9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Wani Piro?

Wani piro?

Gak tau kenapa, akhir2 ini agak risih dengan ucapan wani piro? Gak gratis lo? Traktir ya? Coklat ya? De el el el el yang lain. Pokonya sepasukan dengan kata-kata itu.

Menjadi pertanyaan besar, apa memang sudah benar ndak ada yang gratis lagi di alam nyata ini? Kenapa?

Jadi teringat emak dan bapak di kampong dan kehidupan di pucuk gunung. Budaya saling member dan sungkan kalau gak saling member. Di kampungku, karena rumahku rumah ‘mewah’ alias mepet sawah, jadi kita adalah ‘perampok’ bagi petani. Hehehe, sangat berbahagia kalau lagi banyak yang panen, baik panen sawi, ketela, mentimun, dll. Pasti ada aja yang ketok2 pintu, “Pak Wandi, meniko wonten telo sekedik kangge camilan” Padahal ngasihnya satu kresek gede. Atau kalau ada yang punya hajat, dijamin kita gak perlu takut kurang yang bantu. Dan kebiasaan di desa, justru kalau yang tuan rumah kok pake angkat angkat atau ikut cawe cawe pas lagi punya gawe bakal dimarahi ama yang bantu bantu. Gak sopan katanya.

Masih ingat jelas, kalau budhe punya makanan pasti dikasih ke Omah Lor (rumahku) pun sebaliknya. Kalau kita atau tetangga ada makanan sedikit berlebih, pasti juga saling dibagi. Semuanya gratis, gak pake bayar.

Jadi teringat sobat2ku pas SMA, Pas Kuliah kita saling membantu sepenuh nyawa (lebay) gratis. Bahkan aku pernah nulis di blog, kadang saling rebutan mbayarin makan di warung, padahal sama sama kere gak punya uang. Jadi inget juga, pas kuliah dulu sering ngutang ke temen gara gara uang saku tak cukup. Baru bayar kalau dapet beasiswa, dan itu gak ada tambahan bunga sepeserpun.

Keinget juga film “Pay it Forward” yang pernah aku tonton, keren. Bagaimana dasyatnya efek Gratis itu.

Keingetan lagi si Ottoy, orang yang selalu bilang “Untukmu ke 1000 kalinya ya Agha” setiap kali direpotin. Gratis pula, tak ada tambahan biaya.

Apa benar semuanya kudu bayar? Bahkan hanya sekedar parker dan buang air kecil? Tak ada yang gratis? Kalau inget parker jadi inget di kotaku. Pernah ada tukang parker kita kasih uang parker kagak mau, cumin gara gara kita markirnya sebentar. Aku bilang ke bapak, aneh ya pak. Gak mau dikasih uang. “Jangan samakan dengan di kota An, gak semua orang doyan uang”

Arghhh, apa benar gak ada yang gratis sich????

Bukankah sumber dari segala sesuatu yang kita dapat itu gratis? Atau memang sudah hilang rasa gratis itu? Atau gratis memang sudah terasa nikmat? Bingung….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 23, 2012 by in [Opini] [Reportase] [Analogi] and tagged , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: