9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Anggur

Materi Kutbah Jum’at Minggu ini :

Ada seorang budak penjaga kebun anggur namanya Mubarok. Telah bertaun-taun dipercaya tuannya untuk menjaga kebun Anggur tersebut.

Suatu ketika, tuannya menyuruh Mubarok untuk memetikkan buah anggur yang manis untuk disantap Tuannya.

Berangkatlah Mubarok melaksanakan perintah Tuannya.

Sekembalinya dari kebun anggur sambil membawa buah yang diminta Tuannya, diberikanlah buah hasil petikan Mubarok tsb.

Setelah memakan buah tsb, berubahlah muka Tuannya menunjukkan raut muka tidak senang.

Kemudian Tuannya menyuruhnya memetik lagi buah anggur yang manis. Berengkalah kembali Mubarok ke kebun dan memberikan hasil petikannya. Namun hasil petikan Mubarok masih juga tidak memuaskan. Hingga beberapa kali bolak balik.

Karena Jengkel, akhornya Tuannya marah pada Mubarok, “Hai Mubarok, bertaun taun kamu saya percaya menjaga kebun anggur milikku, masak gak bisa membedakan man anggur yang manis mana yang masam. Semua yang kamu kasih adalah buah anggur yang masam. Piye tho!!”

“Tuannku, saya ini penjaga kebun, tidak lebih dari itu. Jadi saya belum pernah sekalipun mencicipi buah anggur yang ada di kebun tuan sekian lama saya bekerja pada Tuan” Jawab Mubarok.

Terkejutlah sang Tuan dengan sikap Amanah dan Kejujuran Mubarok.

Diangkat mantulah Mubarok tadi, kemudian atas seizing Allah lahirlah dari pernikahan mereka seorang Ulama terkenal Ahmad Mubarok.

————-

Dear Guys, Jadi makhluk langka kale ya si Mubarok di jaman sekarang. Hampir punah mungkin jadi seharusnya masuk “satwa” yang dilindungi. Bukan malah diejek dan dihina.

Btw, ngomongin amanah dan kejujuran. Jadi keingetan sus indomilk dari pabrik, hehehe.

Pan gini ceritanya, tiap minggu pada bulan Ramadhan ada arisan susu cair pasteurisasi dari pabrik. Nah habis maghrib aku ambil susu tuh ke Kantin 5 pcs. Aku bungkus di plastic aku simpen dilemari es. Pikirku aku ambil aja tar pas pulang (shift 2, pulang jam 22.00). Pas pulang tinggal 4 pcs. MasyaAllah. Kok iso?

———–

Jadi keingetan lagi cerita dari majalah (lupa, kalau gak salah tarbawi) ,pernah suatu ketika Imam Syafi’I yang masih kecil menangis di siang hari karena kelaperan. Dan kebetulan Ibunya lagi ke pasar. Maka oleh tetangganya diberilah makanan Imam Syafi’I yang masih kecil itu supaya tidak menangis.

Sepulang dari dari pasar, ibunya heran kok anaknya tidak menujukkakn tanda2 kelaparan. Ditanyalah Imam Syafi’i yang masih kecil. Dan taulah Ibunya kalau anaknya diberi makan tetangganya, seketika itu dirogohlah kerongkongan Imam Syafi’e untuk mengeluarkan makanan yang aru dimakan anaknya agar dimuntahkan, saking takutnya Ibunya terhadap kehalallan dank e thoyiban makanan yang dimakan anaknya.

Peuhhhh, pantes aja Imam Syafi’I jadi ulama besar, cerdas, dan memiliki hafalan yang luar biasa. Didikan dari kecilnya ngeri jeeehhhh.

———

Jadi Ironis juga kalau membandingkan dulu dan sekarang.

Kadang kita merasa, untuk mempertahankan yang dulu serasa kita dianggap manusia purba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 23, 2012 by in [Opini] [Reportase] [Analogi] and tagged , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: