9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

7 Bahu



Bismillah. Kenyamanan itu subyektif, dan hanya pada saat tertentu. Seperti halnya enak itu juga relatif dan hanya sesaat. Enaknya makan itu saat kita makan dalam keadaan lapar. Ketika sudah kenyang tapi dipaksakan makan, maka tidak enak lagi. Dan ingat, hanya beberapa saat saja rasa enak itu terasa, sebelum rasa kenyang datang. Enaknya tidur itu, akan terasa nikmat saat tubuh kita benar-benar lelah, kantuk yang sangat. Apalagi sebelum tidur mandi dulu, makan. Maka dijamin tidur kita langsung dalam. Lelap. Nikmat.



Per 20 Agustus 2009. Genap 1 tahun bekerja di Cikarang, Bekasi. Tepatnya 1 tahun 2 bulan bila ditambah dengan 2 bulan PKL. Masih saja belum bisa aku merasakan ’penuh’ setiap waktunya. Namun, jangka waktu 1 tahun bukanlah waktu singkat untukku hingga mampu bertahan. Tegar. Menegarkan hati. Menyamankan diri. Mencari saat dimana aku merasa aku adanya. Merasa indah untukku. Seperti pelangi, meski sesaat, tapi indah. Aku mencoba berfikir keras, merenungkan kembali. Apa saja yang bsa membuatku merasa nyaman hingga mampu bertahan. Apa saja pelangi bagiku.



Pertama, lantunan suara merdu dan untain halus, sejuk, dalam, meresap ke dasar palung hati terdalam. Kata-kata yang beliau sebenarnya biasa, sederhana. Sesedarhana penampilan dan kehidupan beliau. Materi yang belia sampaikan adalah materi yang biasa, sederhana. Jauh dari materi-materi seperti para trainer-trainer yang sohor. Tapi entah kenapa, jauh lebih terasa daripada sekian banyak materi dari trainer-trainer yang pernah aku ikuti. Bahkan tidak jarang, aku sering menahan untuk tidak cengeng saat mendengarkan nasehat-nasehat beliau. Malu lagi, kao keliatan udah gede nangis. Yang senantiasa aku rindukan setiap pekannya. Ustadz Syaibih. Guru yang bersahaja.



Kedua, kesetiaan ketiga ”istri-istriku” menemani setiap sepiku. Menemaniku setiap perjalanku. Sarana canda dan kata dalam penat dan lelahku. Mengabadikan setiap moment waktu yang telah lalu, dan sepanjang waktuku.



Ketiga, Thoyib. Sohib yang mengajari arti membeli untuk sebuah arti. Dialah pencetus untukku mendapatkan ”istri’ ketigaku. ”Wes beli aja, tar kalo kurang aku tambahi. Jika kau menyukainya. Tak perlu berfikir tentang harga”. Dia mengajari dua jawaban kalau diajak makan, yaitu ”Ya” atau ”Oke”. Dia yang selalu tahu dimana tempat makan yang enak. Dan banyak. Dia yang budget terbesarnya untuk makan. Ketika kutanya mengapa, ”Udah 25 tahun menahan pengen makan enak gak kesampaian”. Tapi itulah Thoyib, apa adanya. Masih saja kurus seperti dulu kala SMA. Dan tetap garang dengan keinginan dan cita-cita.



Keempat, Ada Hernadi di Bekasi, Ada Sur dan Budi di Tambun, Ada Pak Omen, Kamto, Kusnadi, Rom di Jakarta beserta Minggu pagi di walisongo. Ada bulek, Pak Nano, Gito, Pak Brewok di Bogor. Mereka adalah tempatku merasa sedaerah. Dan merasa sedarah.



Kelima, makan paling enak ketika makan ada temanya. Membagi kebahagian setiap suapnya. Menjadikan setiap suapnya terasa lebih bermakna.. Aku bahagia punya teman saat makan. Mbak Hen, Senduk, Pitanoname dan teman-teman yang lain. Bahagianya saat bercerita dan tertawa sambil menyantap setiap suapnya. Mungkin aku bisa lupa diwarung mana, kedai mana. Bahkan mungkin akan samar setiap wajah yang ikut makan. Tapi suasananya tak mungkin bisa terlupa.


Keenam, badminton. Meski sangat kaku pada awalnya. Dan sering meleset saat memukul kock. Aku tak peduli. Meski sampai sekarang belum begitu mahir. Aku tak peduli. Kesenangan yang ada disini adalah rasa kompetisinya. Teriakan disetiap membuat kesalahan sehingga gagal membuat point. Pun, gelegar kepuasan saat mencetak angka. Luar biasa rasanya. Tidak percaya? Cobalah. Dulu, aku mengeluarkan keringat hanya dengan joging sendiri di minggu pagi. Memang keluar keringat tapi kurang bersemangat. Tapi sejak 2 bulan lalu, ada badminton. Dan aku suka. Meski hanya pada malam sabtu terkadang ditambah minggu jika ada kawan main.


Ketujuh, belajar. Mempelajari sesuatu yang baru ada dua rasa. Ragu dan Bersemangat. Dua rasa itu bertolak belakang, namun menyenangkan. Yang terpenting adalah harus terlihat jelas tujuan akhir. Dan aku merasa banyak sekali bisa belajr disini. Tentang duniaku. Kefarmasian. Quality Assurance. QA Spc menurut definisiku. Subuah jabatan untuk melakukan pekerjaan Spv sampai Operator. Mengelola hingga melaksanakan. Mengetahui Rambu-rambu Regulasi hingga implementasi di lapangan. Luar biasa rasanya.


Aku ingin memiliki alasan yang lebih dari ini. Suatu saat nanti. Bahkan jika harus, disuatu tempat lain nanti. Akan aku jalani. (Saat kerinduan begitu melangit)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 17, 2009 by in [Catatan Harian] and tagged , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: