9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Seribu Langkah Kisah ‘Buaya’

Menempatkan rasa malu harus pada saat dan tempat yang tepat. Itulah kiranya kata yang tepat memulai perjalan mencari halaqoh di bekasi. Berkekal wejangan dari Mas Guring lewat SMSnya. “Antum harus aktif ya akh, ini ane kasih nomor HP ustadz DPD Bekasi”. Dapet no Hp itu ane langsung mengSMS ustadz yang ditunjuk. Dari ustadz teresubt ane dikasih no Hp ustadz yang yang mengelola di daerah dekat aku PKP. Dari sana aku dapet lagi no. Hp ustadz yang lebih dekat lagi. Finally, setelah beberap kali menghubungi dan dihubungi. 3 minggu setelah di bekasi aku ketemu dengna ustadz Syaibih. Beliau tinggal di daerah Sempu, deket perumahan Matel I. Tepatnya di deket Pondok Pesantren Darul Mubarok. Beliau juga termasuk salah satu pengajar.

“Minggu sore InsyaAllah kita mulai halaqoh, tempat di PP Darul Mubarok. Dare tanah baru antum naik ojek turun di Alfamart sempu, perumahan matel lurus. Bilang tukang ojeknya. Pasti tau.” Itulah bunyi SMS yang setidaknya mengurangi kegaulauanku selama ini. Hari jumatnya aku bersiap tidak ke Jakarta, karena minggu sore liqo’. Eh.. ujian dating, ustadz Syaibih SMS halaqoh din undur minggu depannya lagi karena ada saudara yang meninggal. Yach.. menunggu lagi. Seminggu bukan waktu yang singkat bagiku saat itu.

Seminggu berjalan. Kali ini aku yakin halaqoh jadi dilaksanakan. sebelum sholat ashar aku siap berangkat. Aku berencana sholat ashar disana. Naik ojeck mahal 5 rb sekali jalan. Kalu PP udah teriak-teriak nich dompet. Apalagi aku dah tau daerahnyanya. Maklum sebelumnya dah ketemu ustadz Syaibih di Masjid Matel tak jaud dari Sempu. Berbekal peta yang dikasih Nanaang, tetangga kostku. Aku nekad jalan kaki ke PP Darul Mubarok. Dari Tanah Baru tinggal jalan menyusuri sepanjang jalan baratnya PT. Showa sampek menthok belok kanan, belok kiri menthok ketemu Alfa. Gampang. Batinku.

‘Perbekalan’ telah siap. Memulai berjalan adalah menyenangkan. Pertengahan jalan membosankan. Tigaperempat perjalanan melelahkan. Sambil menghitung waktu aku terus memaksakan berjalan.

Setelah Tanya beberapa orang, nyampek juga akhirnya di mushola PP Darul Mubarok. Ashar masih serempat jam lagi. Aku masuk mushola mungil, menyandarkan badan di tembok. Lelah juga. Ya iyalah. 30 menit perjalanan dengan kaki. Wuich jauh juga ternyata. Tapi gak papa. Itung-itung ngisi mutabaah untuk riyadhoh. Hehehe. Curang. Setalah ashar dimulai juga halaqohnya. Banyak kenalan juga ini. Tapi…

Aku termuda ternyata. Ada Sofyan udah kerja, meskipun lulusan 2003. Tapi Ia ngambil teknik. Kak Agus lulusan UNS, nagkatan 2002, isunya mau nikah. Ada mas yang kerja di PT Komatsu yang sudah punya 2 anak, Pak Narjo malah punya sudah 4 anak. Gubraaak.. aku minder. Moga mukaku waktu ta’aruf waktu itu bukan tampang ‘mupeng’. Walhasil berlansunglah halaqoh sampai hamper maghrib. Temanya tiap minggu beda. Pas waktu itu minggu pertama jadi maslah tahsin. Wah banyak nama-nama bacaan yang harus banyak belajar. Pertemuan pertama ini ada hal yang yang terngiang dari penuturan Ustadz Syaibih. Beliau bercerita, “Suatu ketika, seorang Raja membuat sayembara. Barang siapa yang bisa berenang melewati sungai yang melingkari kerajaannya. Maka akan diangkat menjadi putra mahkota dan dikawinkan dengan putrinya yang sangat cantik. Tetapi yang jadi masalah, ternyat di sungai itu ada ratusan buaya yang siap memakan apa saja yang lewat. Walhasil tak ada yang berani mengikuti sayembara. Jelaslah. Siapa yang mau mati. Tanpa diduga, suatu hari terceburlah seorang pemuda ke sungai. Sakin takutnya terhadap buaya, maka dia berenang dengan sangat cepat menyebrangi sungai tadi hingga ke tepi sungai dengan selamat. Sang Raja yang melihat kejadian tadi sangat kagum. Sesuai janji maka sang raja langsung menghampiri lelaki tadi yang masih basah kuyup, “Selamat anda memenagkan sayembara. Sekarang kan aku berikan kerajaanku dan kunikahkan putriku denganmu…” belum sempat melanjutkan perkataannya lelaki tadi mengatakan, “Maaf paduka, saya tidak mau semua itu. Jika paduka mau memberi hadiah. Tolong kasih tau saya saja. Siapa yang mendorong saya ke sungai tadi?!”. Guuubragg. Kontan semua ketawa. Hahaha.

Bukan canda ternyata kisah tadi, Ustadz Syaibih melanjutkan bahwa terkadang seorang ikwah harus dipaksa untuk terjun dalam sebuah medan yang tidak ada kenyamanan sedikitpun agar kempuan sesungguhnya keluar. Dalam. Padat. Semua mengangguk, terutama Kak Eko yang kebagian untuk mengisi halaqoh menggantikan Pak Wayan. Memang kisah tadi sengaja untuk menyemangati Kak Eko.

Sekarang waktunya melangkah lagi. Menyusuri malam yang terang menuju kost. Perjalanan malam yang dihiasi pabrik beserta nyanyian suara mesin yang berteriak. Perjalanan seribu langka kedua menuju peraduan. Lelah juga berjalan satu jam. Tapi pasti ada hikmah di balik peristiwa. Mengejar dengan seribu langkah untuk kisah ‘buaya’.

One comment on “Seribu Langkah Kisah ‘Buaya’

  1. JUNDI@
    July 30, 2008

    wah..itulah perjuangan.penyakit yang senantiasa menyerang seorang kader yang harus mengalami mu8tasi adalah MENUNGGU dan itu bisa menjadi penyebab2 banyak kader yang akhirnya futur. itulah kenapa para murobbi senantiasa berpesan untuk senantiasa menguatkan tarbiyah Dzatiyah. antum harus bersyukur akhi, antum tu mutasinya ke sebuah kota besar yang insyallah stok murobbiya masih banyak. coba antu lihat sadara antum yang harus pulang kampung dan kondisi daerahnya tidak sekondusif daerah yang antum huni sekarang.so, SEMANGAt….disini ana juga sering jalan kaki.kan tambah sehat,,,dah selese PKPnya ya?sekarang jadi warga bekasi nih, katanya kerja di tempat PKP lagi???smangat nggih semoga pengumpulanuang untuk pembangunan APOTIKnya berhasil.aniib.Faidza azamta fatawakal ‘alalloh.hamasah….ajak tu pak Omen ngaji,antum sering main kesana kan….from: adik AREMA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 14, 2008 by in [Bertemu] [Reuni] [Kumpul], [Catatan Harian], [Yang Kukenal].

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: