9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Dok’e





Sms dari Ibuk, “An, Dok’e meninggal isuk mau. Ibuk lali arep ngomongi mergo sibuk” (17:20; 04 12 09). Dok’e adalah kependekan dari Mbak Wedok (Nenek). Panggilan special buat Ibunya Mbok De Sam. Silsilah keluarganya kenapa kami panggil Dok’e adalah : dia adalah sudara perempuannya nenekku. Nenek dari Bapak. Tutup usia pada umur sekitar 80an. Persisnya berapa juga tidak tau. Dok’e udah punya 2 cicit, dari seorang cucunya.



Kata Bapak, memang udah tua. “Dok’e juga wis ikhals kok An, jadi gak perlu kuwatir” terang Bapak padaku. “Pas arep sedo kae, Dok’e yo wis kondo. “Ura usah nangis nek aku mati, ora usah nangis nek pas ngedusi aku”” jelas Bapak sesuai yang dikatakan Dok’e. Bahkan seminggu sebelum meninggal. Pas aku lagi maem mie goreng di Bekasi ma Thoyib. Ibuk telpon, “An, iki Dok’e loro. Kat mau nggoleki kowe. Nakokne kowe terus. Iki kowe ngomongo karo Dok’e” Sejurus kemudian aku mendengar suara serak nan renta, lemah berkata “Le, An. Kowe neng ndi? Kerjo neng ndi….” dan perkataan lainnya yang tidak begitu jelas, lemah. “Aku neng Bekasi Dok, Obat e diombe ya Dok. Ben ndang mari” hanya itu kalimat yang kuingat, dan hanya kalimat singkat itu yang kuulang-ulang. Sebab aku tak pandai berkata terutama pada orang yang sakit. Kenapa? Aku aku belum tentu bisa setegar dia saat menghadapinya.

1,5 tahun terakhir. Yang aku ingat kuat hanya bertemu saat Idul Fitri. Dan seperti biasanya. Kami (keluarga besar) main tebak-tenakkan saat bersalaman dengan Dok’e. Biasanya saat kami salam/ sungkem tidak menyebut nama. Dan mita Dok’e menebak siapa. Dengan mata dan telinga yang sudah tidak begitu sempurna karena usia. Seringkali Dok’e salah menebak. “Geerrr..” semua pasti ketawa, tapi Dok’e juga ikut ketawa. Hanya beberapa nama saja yang diingat. Meski tanpa melihat dan mendengar dengan jelas saat menjabat tangannya yaitu Bapakku dan aku, Dok’e selalu tepat menebak. Pada tebakan pertama tanpa clue apapun. Aku juga heran, pun sampai terakhir lebaran kemarin.



Dulu, ketika aku masih SMA. Dok’e sering ‘melarikan’ diri dari rumahnya. Pengen berkunjung ke sanak familinya. Dan rumah yang paling sering dikunjungi adalah Rumahku. Entah kenapa. Dan Mbok e pasti kebingungan mencari, karena sering tidak pamit ke Mbok e. Bukannya gak mau pamit, tapi kalo pamit dulu ma Mbok e (Mbok e adalah istilah kami memanggil anaknya Dok e) pasti tidak diijinkan. Sebenarnya maksud Mbok’e tidak mengijinkan juga baik, karena Dok’e sudah tua, takut nyasar dan gak bisa pulang. Makanya saya sering nganterin Dok’e pulang saat ke rumahku. ”Dok, gocekan sing kenceng neng Aan. Ben ora tibo’ ”An, alon-alon wae lho” Intruksi jelas dari Ibukku saat aku mboncengin Dok’e pulang.



Seorang yang sangat teguh, tidak punya kebencian, begitu mencintai keluarganya. Ya Alloh berikan tempat terbaik untuk Dok’e.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 6, 2009 by in [Yang Kukenal] and tagged , , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: