9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Rumahku



Continued,

“Sing nggowo hadiah Mbas Arin, ngambiri Mbas Arin disik. Trus ngampiri Anggit, langsung budal neng Akad nikahe Nurul”. “Hah?” Wah, mesti telat ki. Yo wez langsung budal. 10 menitan kemudian nyampek di depan rumahe Arina. Begitu di klakson dia langsung keluar dengan membawa 2 bungkus hadiah buat Leha. Tanpa babibu, kita cabut ke Anggit. 30 menitan kemudian klakson berbunyi lagi. Fai ‘ngambil’ Anggit dari rumahnya. Hahaha.. masih sama, gak tambah gede nich anak. Tetep cilik. Ada yang baru, pake jilbab. Eh, pas ditanya sejak kapan? Ternyata disuruh Fai make buat ke Akad Nikahe Leha doank. Fiuh, kaget hampirnya.nHebat Fai rek.

Setelah Fai ma Arin debat singkat mau pake rute yang mana? Akhirnya telah diputuskan make rute yang itu. Aku dah agak lupa nama2 jalan dan lokasi, tapi masih ingat tajam jika melewatinya.

Mazdanya Fai meluncur ke lokasi. Prediksi. 30-40 menit baru nyampek rumah Leha. Moga Pak Najib telat, sehingga bisa nyampek tepat waktu, minimal mendengarkan pengucapan Ijab Qobulnya. 40 menit waktu yang singkat jika dilalui dengan bercerita, bercanda, bernostalgia. Serasa masih ada seribu cerita dalam seribu malam yang takkan habis dikenang. Saat bercerita tentang masa kuliahku, Anggit diem. Saat bercerita liku2 di Cikarang gantian Fai ma Arina diem. Hahaha… Saat bercerita Fai dengan Anggit semua bicara dan heboh. Hahaha.. ada-ada saja.

Yapari, sekian gang sebelum masuk rumah Leha ada orang hajatan juga. Jadi ngambil jalan lain. Dan… tersesat. Yach. Payah. Memalukan sebenarnya, terpaksa nelpon adiknya Leha buat njemput. Hahaha.. aku malu.

Nyampek juga. Dan sesuai prediksi. Acara Ijab Qobul udah selesai. Cumiatmoko cengar cengir disana. Coz kita janjian dateng bareng eh, kami telat. Leha masih berpakaian lengkap, “Suamimu mana Leha?” “Si Dwi pulang ke rumahnya, disuruh Ibukku ke rumahnya” “O”. Ya wez, kita makan aja. “Buk satenya ditamabahi, kalau segini buat Aan doank dah habis” pinta Leha pada Ibuknya. Tidak ada yang ketawa (dah gak kaget) hahaha. Sikaaaat. Maklum dari kemarin malem belum makan. Bismillah. Lap-lap lap. Makan dengan lahap. Lap lap lap, adeknya Nurul ngambil foto kami yang lagi makan. Dan masih saja sama, guyonan ora karuan. Nggacor ngalor ngidul. Encourage me.

Cumiatmoko pulang dulu, coz ini hari terakhir sertifikasi ISO Fakultas, dia jadi Panitia. “Kasihan Bu Asri sendirian, aku balik disik. Tar ketemu ndek kampus ae”. Andang berlalu dan kami melanjutkan bercerita, berfoto dan bercanda. Setelah puas, dan Arin mendapat rute kembali yang jelas dari Leha kami undur diri.

“Kite ke Aya (nama anaknya senduk), waktu lahiranya aku belum sempet liat” pintaku. “Terserah kowelah Tum, dino iki aku dadi sopirmu”. Ke fery, mampir bentar ke rumahnya Anggit sambil nganter pulang, ke kampus C njemput Andang, langsung ke BungurAsih. Seperti itu rencanya.

Aya lucu…….., bersih, tidur pulas sepanjang kami bercerita masa lalu dan masa depan bersama-sama. Habis duhur cabut.

“Aku Cuma mampir bentar lho Nduk, gak ada bandeng srini seh” kataku ke Anggit. “”srani!!” kata Anggit membetulkan pengucapan srini yang sengaja tak kuubah sejak salah pertama kali. Pas kesana, aku langsung berselorok, “Meniko Arina, meniko Faizal Buk”. “Nek seng iku (menunjuk Fai) dah ada namanya neng bathuk e” hahahaha… “Sampun cekap semanten, badhe ngglajengaken lampah” kataku saat pamitan. Anggit, Fai, Arina melongo. Cuma aku ma Ibuknya Anggit yang paham. Walah parah arek enom jaman saiki. Menuju kampus C.

Ada yang berbeda di kampus C. Di dekat pintu gerbang samping kolam besar. Bertengger gedung besar, megah, indah. Calon rumah sakit pendidikan. Hebat. Sugoi!!! Aku ambil beberapa jepret fotonya. Aku bangga.

Mana Cumi, lama kali dia. Setelah ditelpon baru datang. “Tau gak? Ternyata STNKku ketinggalan di Madiun, jadi selama ini aku gak bawa STNK kemana-mana” kata cumi ketika ketemu kita. Kami biasa aja, dah gak kaget ma Cumi. Woalah Pak Dosen.

Dan waktu berlari begitu bersemangat, terlalu cepat bahkan saat meluncur ke Bungurasih. Belum semua kisah aku ceritakan, belum semua kengan kami kenang. Saat kubuka pintu Mazda, aku dan Andang sudah di terminal. Menyapa Faizal dan Arina yang pergi berlalu tanpa menengok dengan Mazdanya Faizal. Meninggalkan aku dan Cumi di terminal. Satu bis kami, dapet tempat duduk kali ini. Melanjutkan cerita yang sempat tertunda sekian lama. Hingga, tertidurlah masing-masing kita. Saat tersadar Madiun dan Magetan sudah sangat dekat. Andang ke Madiun menemui Ibunya dan STNK motornya. Aku menuju Magetan, ke Bangsri. Melepas ikatan kepala sejenak, melonggarkan ikat pinggang sebentar, memakai pakaian longgar di rumahku. Tempat ternyaman yang aku rasakan selama ini. Dan masih.

Desaku yang kucinta, pujaan hatiku

Tempat ayah dan bunda, dan handai taulanku

Tak mudah kulupakan, ……………………

Bersenandung dengan lagu masa lalu. Serasa semua tembok, kursi, meja, lantai, tempat tidur menceritakan secara detail bagaimana aku dulu. Serasa phon mangga, cagak listrik, boh, dan hamparan sawah membisikkan siapa diriku dulu. Dan suara Bapak dan Ibukku mengembalikan semua kehampaan dihup di negeri orang. Dan aku merasa terbang bersawa kawanan angsa mengeliling semua benua rasa dan cerita masa laluku. Aku suka.

Di rumahku,

Aku melihat langit biru dan gagah sang Lawu.

Di rumahku,

Aku menatap malam bertabur bintang,

Dan kusadari betapa indah rembulan bersanding dengan sang bintang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 17, 2010 by in [Melancong] [Kuliner], [Yang Kukenal] and tagged , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: