9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Selalu Saja Ada Yang Terkorbankan


Selalu ada yang terkorbankan. Seperti itulah sebuah perjalanan dan ‘ujian’. Ramadhanku. 10 hari minggu kedua berantakan. Ya. Karena pekerjaan. Salah pekerjaan ini. Dan salahku yang terlalu lemah. Berawal dari ketidakjelasan dan tidak dijelaskan kepadaku schedule kedatangan para bule-bule dari Itali untuk SAT, IQ, OQ alat Freeze Dryer. Sore itu seperti biasa. Sehabis sholat jamaa’ah magrib, aku langsung menuju ke loker ganti. Pas ganti baju, telponku berdering. Mbak henny telpon, dia salah satu QA Specialist yang paling lama bertahan meski belum genap 1 tahun. “An, kayaknya IQ Freeze Dryer dah dimulia. Mending kamu keatas lagi dech. Freeze Dryer khan tanggung jawabmu”. Dug.. mati aku. “Hahh Bu Pipit, kenapa gak bilang-bilang” umpatku dalam hati. ‘Terpaksa kudu keatas lagi, menemani IQ freeze Dryer. Mana belum pesen makan lagi. Untung Mas Anto, tetangga kostku mau beliin maem buat buka. Pertama kali makan buka di pos satpam akhirnya. Setengah sepuluh selesai. Pulang ke kost tinggal tergelepar. Tidur. Bangun-bagun dah sahur. Sabtu di suruh lembur. Coz bule-bulenya masuk juga. Jadi kudu nemenin, sebagai perwakilan dari Quality.

Harus bisa bertahan. Setidaknya sampai tanggal 19 September. Ya. Sebab tanggal itu Agustina ma Toni (bule-bule) dah cabut ke Italia. Tak kusangka mereka gila kerja. Hari senin aku pulang jam 23.00, selasanya jam 23.30, rabu jam 22.30, kamis yang paling gila. Pulang jam 18.30 balik lagi jam 21.00 ke pabrik dan baru keluar pabrik jam 2 paginya. Bisa dibayangin yang harus aku kerjakan. Memenuhi keperluan mereka. Menyelesaikan IQ, OQ tepat waktu, kalau tidak ingin kena semprot manager. Apalagi agak susah kalau komunikasi. Pake bahasa inggris dan bahasa mesin. Kalau sekedar komunikasi biasalah, tapi kalu udah ngomomg soal mesin. Aku kudu kuliah teknik mesin dulu kayake. Untung dah baca dikit-dikit. Walhasil, Hancur sudah ramadhanku. Aku menangis. Meski tidak ada puasa yang kubatalkan, tapi tak kudapatkan kenikamatan malam-malam ramadhan. Bagaimnan mau meraih malam Ramadhan, jika berangkat dari kost jam 6.45 pulang jam segitu. Yang tersisa hanya capek, tak ada tenaga. Maafkan aku Ramdhan, yang hanya menyisakan energi sisa tuk menggapaimu. Ya Allah. Jangan tinggal daku. Jangan Jauhkan Ramadhanmu dariku.

Sekali lagi aku iri, dan hamper saja menitikkan air mata jika mengingat kembali saat kuliah. Dimana ada saudara yang senantiasa menyemangati. Mengingatkan, membangunkan sahur. Bersama menjadi FPI (Front Pemburu Ifthor). Menggapai malam-malam indah Ramadhan. Tapi inilah hidup. Ini jalan yang harus kujalani. Tetap bertahan dan berjalan. Tak peduli terjalnya batu cadas. “Haha.. kalau pas lagi sendiri, jadi teringat guyonan Mas Gurning pas lagi mau berangkat ke Bekasi. “Akh biar lebih semangat, ke bekasi membawa serta pendamping hidup yang bisa menyemangati. Ayo ajukan ‘proposal’!” tapi ketika kuutarakan gajiku, ternyata beliau paham. Bahwa dengan gaji segitu belum cukup untuk hidup berdua di Bekasi. Astaghfirullah.. jadi mbayangin yang ndak.. ndak…! Bantu aku sobat, jika kau tau. Bahwa aku sangat butuh engkau. Sebab itulah terkadang aku ‘mengganggumu’ dengan SMSku. Dengan telpon dan obrolanku. Sebab aku butuh semangatmu. Agar aku tegar. Tetap ‘tangguh’ membawa agamaku. Tuk bisa menjadi tetanggamu di surga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 21, 2008 by in [Curhat].

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: