9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Tukang Kerok Dadakan


Baru kali ini dalam satu hari ngerokin 2 orang sekaligus. Dan baru tiga kali selama 9 bulan di Cikarang aku ngerokin orang. 2 terkhir adalah hari kamis jum’at. Kamis malam pas lagi nonton “TV One”. “Tok.. tok.. tok.. Boz…!”. Ku Buka pintu dan kulihat Manto membawa minyak kapak dengan uang logam seratus (gopek) ditangannya. “Sibuk Boz..?”. “Kagak. Eneng opo Pak?!”. “Keroki aku ya”. Pinta Manto dengan logat khasnya. “Awakku ora kepenak, nggreges”. “Ya, wis. Kene.” Sholat Isya’ berjama’ah lewat. “Abang Boz..?!” “Iyo. Lha wong lagi tak gosok wis uabang ngene”. Boz, sapaan tetangga kost yang akrab denganku. Mungkin karena aku S1 dan mereka SMA/STM sederajat. Mereka lebih sering melihat aku berangkat kerja memakai sepatu pantofel, sedang mereka memakai sepatu bebas. Atau karena apa aku juga kurang tau. Tapi what everlah panggilan itu, yang penting gak mempengaruhi pertemanan. Dan biasanya aku memanggil mereka dengan panggilan”Pak”.

Pagi harinya pas lagi ngaji. “Tok.. tok.. tok.., Boz..!”. “Ku buka pintu masih dengan mushaf ditangan. “Ono opo Goh?”. “Repot ora Boz?, Keroki aku yo?!” (Gubrakkk…!). “Yup, hayo kene”. “Awakku ora kepenak iki”. Tutur Teguh, tetangga sebelah kost. Sambil meyerahkan salep gosok dengan uang koin. Beberapa kali gosok memang langsung merah. “Aku nek rodo loro gak ndang dikeroki suwi marine”. Teguh, Guntoro, Manto adalah tetangga kost yang sejak awal kost itu ada mereka juga ada. Karena kami juga yang menempati awal kost yang baru dibangun itu. Yang lainnya adalah penghuni nomaden. Jadi kurang akrab. Sengaja aku memilih kost yang jauh dari dunia pabrik. Jauh dari hiruk pikuk kota. Kebanyakan atau hampir seluruh Staff Apoteker memilih ngekost di daerah pasimal. Sebab akses lebih mudah didapat.

Bagiku, setelah pulang kantor aku harus memiliki dunia yang berbeda. Berbeda orang, beda pembicaraan, beda persepsi. Supaya lebih berwarna. Capek dech jika dikantor ma dikos ketemu orang dan pembicaraan yang sama. Pun ketika makan bareng pas pulang kantor bareng, aku selalu marah-marah kalo pas makan ngributin urusan kantor. Pulang dari kantor, aku ingin menjadi seperti aku yang aku inginkan. Without intervension. Aku ingin menjadi aku apa adanya. Sehingga pilihan kostku lebih banyak bergumbul dengan anak-anak dari lain pabrik. Membicarakan tentang mereka. Masa depan mereka. Si Teguh, awal ngobrol denganku dia merasa aneh kali. Kita bercerita tentang dunia kuliah. Dan dia menyesal kenapa dulu tidak kuliah, begitupun Guntoro. Si Teguh malah memintaku untuk memilihkan komputer, dia pengen beli komputer. Dia ingin bisa komputer. Akhirnya kami beli bareng-bareng. Sekarang dia sudah lancar bisa komputer. Guys, bagai mereka. Ketika sudah diangkat menjadi karyawan tetap adalah suatu keberhasilan luar biasa. Jika mereka sudah diangkat tetap,mereka baru memikirkan masa depan. Tentang pernikahan, rumah dll. Sehingga Si Teguh sampek dibelain beli komputer buat ngejar karyawan tetap. Bagi mereka, tak pernah absent satukalipun adalah salah satu target, sebab menjadi salah satu point penting untuk diangkat karyawan tetap. Orientasi mereka cukup berbeda. Tapi hal yang aku salut adalah, mereka mempunyai jiwa kesetiakaewanan yang kuat. Tangguh malah. Sering aku melihat banyak motor di depan kost mereka. Sering kumpul bareng. Itu yang terkadang aku kangen ma temen-temen kuliah ma SMA dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 13, 2009 by in [Catatan Harian] and tagged , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: