9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Man Jadda Wajada (Part 1)


“An, mbahkung ngamar neng RSI Mediun. Melu ndongakno ya” 16.30 (Hari minggu, 28 Nov 2010). Kacau rasanya sudah. Aku telpon, gak diangkat-angkat Hpnya Ibuk. Jam setengah 8 malem, ibuk telp aku. “Eneng opo Le, iki Mbah kritis. Uwez tak jaloke sepuro kabeh sakkeluarga. Wez yo Le, akeh ndonga. Askm” “klikk” HP dah putus, padahal aku belum berkata apa-apa. Jam 20.00 malem ibuk telpon lagi. “Askm, Le. Mbakung meninggal. Ora usah muleh. Melu ndongakne wae soko kono” “Klikk” Lagi-lagi HP dimatiin tanpa aku sempet ngomong sepatah. Dan mungkin aku juga tidak tau harus mengucapkan apa. “Innalilahi wa innaillaihi rajiun”.

Aku terdiam beberapa saat, Hanya sekian menit, ehmmm detik mungkin. Aku memutuskan untuk pulang!. Ku ambil peralatan manadai, dan pakaian 2 pasang. Berangkat.

Diangkot, aku berfikir. Pulang naik apa ya jam segini. Kereta dah gak nututi. Bis apalagi. Pesawat? Mungkin!. Sopir angkot dengan cuek tetep melaju 37 menuju ke rambutan. Seakan tak tau bahwa aku tergesa. Dan jalan sepanjang jalan raya bogor tak ubahnya pada hari-hari sebelumnya. Masih sama macetnya dan hilir mudik pekerja pulang ke rumahnya. Aku juga akan pulang.

Aku cari di mbah google contact masing-masing penerbangan yang apaling malam. Dapat garuda tapi hanya jam sembilan, gak nututi. Belum perjalanan ke Bandara. Pilihan jatuh di Lion Air, jam 21.40 dengan estimasi delay. Nyampek rambutan bis bandara dah abis. Rabbi.

Ketemu bapak pake baju biru muda dengan gambar burung kecil2 menyebar dideluruh bajunya. Baju yang tak asing bagiku. Sopir blue bird. “Pak, ke bandara berapa menit ya? Saya ngejar pesawat jam 21.40”. “Kalau gak macet standartnya 45 menit kecepatan full”. Saat itu jam menunjukkan 21.05 Pas. “Gimana Mas?”. “Oke Pak kita berangkat. Saya harus pulang. Kakek saya meninggal”. “Innalillah, ayo Mas. Moga masih keburu”.

UEDAN!! Sopirnya. Kayak naik sedan balap. Aku jamin, kalau yang naik punya sakit jantung bakal teriak2 sambil mukulin tuch sopir. Jalan seramai itu masih saja bisa ngebut. Dan aku hanya bisa berpenganan erat. Agar tak jatuh keteguhanku untuk pulang. Dan berdoa agar pesawat delay. Aku belum dapet tiket, dan tak tau masih bisa beli tidak. Man jadda wajada.

Sempet gak percaya, 21.42 nyampek depat Lion Air. Aku langsung ngacir ke loket. “Pak, tolong satu tiket ke surabaya. Penerbangan sekarang. Saya harus pulang, kakek saya meninggal. Tadi telp masih ada tempat kosong”. “Maaf Mas, sudang boarding. Loket sudah ditutup”. Arghhhhhhhhh. Aku gak terima. Aku terus berseloroh pada satpamnya. Bahwa aku kudu pulang. Berapapun harga tiketnya. Gak tau dah, akhirnya si satpam bertanya ke dalam apakah masih bisa. Dia balik lagi ke saya. “Bisa Pak, tapi harga tiketnya mahal. Sekian Tiittt. Dan harus tunai katanya. “Oke!” kataku jelas. Tegas. Setegas masih pendirianku untuk pulang. Aku dan satpam berlari untuk mengejar chek in. Menyerahkan tiket ke aku dan mengantarku ke tempat tunggu pesawat. Dan benar. Pesawat Delay. Alhamdulillah. “Sudah ya Mas, sampek disini” Tinggal naik saja nanti. “Oke Pak” Jawabku.

“Pram, aku entuk tiket, Papak aku neng Juanda ya. Engko muleh bareng wae” smsku ke adekku. Sambil nunggu pesawat, aku amati tiketku. Tempat duduk 30B, Putra Muba Mr. Hah? Siapa ini? Aku?. Deg deg deg. What ever. I don’t care! I wanna home. Now! Terserah mau jadi penumpang gelap atau mau ada razia atau aku gak dianggap naik pesawat. Kalu ada apa2pun tidak ada orang yang tau kalau aku naik pesawat ini.

Pesawat datang dan aku menyerahkan tiket Muba Putra Mr. Siapa itu aku juga tidak tau. Lolos. Aku masuk ke dalam pesawat. Aku terdiam dan berharap pesawat segera take off. Ingin tidut 1 jam 10 menit dan saat bagun dah di Juanda. Tapi mata ni tak bisa. Padahal baru tidur 3 jam itupun kemarin malam. Dan akhirnya pesawat take off juga. Rabbi, please encourage me.

Betapa kecil lampu-lampu jalan itu. Semakin ke atas terlihat semakin kecil, membentuk jalur bertemu dengan jalur. Ada lampu merah, kuning putih. Menghias semua jalan yang semakin lama semakin redup. Kemudian hanay terlihat gelap pada ketinggian 35,000 kaki. Betapa kecil kita terlihat dari 35,000 kaki. Maka jauh lebih kecil lagi terlihat dari Arsy-Nya.

“Pasang kembali sabuk pengaman anda, dalam 10 menit ke depan kita akan landing”. Mbahkung, putumu muleh. (Continued)

2 comments on “Man Jadda Wajada (Part 1)

  1. Dwi Yulianti Nugroho
    December 4, 2010

    Nderek bela sungkawa pak aan . . .semoga beliau mendapat tempat terbaik disisi Allah swt . . . amin

    terus gimana, ditunggu versi part 2 nya . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 2, 2010 by in [Perjalanan Hidup] and tagged , , , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: