9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Championz



“Sesuk neng okost Yib?”. “Aku mlebu Bro, planning. Muleh kerjo, maghrib di Mega Mall, Mie Jowo, XXI Robin Hood, Ngopi, Nonton bareng Final Liga Champions. Melu?”



Seperti biasa, aku terdiam sejenak berfikir. “Melu!”.



Jam 4 sore kuberlari ke bekasi bersama astrea grandku. Ikut berjubel bersama ribuan motor dan ratusan mobil sepanjang Jl. Raya Bogor, Sepanjang kali malang. Pasti sangat macet, karena bersamaan pulang kerja para ‘budak-budak’ jakarta, termasuk aku. Meski hari sabtu, tetap saja macet. Justru karena sabtulah OT dibayar lebih dari hari biasa. But, not 4 me.



Harusnya 1 jam dah nyampek bekasi, aku harus menguras keringat dan konsentrasi untuk sampai dengan waktu 1,5 jam. Tempat berhenti yang paling aku suka adalah masjid mujahidin bekasi. Suara Imamnya mak nyus. Sambil nunggu maghrib aku sms Ottoy. “Aku wez neng bekasi Bro, kowe wez neng kost po urung?”. “Langsung neng mega Mall wae Bro, motormu titipke Mall wae, sesuk lagi dijupuk”.



Habis maghrib langsung cabut ke Mega Mall, butuh waktu sekitar 10 menit dari masjid mujahidin. Masuk kemall, parkir motor, nyari jalan ke tempat janjian. Dan, seperti biasa. Harus sedikit bingung arah baru ketemu Ottoy. Dia dah di depan Mall bersama Didi. Didi adalah temennya Ottoy. Dia juga ikut ke Pangandaran pas body rafting Januari lalu. Masih nunggu Anggi ma Fany (cow semua). Sejurus kemudian Anggi ‘ditemukan’. Tinggal nunggu Fany. “Fanny bawa mobil, kita tunggu di halte depan wae”komando Ottoy.



Menunggu 20 menit lama juga ternyata, sejurus kemudian hunday i20 datang. Bersama seorang lelaki gede, rambut potong gundul. Begitu kita masuk mobil dia berkata “Sory, tadi muacet buanget kali malang. Pancen bekasi Juancok!!!” “Wahahaha…..” aku ma Ottoy ketawa. Bahasa suroboyoan. Ternyata Arek Malang si Fany.



Mie Jowo we coming!! i20 menuju ke arah pekayon, menuju Mie Jowo. Fany baru pertama kali ke mie Jowo. 20 menit kemudian nyampek juga. “Antri 6 Yib! Kata penjualnya begitu kami tiba. Untung Cuma 6. Paling nunggu 30 menitan. Ottoy ma Didi mie godok, Anggi Menjangan, Aku ma Fany mie goreng. Hehm….



Best scene di mie jowo adalah saat Fany bertanya ke penjualnya dengan wajah serius, “mie goreng sing digoreng opo Buk?” Koor kami ber4 menjawab, “Ya Mie lah!!!” “Hahahaha… Semua orang yang di warung ketawa.



Sambil makan, Anggi ngabsen. “An kamu pegang mana? Inter or bayer?” “Inter” jawabku. “Siap2 traktir ya, kita semua pegang Bayer” kata Anggi optimis. “Kita buktikan tar malem ja deh” belaku sekenanya.



Entah karena lapar atau enak, waktu makan dengan waktu menunggu terlalu jauh perbandingannya. Yang jelas, semua piring dah kosong. Nyammi.

Yukz lanjut, jam 9 Robin Hoodnya. i20 kembali melunjur ke Mega Mall. Tepat jam 9 malem kita dah duduk dibangku nomor F, menghadap tepat ke layar lebar tanpa harus menggeser tulang leher sedikitpun. Nyaman. Beberapa saat kemudian aku menjelma menjadi Robin Hood dengan semua perjalanannya selama 2 jam. Mengaruhi setiap penggal kisahnya. Seolah aku menjadi semua tokoh yang ada di layar lebar di depanku. Nyata. Tak bisa hiking, ke pantai berselanjar didunia maya pun tak apa. Puas nonton. Kita lanjut ke agenda selanjutnya, tapi Fany bersama i20 gak bisa ikut. Dia ada acara. Tak apalah.



“Naik angkot or taksi?” tanya Didi,sebagai tuan rumah acara nonton. Coz nontonnya dirumahnya. “bedanya?” tanya Ottoy. “beda 2.000 rupiah, tapi kita untung di waktu, gak jalan kaki dan kenyamanan” “OKE!” “Taksi, paling Cuma 20rb, bagi 4 jadi 5rban”. Mantabz. Sejurus kemudian kita sudah didalam vios, meluncur dengan nyaman ke rumah Didi di daerah Kelapa Dua.



Turun dari Taksi, KFC dah tutup. Hahaha.. kita laper lagi. “Ke rumah dulu ja, tar pesen MD ja, bisa dianter, 24 jam kok, ada paken ayam plus nasi juga” kata Didi. Sepertinya dia dah biasa pesen. Setelah jalan 3 menit, nyamek juga di rumah tingkat 2, aku gak tau jalan apa. Malem euy. Hehehe.. Dilantai 2 dah menanti TV berlayar lebar. Eh ternayata nontonya di Monitor di kamar Didi. TV yang lebar gak ada channel RCTI, adanya saluran luar. Fiuh. But, its Ok.



“Jadi pesen gak?” tanya Didi.Lihat di komputer ja menunya (komputernya Didi konnect Internet). Yupz… masing2 kita dah menentukan pilihan menu. Didi yang pesen buat dianter. “Jam 1.50 pesanana datang”. Pas, 10 menit sebelum Final Liga Champions.



Makanan datang….. Sikat habis sambil nonton. “GOLLLL!!!” menit ke 35 aku berteriak kegirangan. Hahaha.. 1-0 untuk inter. Milano executor. Tapi aku sportif. Aku salami satu persatu mereka, “Sory ya, 1-0 neh. Jadi gak enak” Hahaha. Si Anggi sudah frustasi. “GOLL!!” lagi2 milano di menit ke 70 membuat 2-0 untuk Inter. Hahahaha…. dan itulah skor akhirnya. Ball position 30% Inter-70% Bayer. 2 kali shoot oleh milano, 2 kali Gol. No Missing shoot!!” hahaha. Aku puas.



Satu jam tidur sudah cukup. Subuh. Lanjut tidur babak ke dua. Jam 9 bangun. Nonton Dark Knight di file blue ray, tak ada bercak sedikitpun. Mantabz. Kalau pake Lepiku paling gak kuat. Terlalu guede filenya. Dhuhur tiba. Lanjut ke toko sepeda, Ottoy mau cari Low bike, Buat berangkat kerja katanya. Selesai tanya ini itu di toko, meski belum deal beli tapi dah punya gambaran. Action di Rumah Didi selesai. Aku ma Ottoy balik ke bekasi. Aku ambil motor di Mall, langsung cabut ke cikarang. Pekanan menanti. I’am Coming cikarang. Selesai Liqo, eko bilang “Di suruh ke rumah Ustadz jam setengah 6. Ada yang mau dikasih dari ustadz”. Apaan ya? Penasaran juga.



Wuahh… makan sate gule gratis sepuasnya. “Ada sedikit rejeki, tadi dikasih temen. Ayo kita makan” Kata ustadz. Wah, rejeki nomplok ini. Yosh, tidak akan sungkan lagi, nasi nambah 2 kali, satu mangkok gule, ehmmm satenya lupa dah berapa tusuk yang aku santapz. Tibalah juga hidangan penutup jambu air. Yuppi. Lengkap sudah semuanya. Ust Syaibih memang begitu orang, suka loyal kalau masalah makanan. Hahaha..



Aku balik ke jakarta dengan perut kenyang. Semoga dari yang aku makan ada barokah meski hanya di satu biji nasi. Sebab aku gak tau bagian mana itu, apalagi di rumah Ust, makanya aku makan banyak. Hehehe…



I’am I so different now? I don’t know. Kadang, saat kita naik motor di jalan berlubang. Prioritas pertama bagaiman tidak terkena lubang. Tapi, ada kalanya saat kita motoran di malam hari dengan lampu motor yang kurang terang. Lubang di jalan baru terlihat sepersekian detik sebelum ban depan menyentuhnya. Saat seperti itu, aku akan memilih untuk tidak berkelit menghindari lubang, tapi memperkuat pegangan agar tidak terjatuh saat ban depan berbenturan dengan lubang tapi. Mungkin sperti itu hidup juga. Asal pegangan tangan kita pada motor kuat, lubang akan terlewati dengan lancar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 2, 2010 by in [Yang Kukenal] and tagged , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: