9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

9-10 Jan 2010

Harga yang murah untuk sebuah perjalanan memuaskan. “Tak kirim ke e-mail kantormu ya?! Alamatmu opo?” Pinta Ottoy menawarkan paket jalan2 ke green canyon. Dia mau menunjukkan foto2 dan shcedule acara. “nugroho_rama@ferron-pharma.com”. Sehari kemudian aku melihat sudah ada email daro Ottoy. “Klik..Klik..” tanganku gesit menggerakkan mouse. Lengkap juga emailnya, shcedule mulai awal berangkat hingga pulang. Paket komplit 350rb. Melihat foto2nya. Its beautifuls. “Iam in!!”



Green Canyon, Pantai pangandaran, pantai hiu, cagar alam dan semuanya selama 2 hari 1 malam aku datang. Kumpul jam 10 malam di semanggi. Tanggal 8 Januari jam 22.00 berangkatlah kita. Aku gak kenal semuanya, mereka gank jalan2nya Ottoy. Hingga selesai acara, hanya berapa yang aku masih inget namanya. Selebihnya aku lupa. Naik bison isi sekitar 12 orang. Aku kebagian jatah di depan, nemenin sopir ngobrol. Jatah yang biasa aku dapat dari sejak kuliah. Fiuh. Perjalanan panjang selama 8 jaman dimulai. Harapannya, pagi bisa melihat matahari terbit di salah satu pantai di pangandaran. Kita rame2 ada 2 kendaraan, mobil carteran (bison) dengan mobilnya Satrio, ketua kelompok sekaligus CEOnya.



Menyusuri jalan yang asing bagiku, belum pernah melewatinya, ditambah hanya bisa melihat jarah 10 meter. Sejauh lampu kendaraan mampu menembus gelap malam. Sesekali berkelok ke kanan, ke kiri, menaiki tanjakan, tak jarang berhenti untuk memastikan kedua kendaraan on the right track. Aku menahan kantuk menemani sopir, terkadang tidak kuat menahan dan sesekali tertidur, kemudian terbangun kembali. Sambil pura – pura tidak tidur. Hahaha. Maklum, seharian di depan komputer.



Semakin bersemangat setelah sholat subuh di salah satu mushola. Di daerah mana aku juga sudah lupa. Kita berlomba dengan terbit mentari menuju ke pantai. Mobil dilaju lebih cepat dari biasanya, seolah tidak ingin terlewat dengan begitu mudah mentari terbit dengan cueknya. Hingga dari jauh terlihat kemerahan, aku masih melihat di samping kiriku adalah hutan, pohon, sesekali rumah penduduk setempat. Dan betul, pagi ini kami kalah. Sunrise melarikan diri menuju tengah siang. Arghhh…..



Kedua kendaraan berjalan lemas, parkir di sebuah lapangan luas. Kita keluar dari penti bison satu persatu, seperti semut yang keluar dari lubangnya. Bedanya, kalau semut penuh semangat, kita mah letih dan kusuh semua. Kayak orang terbangun karena mimpi buruk. Rambut acak, muka kusam, pakaian lusuh. Saknoe pokoke.



Satrio memberi kode untuk menunuju ke sebuah rumah, seolah dia sudah memesannya. Kita berjalan 100 m,sampai disebuah rumah kecil dengan 2 kamar tidur dan satu ruang luas. Semua tikar digelar. Cownya tidur di luar, cewnya tidur di dalam kamar. Belum sempat istirahat, sekretaris acara membacakan sususnan acara sampai besok. Padat. Taka da teloransi. Weh.. kayak ospek aje. Jam 10an berangkat Body Rafting. What?! Apa itu? Lirihku dalam hati, tapi aku malu bertanya. Wait and see sajalah.



Usai makan pagi disebuah kedai, yang waktu makannya dibanding waktu menunggu makanannnya datang lebih lama waktu menunggu makannya. Ehmm.. kayaknya kurang kenyang juga. Hhahah. Kami bersemangat untuk next shcedule. Semua perlengkapan dah ready, aku juga sudah menyiapkan camdigku. Tak mungkin terlewatkan setiap momentnya. Full charge batt. Aku siap. Seperti prajurit menenteng AK-40 ditanganya. Bedanya yang aku pegang DCS W-150 Cybershoot. Ditemani 3 orang pemandu dan team keamanan, kami seperti prajurit. Seperti pasukan SWAT lengkap dengan rompi anti peluru, bedannya yang kami pakai rompi pelampung. Hehehe.. Penjelasan, pengarahan, warning, nasehat semua jadi paket komplit. Setelah kami siap lahir batin, dan memang harus lahir batin untuk melakukan semuanya. Datanglah truck, kalau di desaku biasa buat mengangkut pasir, sapi, atau panen hasil sawah. Naiklah kita, dan memang harus naik. “Kita akan ke hulu sungai untuk memulai Body Rafting. Dan benar saja perkiraanku, truck menuju beberapa bukit, tanjakan, turunan curam, jalan sempit, dan kangan berharap jalan aspal, semuanya jalan setapak yang hanya cukup untuk satu kendaraan. Sesekali kita berteriak, kadang merasa ngeri melihat jalan yang dilalui, namun setelah beberapa kengerian, kita terbiasa dan mulai dech. Foto2. Wakaka.. pancet wae.



Indah. Nyata. Belum pernah sebelumnya. Sudah sangat lama aku tidak maen air. Di sungai yang jernih berwarna hijau. Body Rafting yang dimaksud ternayat adalah menyusuri sungai dengan bermodal rompi pelampung saja. Sejurus kemudian ingatan saat aku masih jadi bocah petuaalang melayang tak terkendali. Saat loncat dari tebing ke sungai. Suara debur air saat benturan dengan tubuhku membuatku hidup kembali. Seaakan ada aliran semangat mengalir dari kejernihan air, meresap perlahan, kuat menyusuri setipa pembuluh darah, bertemu di pembuluh kapiler kemudian tersalurkan lagi. Hingga tidak ada 1 mm pun pembuluh darah yang tak tersentuh. Bermuara di jantung kemudian terpompakan kembali ke seluruh tubuh. Menghidupkanku beberapa kali.



Tak ada ketakutan karena gak begitu bisa renang, pan pake rompi pelampung. Kadang kami berenang menyusuri air tenang yang dalam, sering juga ikut arus air yang deras, seperti terseret ombak. Melepeaskan diri untuk melawan arus. Hanya menerima kemana arus air akan memebawa. Jika dirasa track sungai kurang aman dinilai oleh tim keamanan, maka kami diajak menyusuri sisi sungai. Yang paling menajubkan adalah saat berenang menengadah ke langit di bagian sungai dalam. Sambil melihat biru langit, melihat curam tebing, hijau lumut, akar-akar pohon yang bergelantungan. Indahnya. Kemudian aku menghirup nafas dalam-dalam. Merasakan setiap butiran segar udara. Menyusuri hidungku, ke tenggorokan, bronchus, broncheolus, masuk kejutaan alveoli. Ditangkap sel darah merah kemudian diberikan ke setiap sel dalam tubuhku. Aku penuh. Dan hujanpun melengkapi setengah dari akhir body rafting. Lengkap sudah semua. Alhamdulillah. I’m happy.



Hari selanjutnya adalah traveling dan visiting di obyek2 wisata. Foto2, ngakak2, cerita2, naik kapal, jalan2, lihat terumbu karang, ke pantai, liat sunset. Pantai pangandaran, pantai hiu, cagar alam, dan satupantai lagi aku lupa. Hari yang memuskan. Tanggal 9-10 Januari. Thank a lot Ottoy. Dah mengajakku. Kuanggap sebagai hadiah milad buatku. Buat gank traveling Ottoy thanks u am much.



















2 comments on “9-10 Jan 2010

  1. Sigoese
    November 18, 2012

    apik iki…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 16, 2010 by in [Melancong] [Kuliner] and tagged , , , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: