9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Man Jadda Wajada (Part II)


Part II,

Lama sekali jedanya, tak apa apa dari pada tak dilanjutkan.

Sudah agak lupa detailnya, tapi masih ingat riak riak kesan dan kejadian yang berkesan. Bismillah, kulanjutnya man jadda wajada part II.

Nyampek Juanda sekitar jam 12malam atau pukul 00 dini hari. Pram, adekku sudah menunggu ditempat parkir sekitar satu jam sampai terkantuk kantuk (gomenasai). Setiba di parkir motor Juanda, aku ketemu adekku, “Baru aja hujan sangat deras mas” katanya menyambutku.

Yupz, planningnya adalah, Langsung cabut ke Bungurasih, naik bis ke maospati, telp Koko(adekku yang paling kecil) bertanya kapan dikubur dll. Dari Juanda aku dibonceng Pram ke bungur, jadi teringat dulu pas SMA (aku kelas 3 dia kelas 1). Tiap pagi berangkat aku dibonceng dia berangkat bareng. Pake motor yang sama.

Surabaya dingin malam itu, lebih dingin dari dulu saay aku kuliah aku rasa. Semakn dingin suranaya akan semakin disuka. Dan kamipun melaju menuyusuri jalan-jalan yang aku sudah agak lupa. Hanya sesekali jika melewati suatu tempat yang aku pernah melewatinya aku teringat sesaat. Pukul 01.00 nyampek dipenitipan motor bungur, ditempat langganan adekku nitipin motor sepertinya. Tanpa banyak ba bi bu, kami lanjut ke jalur bis solo-jogja-semarang. “naik apa mas?” tanya Pram. “Sumber kencono” jawabku mantab. Bis yang biasa aku naiki sejak dulu kuliah. Bis favorit, melaju dengan kencang, gak banyak ngetem, pemberani sopirnya, murah harganya. Kali ini aku milih bis AC tarip biasa. Cuma satu alasannya, bebas asap rokok. Itu saja.

Dulu, belum ngtrend bis ekonomi AC tarip sama seperti bis non AC. Tapi sejak aku lulus kuliah mulai ngetrend dan banyak. Aku suka. Andai saja sejak dulu kuliah, pasti dah langganan. Hehehe.

Dan, pak sopir seperti biasa kalapnya. Wuz wuz wuz, nyalip sana sini. Dan aku menikmatinya seperti sudah terbiasa. Lama kutahan, akhir ngantuk juga, aku tertidur pulas. Kadang bangun sesaat, melihat jendela sebentar, kemudian tertidur lagi. Baru benar-benar kupaksakan bangun ketika sudah sampai di Madiun. 20 menit lagi nyampek Maospati. Dan benar saja, kita nyampek maospati, setelah penantian, was was dan kekhawatiran. Jam 03.30. Busyet! 2,5 jam doank. Edan. Pada hari biasa, surabaya-maospati 4jaman. Ini 2,5 jam jack.

“Telponen Koko Pram, tanyain kapan dimakamkan” pintaku ke Pram. Sejurus kemudian Pram pegang HP, nelpon Koko. Berbincang beberapa saat. Hanya beberap kata yang diucapkan Pram yang aku dengar, dan menebak kira-kira apa isi pembicaraannya. “Tadi malem belum sempet dimakamkan Mas, katanya Hujan angin sangat deras. Dimakmkan pagi ini” kata Pram menerangkan. “Yosh!” masih ada waktu tersisa untuk ikut menyolatkan.

Subuhan di mushola maospati sambil nunggu jemputan dari Koko. Habis subuh pas Koko datang menjemput. Kita bertiga naek MegPronya Koko, istilah jowone ‘Telon’. 1 motor dinaiki 3 orang (tapi menurutku dinaiki 4 orang, kalau Koko dihitung 2, hahahaha). Dan yang aku suka dari magetan, tak ada polisi jam segitu. Aman. Hehehe.

Magetan dingin, sangat dingin. Mendinginkan kulit, tapi tidak dadaku. Sepanjang 20 menit perjalalanan Maospati-Bangsri. Semua tentang Mbahkung tampil satu persatu dalam banyangaku. Seakan memutar kembali semua memori saat aku masih dusuk kelas TK sampai 4 SD. Saat mbahkung mbikini mainan dari kayu, saat mbahkung ngajak nonton ketoprak, ludruk, wayang, layar tancap plus dengan jajan dan kacang godog special. Dan, pulang nonton bareng Mbahkung aku digendong sampek rumah. Aku tertidur dibalik sarung mbahkung, merasa aman dari semua yang kutakuti kala itu. Romantic.

Nyampek juga di Rumah, taruh tas langsung cabut ke Rumah Budhe. Tempat Mbahkung sebelum dimakamkan.

Begitu aku nongol sambil mengucap salam, “Loh! Kowe muleh Le!” Langsung saja Ibukku memelukku sambil menangis. “Dikandani ora usah muleh kok tetep muleh”. Kucium dahi kepala Ibukku sambil menenangkannya. Reaksi yang sama pula kepadaku oleh Budhe dan Mbokde Sam. Bapakku biasa saja. Sama seperti biasanya. Bapak sangat ikhlas, puas, rela, legowo dengan kepergian Mbahkung. “Wez lengkap Le Mbahkung iku, dadi kudu legowo”.

Saat detik2 terkhir Mbahkung meninggal, yang menunggu dan menuntun sayhadat adalah bapakku. Sedang Ibuku membaca qur’an disamping Bapak. Tepat saat kaki Mbahkung mulai dingin dan beranjak ke bagian tubuh atas Bapakku menyaksikan. Bahkan hingga saat mata dan mulut mbahkung menunjukkan ruh dicabut Bapak dan Ibkku yang menggui disamping Mbahkung. “Semua berjalan cepat dan lancar An, gak ada yang perlu ditangisi” Bapakku menjelaskan.

Setelah keluarga tenaang, aku ambil wudhlu. Aku ajak Pram menyolatkan Mbahkung. Aku bukak keranda, aku pegang kepala Mbahkung yang terbungkus kain kafan. Kutatap lekat, erat untuk terakhir kalinya sebelum dikubur. Aku ingin bilang, aku bangga memiliki Mbahkung sepertimu. Sebuah kehormatan menjadi cucumu.

Setelah Pram siap, kami sholat jenazah. Dalam perjalanan aku sempat buka internet lewat HP, nyari tatacara sholat jenazah beserta do’anya. Takut ada yang lupa sambil menghafap kembali. Lahir dengan suara Adzan, kembali ke yang punya dengan disholatkan. Sama-sam tak membawa apa apa kecuali kain pembungkus badan. Pun aku akan disholatkan juga suatu saat nanti, hanya menggu waktu saja.

Dulu, waktu kecil. Aku suka digendong mbahkung kemana-mana, namun pagi itu aku yang menggendong keranda mayat Mbahkung. Membalas menggendongnya untuk pertam kali danterakhir kalinya. Dulu, kadang Mbahkung atau bapak minta diinjak-injak dipunggungya kalau mereka lagi capek, agar pegal pegal hilang. Habis nginjak-nginjak dapet uang jajan. Namun, pagi itu juga aku menginjak-nginjak kembali mbahkung, tepat diliang lahatnya. Untuk terakhir kalinya.

Dan semua peserta peziarah menyaksikan seorang anak manusia kembali ke Rabbnya. Penggemgam ruh dan jiwa manusia. Tak ada yang bisa menolaknya.

Mbahkung. Setelah kami pulang, Mbahkung akan ditanya malaikat. Aku hanya bisa berdo’a semoga lancar, mantabz dan dilapangkan dikubur.

*Pagi itu langit cerah, sangat cerah sekali. Tak ada penyesalan sedikitpun aku pulang. Feel satisfied. Complete.

Sorenya, scania melaju dengan nyamannya membawaku kembali ke Jakarta. Merantau untuk hidup dan menghidupi nantinya. Ingin meniru Mbahkung menjalani kehidupanya. Kelak, jika anakku bertanya tentang cerita detail judul ini, “Abah, ceritaain waktu Mbahkung meninggal sebenarnya bagaiamana?”. Akan aku jawab, “Mari, aku ceritakan bagaimana Mbahkung menjalani kehidupannya” (meminjam ending film last samurai). Maka disetiap cerita ada hikmah dan pelajaran yang harusnya memberi petunjuk buat kita.

Jakarta, 23 Januari 2011. 55 hari setelah meninggalnya Mbahkung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 23, 2011 by in [Perjalanan Hidup] and tagged , , , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: