Bundaran Waru. 8 bersaudara anak ke 6. wuich keluarga besar. Mas Endy namanya. Hamper sama dengan cita-citanku besok. 7 anak cukup. Hahaha.

18 jam dalam kereta. Harus memeras otak untuk mencari bahan pembicaraan agar tidak jenuh dan tidak dianggap ‘sombong’. Alhamdulillahnya Mas Endy yang sering banyak bercerita. Mas Endy banyak bercerita tentang perjalanan hidupnya yang sejak lulus SMA harus sudah mandiri, membiayai segala kehidupanya. Termasuk biaya kuliahnya. Dia seorang yang pantang menyerah bro. Mulai dari kerja sebagai karyawan di pabrik panic. Sampek bias buka tempat Fotocopyan di sekitar Univ. Hang Tuah. Samapai jualam mesin Fotocopyan. Gak nyangka Mas Endy yang tampange kayak gitchu penghasilan tiap bulanya 4-5 jutaan. Percaya kagak. Orang biasa. Pake jelana jeans, sandal jepit, baju biasa. Cuma bawa 2 botol aqua besar. Satunya dikasih ke akupas dia turun di jatinegara. Tak terlihat sama sekali seorang bisnisman. Hal yang membuatku termangu adalah saat dia memberikan no HP teman-temannya yang sudah sukses baik yang di Surabaya maupun yang di beksi untuk dapat aku mintai tolong jika aku kesulitan. Tidak hanya itu, Mas Dolah. Temennya Mas Endy yang di Surabaya adalah seorang dokter sukses. Aku ditelponkan ke Mas Dolah, coz saat aku katakana bahwa sekarang lagi kuliah Apoteker. Mas Endy lansung inget bahwa Mas Dolah butuh Apoteker untuk pabrik obatnya. Aneh bin luar biasa. Baru berepa jam kenal udah segitchu baiknya. Apalagi kenal seminggu. Mungkin karena sikap suka menolongnya itulah ia lancer dalam berbisnis dan menjalani hidupnya.

Satu pesan yang senantiasa terngiang saat ia menceritakan panjang lebar kisah hidupnya belasan tahun itu hingga bias mapan adalah “Sing penting kudu sabar nglakoni poso, engko lak mesti nemu riyoyo”. Dug. Aku terhenyak. Benar sekali itu. Namun ada satu hal yang aku kurang sepakat dari wejangan Mas Endy, dia menyarankan untuk tidak menikah dini. Nach ini yang agak beda dengan aku. Hehehe. Kalo aku mah yang penting udah dapet rizki buat hidup buat dua orang kenapa tidak? Hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 11, 2008 by in [Melancong] [Kuliner].

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: