9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Belajar Investasi dari Babe

Kwintang. Ya sebuah kawasan di dekat pasar senen. Siaapun yang gemar hunting buku murang pasti tau daerah itu. 1 minggu yang lalu, tepatnya pada saat tingkat kejenuhan di Bekasi memuncak aku ke Jakarta. Maen ke tempat Pak Omen. Lhah ternyata Pak Omennya kagak masuk kerja gara-gara sakit. Walah piye tho iki, tukang bekam kok malah loro. Hehehe.. ya akhirnya ‘ngrawat’ sohibku dulu. Bukan ngrawat sih tepatnya. ‘memarahi’ dan ‘mencerewti’ agar jangan terlalu menuriti perasaan tanpa logika. Bayangin aja, kerjanya berhadapan dengan mesin-mesin panas, eh pagi kagak makan dulu. Parah khan, pantes wae sorenya tepar.

Jum’at malem aku nyampek Jakarta, setelah menempuh 3 jaman perjalanan. Minggu pagi Pak Omen wis baekan, dan lansung saja kami ‘ngacir’ ke daerah kwintang. Dari teluk gong naik metro mini 83turun grogol. Oper metromini lagi P 157 turun pasar senen. Daro gerbang pasar senin kami menyusuri jalan bekas penggusuran PKL. Wuich “puesing buanget pooll jian wis”. Aku agak lupa pokonya nyebrang dua kali nyampek dikawasan dimana banyak berjajar penjualan buku-buku rejectkan dari pabrik, buku-buku lama. Dari sekian banyak penjual pak omen bilang ada penjual langganannya yang ‘terpercaya’. Apalagi bagiku yang mau berburu buku sejarah ma biografi islam.

Setelah menyusuri jalan penuh penjual nyampek juga di ujung penjual. Dekat dengan masjid walisongo, tempat pengajian rutin mingguan. Di masjid itulah biasanya Pak Omen ikut kajian tiap minggu. Di atas masjid itu ada took buku islam dan tempat seminar di lantai 3nya. Tiap minggu pasti ada seminar gratis. Seminar tentang keislaman tentunya. Wah pokoke nggarai iri thok. Iri pengen di Jakarta. Hehe. Back to topic.

Nyampek di tempat penjual yang dibilang Pak Omen, terhampar buanyak buku di depan kami. Langsung saja aku browsing buku yang kucari, sesekali bertanya pada bapak yang jual. Atau lebih tepatnya mbah kali ya. Umurnya 60 tahunan kalau dilihat dari suara dan fisiknya. Tapi masih semngat untuk sekedar ‘mengobrak abrik’ bukunya mencarikan buku yang dimaksud pelangganya. Aku mencari siro daulat bani ummayah, abbasiyah, dan turki ustmani. Kelanjutan dari buku yang telah aku baca. Penerbit bulan bintang. Semua buku itu cetakan lama. Rata-rata dibawah tahun 80an. Kertasnya saja kusam. Lama mencari tak kutemukan satupun. Tapi justru menemukan buku yang lain yang membuatku tertarik. Semuanya dari bulan bintang. Ada “Humanisme dalam Islam”, “Peran keluarga rasulullah dalam menat perdaban dunia”, ada “Kisah Tragedy Karbala”, ada juga “Iman dan Kedupan”nya Yusuf Qordawi. Semuanya kusabet. Lama juga mencarinya, hamper satujaman saking banyaknya koleksi buku si Mbah yang menjual. Dan sesekali si mbah menawarkan buku padaku penerbit bulan bintang juga. Dari logatnya, aku berbisk pada Pak Omen “ kayaknya orang Malaysia ya Pak?!”. “Duduk, Babe dari Aceh”. Total ada 6 buku yang rencana aku beli, 3 diantaranya karangan Syeikh Yusuf Qardawi. Pak Omen juga dah dapet buku yang dicarinya, kebanyakan maslah akhlak, tapi ia juga membeli Asbabul Wurud hadist jilid ke dua guna melengkapi jilid pertama yang sudah ia beli. Dari 3 buku yang ia beli (tebel-tebel dan baru lho) pak omen kenan 35 rb. Lansung dibayar ma Pak Omen. Begitu dimasukkan ke dalam tas plastic. Tangan si Babe mengambil satu buku lagi dari koleksinya dan langsung dimasukkan saja k etas plastic Pak Omen. “Bonus dari Babe, sudah biasa” kata Pak Omen padaku.

Tidak pada kami saja ternyata, kulihat sesaat Babe juga memberi bonus pada pembeli yang lain. “Tidak semua pembeli dikasih bonus, ‘mata’nya Babe itu ‘cerdas’ melihat seseorang. Hehe” kelakar Pak Omen melihat hal yang dilakukan si Babe. Kini giliranku membayar. “Berapa Be?” tanyaku menyapa ngikutin kebiasan orang-orang memanggil si Mbah. “semua 50rb” jawab si Babe dengan logat Aceh kental. Hah. Kagak salah nich ngitungnya. Murah amat. Lansung aja aku kasih uangnya. Puas rasanya belanja. Hehehe. Si Babe sibuk nyari tas plastic yang agak besar untuk buku-buku yang aku beli. Finally dapet juga tas plastiknya. Seperti biasa, dapet bonus satu buku dari Babe, aku tersenyum melihatnya. Begitu mau dikasih ke aku, tangan si Babe yang ‘usil’ ngambil lagi satu buku dan dimasukkan k etas plastikku untuk kedua kalinya. “Banyak banget banusnya Be..” celethukku. “Ee.. ini buat tabungan Babe di akherat…” sergah Babe menjawab masih dengan logat Aceh yang kental. DuugGG. Spontan aku terhenyak. Si Mbah yang sudah tua, pakain seadanya, jualan buku bekas layaknya Pedaagang Kaki Lima masih sempat memikirkan investasi akherat. Bolehlah kita sengsara di dunia tapi apa ya harus sengsara di akerat?. Terimakasih ilmu berinvestasinya Be.

One comment on “Belajar Investasi dari Babe

  1. Pingback: Pak Omen Pulang Kampung, « 9ethuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 14, 2008 by in [Bertemu] [Reuni] [Kumpul], [Melancong] [Kuliner] and tagged , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: