9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Mak Ati


Mak Ati,

Janda pensiunan petugas KA, Anak tiga, Cucu enam cicit 3 (Kalau tidak salah ingat). Karena Istri pensiunan petugas KA, ia dapet akses bebas naik kereta (Kelas Eksekutif ke bawah).

Ingin menulis orang ‘unik’ satu ini. Mumpung masih agak ingat dan belum begitu samar kenangan di kereta Gumarang Jatinegara-Pasar Turi.

Pas mau duduk di bangkuku, sudah ada nenek berjilbab ketat, pake kaos, dan celana jeans. Gaya anak muda dalam tubuh wanita umur 60th keatas. Untuk memastikan tempat dudukkku, aku mengucapkan no dudukku dengan nada bertanya. Dia mengiyakan no tempat dudukku disampingnya.

“Maaf lho Mas, mak membawa 2 keponakan Mak. Yang itu dan itu. Dia menunjukkan sepasang suami istri yang dimaksud keponakannya. Keduanya duduk di corridor dan lorong kursi. Jatah gratis duduk hanya untuk satu orang. Maka kedua ponakannya hanya bisa menikmati perjalanan gratis tanpa dapat tempat duduk. Dan lagi pula saat itu ramai, sehingga banyak orang yang duduk di lantai corridor. Mendengarkan semua penjelasan itu, aku tersenyum saja sambil manggut manggut sesaat. Hanya basa basi. Padahal dalam hati kadang berkata,”kok enak ya, bisa bawa 2 orang gratis.”.

Awalnya aku agak risih, karena satu ponakannya tidur dengan cuek di lorong kursi dan satu lagi di lantai lalu lintas jalan. Hanya beralaskan koran. Sebenarnya hal itu dah menjadi kebiasaan di kereta bisnis pada akhir pekan. Tapi aku jadi gak bisa selonjor. Kaki kudu ditekuk biar gak kena salah satu ponakannya. Sedang Kulirik mak Ati duduk dengan ‘jigang’ nyantai. Busyet.

Awal Obrolan adalh cerita ttg kampung dia di Bekasi yang selalu jadi kampung pemenng lomba RW yang paling bersih dan Asri. Dia juga cerita bahwa minggu kemarin baru masuk TVRI karena prestasi kampung teladan dan kampung asri. Dia menceritakan bagaimana Rwnya sangat kompak dalam menata tumbuh2an dan kebersihan. Ada iuran sampah, iuran ini itu dan yang lain-lainnya. Hingga menceritakan jika ada warga yang meninggal. Akan dapat uang santunan dari RT sekian, RW sekian, Desa sekian. Sehingga dia menceritakan pas suaminaya meninggal ia tidak mengeluarakan uang sepeserpun. Semua dah ditanggung kampungnya. Termasuk biaya ambulan dan penguburan. Semua kebutuhan dan tenaga sudah langsung otomatis gotong royong warga kampung. “Jadi, aku tak melakukan apapaun kecuali menangis”

Hebat, aku kagum. Seharusnya memang seperti ini.

Dia bercerita, bahwa tetangga tetangganya banyak yang iri karena banyak tanaman yang ‘aneh’ di pekarangannya. Nyari dari mana dan gimana cara epemeliharaannya adalah pertanyaan sehari hari yang dilontarkan tetangganya. Dan menurut Mak Ati tak ada yang istimewa, dia mendapatkan tanaman2 itu pas dia lagi jalan jalan ke suatu kiota atau daerah. Jia ia suka, diambillah tanaman itu ke Bekasi untuk dipelihara. Dan tumbuh dengan subur. Paling hanya dipupuk dan di airi secara rutin. Dah itu saja, tak ada special treatment.

Mak Ati juga punya koleksi beberapa burung kicau. Diua juga mendapakan burung2 itu bukan dari pasar burung. Melainkan saat dia pulang kampung atau ke suatu daerah ia membeli pada penjual dipinggir jalan. Dan semua lancar berkicau dan tumbuh besar.

Ia juag bercerita bagaimana perjuangan dia (sebagai seorang janda), merenovasi dan menaikkan rumahnya satu tingkat. Itu berawal dari saat dia sakit hampir seminggu sehingga tidak jualan (mpok Ati punya satu kios di salah stu Mall). Gara-gara sakit itu, Kiosnya ia jual, salah satu mobilnya ia jual(Punya 2 mobil, satu untuk disewakan satu pribadi), utang ke bank sekian puluh juta. Semua itu dia kumpulkan untuk mempercantik rumahnya. Kekita ditanya kenapa dengan umur sekian masih mau bangun rumah? Buat siapa?. Dia hany menjaweab bahwa supaya kalau pas lagi lebaran semua anak, cucu dan cicitnya bisa kumpul bersama.

Satu demi satu cerita mulai mengalir dengan lancar. (aku gak berani tidur).

Samapailah kita di stasiun Cirebon. Sekitar jam 11 malam. Aku ada kesempatan mendengarkan music di Hpku, Sementara Mak Ati sedang asyik melihat jendela. Sesekali aku liat ada asap mengepul (Aku ragu. Masak seh?). Begitu ia berbalik arah. Lah dalah, Mak Ati sedang merokok. “Mau?! Kalau mau ini ada Dji Sam So*.” Tawaran Mak Ati ke aku. Aku membentangkan telapak tanganku sambil tersenyum mengatakan “enggak, makasih” Jawabku singkat. Busyet neh orang.

“Rokok ini dah kayak teman mas, kalau lagi sepi atau lagi strees temennnya ya ini” sambil menunjuk roko Dji Sam So*nya. Sesekali ia berpaling ke kaca kalau lagi banyak orang lewat. Mungkin sedikit malu.

Kereta memutar kembali ratusan rodanya meninggalkan satu stasiun menuju ke pemberhentian berikutnya. Mengajak serta semua penumpang untuk berpindah dari satu langit ke langit yang lain, dari satu cuaca ke suasana yang berbeda.

Mak Ati melanjutkan ceritanya, tema kali ini ttg meletusnya gunung merapi. Saat melihat TV yang menayangkan para korban gunung merapi, mak ati menangis. Langsung seketika, pada hari itu juga ia mengumpulkan semua baju-baju yang ia milki dan sudah tidak ia pakai untuk dia antarkan langsung. Ketahuanlah aksi Mak Ati oleh ketua RT. Maka Pak RT langsung meminta warga yang ingin nitip mak ati untuk segera memberikan bantuannya. Mak Ati menolak kalau suruh bawa baju2 para warga. Mensing uang saja, nanti akan ia belikan Obat-obatan, Makanan dan kebutuhan lainnya. Akhirnya terkumpullah sekian juta (tidak lebih dari 5 jt). Dibelikanlah semua perlengkapan dan obat2tan hingga ruang mobilnya penuh. Pada paginya ia berangkat ke solo. Naik kereta, menitipkan semua barang di gerbong barang.

Perjalanan Bekasi Solo sekitar 10jaman. Untuk seorang yang berumur ditas 60 tahun, perempuan, sendirian.

Nyampek di stasiun solo, dia langsung menemui kepala stasiun untuk mengutarakan maksudnya menyumbang ke korban gunung merapi. Disambut dengan tak kalah semngatnya dari kepala stasiunnya. Disiapkan kendaraan oleh kepala KA, dan Mak ati berserta rombongan diantar langsung ke tempat pengungsian yang paling membutuhkan bantuan. Disana Mak Ati langsung melakukan serah terima barang, dan memberikan sisa uang yanga ada dari pengumpulan dana. Sehabis nyerahin bantuan, Mak ati menyempatkan maen bentar ke salah satu Familly nya di Jogja (belum istirahat sama sekali). Di rumah familynya itupun hanya hitungan jam, dia langsung cabut lagi ke bekasi naek kereta lagi (naik kereta pasti gratis).

Aku membayangkan betapa kuat nenek tua ini. Kuat orangnya, kuat kemauan dan pendiriannya.

“Gak capek Mak?” tanyaku singkat, setelah sekian lama hanya senyum2 dan terkadang menganguk mengiyakan ceritanya.

“Pengen tau rahasianya?” tanya Mak Ati. Aku mengangguk. Sesaat ia mengambil sekaleng botol minuman dari tasnya. Sekaleng Bir Angker. GUBRAKKK!!!. Aku shock!.

“Aku kalau makan sedikit wez kenyang, tadi pagi Cuma gorengan. Kalau lapar makan roti sedikit. Tapi kalau masalah minuman lengkap. Ada juice, soft drink, dan ini sambil menunjukkan “angkernya””. Aku sekarang lagi puasa ngrowot (Isalah satu puasa cara jawa yang tidak boleh makan nasi samasekali), bentar lagi genap 40 hari. Gubrak!! Untuk kedua kalinya.

*sesaat teringat kakekku jaman dulu, Mbah Kakung sering puasa ngebleng (tidak makan minum tidak sahur atau buka). Kadang 7 hari berturut turut, kadang 3 hari berturut turut. Akhirnya puasa itu dihentikan setelah diberi nasehat ama bapak.

Mak Ati melanjutkan ceritanya, (kulihat jam hampir jam 00.00 malem).

Dia bercerita ttg satu persatu laki-laki yang ingin memperistri dirinya saat jadi janda sekarang. Mulai dari anak muda hingga orang orang tua. Tapi semuanya ditolaknya, baik karena ada yang mau hartanya aja, atau mereka sudah punya istri.

“Aku gak pengen nikah lagi dengan yang sudah punya istri, kasihan anak istri mereka entar”

*Waduh, jadi agak merinding juga neh.

Akhirnya topik beralih juga, kali ini dia menasehati aku. Antara lain, kalau kita baek ma orang, tidak punya musuh maka pergi kemana mana tidak perlu takut. Tak akan ketemu musuh, bahkan akan selalu nambah saudara. Mak Ati juga menasehatiku kalau aku harus rajin nabung mulai dari sekarang, supaya bisa berinvestasi sehingga bisa menikmati masa tua. Tak lupa juga mengingatkanku untuk TIDAK sekali kali mengambil barang/harta yang bukan milik kita. Haram katanya.

Mak Ati juga punya aturan khusus buat cucu cucunya yaitu, tidak boleh pake tato, pake anting (bagi cow). Kenapa? Karena kita lahir dengan bersih tanpa cacat. Jika kita membuatnya cacat maka akan tidak sama seperti saat kita dilahirkan. Takut tidak dikenali yang punya (Alloh SWT) maksudnya. Makanya Mak Ati sering sering mewanti wanti pada cucunya, “Awas kalau ditato, kagak Mak anggep cucu” kata mak ati, “Kenapa Mak?” salah satu cucunya bertanya. “Karena kagak bersih lagi, jadi temennya jurig(setan dalam bahasa betawian) ntar” Jawb Mak Ati yang aslinya sebagai orang Surabaya.

Dan kereta melaju dengan tegap, lancar membawa semua cerita itu menuju ke arah surabaya. Membuatku bingung sekaligus kagum dengan keteguhan sikap dan kemauannya. Disusia yang sudah renta, dan ditubuh yang tak muda.

*Ketegaran bukan dilihat dari ketegapan fisik, tapi pada keteguhan jiwa membawa keyakinan yang dipegangnya.

Terimakasih untuk perjalanan yang indah ini Mak Ati.

(Salah satu alasan aku lebih suka naek kereta bisnis kebawah dan naik bis dibanding naik pesawat. Lebih banyak orang ramah disana, lebih banyak orang yang bercerita disana. Dan lebih berwarna disana)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 29, 2011 by in [Yang Kukenal] and tagged , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: