9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Mbah Kung



Ketika aku masih kecil, Mbah Kung sering ngajak aku nonton. Meskipun aku lupa tepatnya berapa umurku. Seingatku ketika masih TK atau sekiter kelas 1 atau 2 SD. Saat itu rumahku masih numpang di salah satu rumah family yang tidak digunakan di dusun Godeg. Masih rumah gedeg (dinding rumah terbuat dari anyaman bambu). Sedang Mbah Kung tinggal bersama budhe di Bangsri (bersebelahan desa dengan Godeg. Jarak perjalan sekitar 15-20 menit dengan berjalan kaki.


Di lapangan selopanggung, desaku (sekarang jadi pasar sapi kalo hari Pahing) setiap malam minggu ada Ludruk. Dan menjadi kegiatan rutin Mbah Kung ngajak aku nonton Ludruk. Berjalan dari Rumah ke Lapangan menyusuri kegelapan jalan hanya bermodal senter buntut. Sebuah senter yang senantiasa jadi barang bawaan Mbah Kung kemana saja ketika malam. Berdua kami berjalan menyusuri gelap, melewati punden yang angker. Saat melewati tempat – tempat yang menakutkan buatku kala itu. Aku bersembunyi di bali sarung Mbah Kung. Sambil memegang erat tangannya.


Saat nonton bareng, tiket dibayarin Mbah Kung, jajan ma camilan juga dapet gratis dari Mbah Kung. Bahkan Mbah Kung selalu mencarikan tempat dengan sudut pandang yang jelas saat nonton, persis seperti nonton di bioskop saja. Dan hampir kegiatan itu menjadi rutinitas kami. Kadang bareng- bareng satu keluarga, tapi jarang.


Ketika pulang dari nonton, kadang atau mungkin sering aku digendong karena ngantuk. Atau takut. Atau lelah berjalan. Menyusuri jalan yang sama sampai di rumah kembali. Dan Mbah Kung masih harus berjalan sampai di Bangsri, baru bisa tidur tertelap.


Mbah Kung tidak merokok. Itu yang selalu dibanggakan Ibukku. Terutama saat menyindir bapak yang sedang merokok. Ibukku benci rokok. Jadi ia pasti marah kalo liat bapak merokok dirumah. ”An, liaten. Bandengno Mbah Kung karo Mbah To. Luwih ketok enom Mbah Kung khan. Mergo Mbah Kung ora nggrokok” Kata Ibuku saat membandingkan Mbah Kung dengan Mbah To(Adiknya Mbah Kung).


Mbah Kung, seorang ayah yang dibanggakan oleh Bapakku. Bapakku pernah cerita, Mbah Kung pernah menahan lapar dari berjalanan yang sangat jauh. Jauh sekali. Hanya untuk menyisihkan uang buat keluarga. Aku melihat wajah Bapakku menahan kerahuan. Meski tidak sampai tertumpah. Bapak sering cerita waktu ia masih kecil. Ketika Mbah Putri masih hidup. Pas mereka lagi nganam bareng sampai larut. Mbah putri ketiduran sambil masih memegang anyaman. Oleh bapak, budhe ma Mbah Kung ditinggal tidur. Wakaka… Jahat. Tapi itulah gurauan yang menyemangati.


Mbah Kung, mungkin tidak setaat Mbah Salim (kakek dari Ibu). Kalo Mbah salim memang seorang Nahdatul Ulama sekali. Sampai ke anak-anaknya. Sedang Mbah kung, hanya orang desa apa adanaya. Yang lebih berprinsip seperti kebanyakan orang abangan. Yang penting berbuat baik pada semua, tidak menyakiti sesama, tidak mengambil barang orang. Lebih dekat ke adat jawa. Tapi aku salut. Kata bapak, dari sekian banyak familiy dari Mbah Kung. Mbah Kung yang paling gak suka memelihara atau mempunyai kekuatan ghaib. Tidak punya malah. Tapi ia di hormati. Sekarang Mbah Kung telah berubaha banyak. Ia yang dulu ogah-ogahan sholat dan sholat jum’at. Sejak aku SMA sudah rajin sekali. Bapak berperan besar disana. Ya bapakku, anak kesayangan Mbah Kung.


Mbah Kung Orang pendiam, tapi bapakku selalu bisa mengatakan makna diam Mbah Kung. Ia memberi bukti bukan kata. Kakek yang hangat, penuh kasih sayang. Membaktikan diri sepenuh pada keluarga.


Dulu, pas kami sekeluarga baru pindahan rumah ke desa bangsri. Mendirikan rumah mewah (mepet sawah) dengan bermodal hanya nekad. Ya. Ketika itu belum ada listrik di rumah kami. Pun dengan rumah Pak Suprih, teman dekat bapak (masih satu familiy besar) yang berada di depan rumah kita. Sepakat mendirikan Rumah jauh dari perkampungan tap dekat dengan jalan raya. Jadi selama hamper 2 tahun kami hidup dengan malam yang gelap. Kalo malam hanya bercahayakan ublik. Itupun jam 7 habis isya’ harus sudah dimatiin dan tidur.


Praktis tidak ada hiburan apapun. Biasanya aku dan adekku Pram ke Rumah budhe untuk nonton TV. TV hitam putih merek national yang casingnya masih dari kayu. Dan aturan dari bapak, boleh aku ke rumah budhe, tapi tidur tetap harus di rumah. Jadi harus pulang. Jam berapapun. Walhasil Mbah Kunglah yang jadi korban, mengantar aku terkadang dengan adekku pulang. Masih dengan senternya meyusuri sawah-sawah sampai ke rumah. Bahkan bapak sering menjemput kami untuk menegakkan aturannya, bahwa tidur harus di rumah. Bahkan aturan ini masih berlaku sampai aku SMA.


Mbah Kung yang meskipun dilarang oleh anak-anaknya untuk ikut macul di sawah karena sudah tua. Tetap saja ingin olah raga untuk anak-anaknya. Itu suatu kebahagiaan baginya. Ia memang keras kepala pada prinsipnya. Sekeras kemauan dan kerjanya. Tapi aku bangga.

Besok, Mbah Kung mau Operasi. Sejak jum’at kemarin. Keluarga bergantian menunguuin di RS. Soedono Madiun. Sedang aku masih di sini, di Bekasi. Kota para budak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 8, 2009 by in [Yang Kukenal] and tagged , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: