9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Harus Benar Berbuat Berarti.


Ketika datang seorang laki-laki kepada Rasulullah, bahwa ia ingin masuk islam. Tapi minta ijin tetap bisa melakukan kemaksiatan. Pertanyaan sesulit inipun bisa dijawab dan diberi ketegasan oleh Muhammmad saw. “Silakan, tapi jangan pernah berbohong”. Singkat terkesan jawaban itu. Tapi penuh konsekuensi jawaban itu. Bagi sang penanya tentunya.

Saya membayangkan, ketika ada perusahaan besar yang mampu membayar karyawannya dengan berkali-kali lipat dari perusahaan lain sedang merekrut karyawan baru. Ketika sesi wawancara. Sang calon karyawan yang ditempatkan di depertemen Quality, menyatakan. “Saya mau masuk perusahaan bapak, tapi ijinkan saya untuk tidak melakukan prosedur pelulusan suatu barang secara semestinya.” (Capek dech..)

Pertama, perusahaan “tidak’ butuh calaon karyawan itu sebenarnya.
Kedua, karyawan itu digaji oleh perusahaan bukan menggaji perusahaan.

Ketiga, tak ada kerugian apapun jika perusaahaan tidak jadi merekrut calon karyawan tadi, masih banyak pilihan.

Keempat, syarat karyawan tadi bertentangan dengan prinsip secara umum orang quality.

Pun, begitulah pada akhirnya yang saya alami di Departemen Quality, Semua prosedur kerja kita yang mebuat dan kita yang harus melakukannya, dan kita yang harus melaporkan hasilnya pada atasan kita. Disinilah ujian sebagi mukmin. Bagaimana komitmen kita untuk senantiasa melaporkan hasil kerja kita. Baik hasil yang baik maupun yang buruk sekalipun. Bahkan melaporkan secara jujur kesalahan kita. Sekali lagi, melaporkan kesalahan kita. Terdengar mudah memang membacanya. Namun saya yakin dan sudah mengalami. Bahwa dorongan untuk berkelit dan menyatakan itu bukan karena saya jauh lebih besar dari pada mengakui secara tegas. “ini salah saya”.

Kawan, kenapa harus Jujur. Sebab satu kebohongan akan melahirkan seribu kebohongan untuk menutupi satu kebohongan awal yang kita buat. Maka menjadi nyatalah kenapa Jawaban Rasullah demikian singkat. Kejujuran memaksa seorang mungmin untuk senantiasa melakukan segala sesuatunya dengan benar, sesuai prosedur. Konsistensi melakukan segala sesuatu sesuai aturan inilah yang akan melahirkan kata-kata yang jujur. sebab tidak ada yang perlu ditutuo-tutupi, sebab tidak ada perbuatan yang salah.

Mari kita simak pesan Nabi berikut :
Dalam suatu riwayat Nabi saw. pernah ditanya, “Apakah seorang mukmin bisa penakut?” Nabi saw. menjawab, ” Ya, seorang mukmin mungkin saja dia penakut.” Apakah seorang mukmin bakhil, pelit? “Ya, seorang mukmin mungkin bisa pelit.” Apakah seorang mukmin dusta atau pembohong? Nabi saw. Menjawab, “Tidak!” (HR. Malik)

Berat memang, tapi harus saling mengingatkan untuk meneguhkan kejujuran bersama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 22, 2009 by in [Opini] [Reportase] [Analogi] and tagged .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: