9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Simple Life, Big Heart

Dari sekian banyak sohibku yang ada disekitar Jakarta dan Bekasi yang aku hubungi, termasuk familyku. Yang memberikan semangat membantu yang sangat adalah Pak Omen. Daerah Jakarta Utara. Kapuk Muara gang Langgar. Gak apa-apa. Yang penting hati tentram. Pemberhentian terakhir dari kereta Gumarang yang kunaiki adalah stasiun Gambir. Disana Pak Omen akan menjemputku. Gambir, stasiun yang dulu pernah aku sambangi meski hanya transit karena mau ke Bogor. Mengikuti acara Ismafarsi ketika masih muda dulu. Tapi kagak tau seluk beluknya, apalagi ini sudah 2 tahun lebih. Ada rasa takut awalnya, maklum belum mengenal daerah situ. Jleg. Turun juga dari kereta akhirnya. Buru-buru aku mengikuti arus manusia yang banyak, pasti mereka menuju pintu keluar. Pak Omen menunggu di depan masjid deket pintu keluar. Nyampek pintu keluar, seperti biasa banyak orang menawarkan jasa angkutan. Aku berhenti sambil menoleh kekanan kekiri mencari sesosok manuasia penolongku. Sesekali sambil meladeni orang-orang yang menawarkan jasa kepadaku dengan senyuman dan kata “tidak”. Terlalu lama. Akhirnya aku telpon. “Pak. Dimana ente?”… percakapan singkat berlanjut. Tak erapa lama sosok yang kunantikan nongol dari belakangku. Masih sama seperti setahun yang lalu. Maklum kita ketemu setahun sekali pas Idul Fitri biasanya. Jenggot tipis, senyum manis, sederhana, energik, dan loyal membantu. Bayangin aje dia harus naik 3 kali untuk nyampek di gambir. Fiuch lega jiga akhirnya. Transportasi pertama yang kunaiki Bus Way. Beli tiket 3.500,- per orang menuju ke Halte stasiun kota tapi transit dulu di Halte Harmoni. Aku juga kagak begitu paham. Kata Pak Omen gitchu. Tsiqoh aja dech aku. Pundakku mulai terasa sakit, membawa tas gunung yang buerat itu. langsung digantiin Pak Omen. Hehaha. Meski gak ngomong berat, tapi dari raut mukanya dia kagak nyangka kalo ternyata memang berat. Dasar. Masih sama seperti dulu.

Perjalan setengah jaman naik Bus Way dengan AC. Tak terasa sudah nyampek Halte Sasiun Kota. Masih Pak Omen yang membawa tas. Gak tega juga, akhirnya aku gantikan. Keluar dari Halte disana banyak pilihan kendaraan. Mulai dari Elf (istilah Bison di Jakarata), Line, sampai Bajay. Melihat barang bawaanku yang buerat. Pak Omen memilih Bajay. 12 ribu sampek depan gang langgar. Jauh juga ternyata. Setengah jaman. Sepanjang jalan aku di jelasin panjang lebar tentang macem transportasi ma daerah serta gedung-gedung sepanjang perjalanan ke arah gang langgar. Dan aku hanya bias mengatakan “iya” atau mengangguk setuju. Lha piye maneh lha wong gak ngerti lor kidul. Hehehe.

Nyampek juga di depan gang. Tertulis jelas “Gang Langgar”. Wuich ternya masih jauh masuknya. Mana sempit juga gangnya. Hanya cukup untuk 2 orang berjajar. Lha. Lebih kaget lagi, ternyata kontraanya masih ujung. Deket sungai. Masuh pintu kecil, menyusuri lorong cukup buat seorang menuju lantai 2. di kamar menghadap jalan berukuran 3 kali 3 meter itulah aku menaruh tas beratku. Brug.. aku langsung tepar. Dikamar itu dihuni 3 orang kadang 2 orang. Sebab yang ada di kontraan itu 5 orang anak yang sedesa denganku. 6 orang sebenarnya, tapi yang seorang sekamar sendiri. Jadi cah-cah ngontrak 2 kamar untuk 5 orang. Aku tidur di kamare Pak Omen. Kamar berlantai alas plastic, 3 bantal, 3 almari, segalaon air, sebidang cermin, tape tua, setumpuk kaset tape. Simple sekali. Kalo mandi di lantai satu ada 2 kamar mandi sempit dengan closednya tapi yang satu rusak jadi Cuma bias buat mandi. Pake airnya pun juga harus hemat, ada wadah sisa cat dinding yang diluangi bawahnya buat wudhu. Jadi kalo wudhu naruh air dulu ke dalam wadah itu. sisa air di kembalikan ke bak besar untuk digunakan kembali. Kamar Pak omen tidak ada TVnya, Cuma tape yang ada radionya. Dia kagak suka TV jadi hiburannya dengerin kaset atau radio Dakta 107 FM. Sama seperti radio yang aku dengerin saben hari di bekasi. Sampai hafal jadwal siarannya.

Nach kalo makan, di depan kontraan mereka tepat julan nasi plus lauknya. Orang jawa, tetangga desaku di magetan. Unuknya disini. Kalo mereka makan mereka tinggal nyatat habisnya berapa di buku bon masing-masing orang. Nah pas gajian baru mereka bayar. Bayarnya pun gak lunas biasanya cuma setengahnya. Begitupun kalo pas waktunya bayar kontraan, kalo yang satu belum gajian atau kagak punya uang buat bayar yang lain yang mbantu bayar. Di kontraan itu yang paling tua Pak Omen. Dan dialah yang ‘bertanggung jawab’ terhadap ceh-cah bangsri yang ada disana. Jadi saben pagi semua pasti dapet ‘ceramah subuh’. Entah karena baju kagak di setrika, bangun belum sholat subuh, gak buruan mandi, baju belum di cuci, barang berserakan, nggak nabung sama sekali seminggu dll. Hahaha. Lucu juga. Cerewet. Tapi itulah Pak Omen. Yang menginginkan kebaikan untuk teman-temannya.

Di balik itu semua, Pak Omen adalah Pak Omen. Pria terbaik yang kukenal, meski terpaut 4 tahun diatasku. 2 hari dikontraannya aku belajar banyak hal dari hidup dinegeri orang. Aku diajak ikut pengajian Aa’ Gym. Diajak ke sana- kesini. Di kenalkan dengan ketua DPRa di sana. Banyak. Dan sepanjang perjalanan itu kami sering berebut untuk mbayarin angkotnya. Bahkan saat makan atau sekedar belie s juice. Kalo hari minggu biasanya ke masjid Wali Songo. Disana ada pengajian rutin dan buku-buku murah. Seperti minggu kemarin aku diajak kesana. Dan dia adaah kakak yang perhatian. Bahkan ketika sudah nyarikan kontraan di bekasi, masih saja menkhawatirkanku. “ojo lali, lawange dikunci, sandal dilebokne, donga, karo ngubungi kancamau sing cedak kono”. Itulah kira-kira bunyi smsnya saat aku sendiri di kontraan di bekasi malam pertama. Hiks hiks.

One comment on “Simple Life, Big Heart

  1. Pingback: Pak Omen Pulang Kampung, « 9ethuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 11, 2008 by in [Yang Kukenal] and tagged , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: