9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Kerendahan Hati Dalam Kemenangan

“Olahraga adalah Kerendahan Hati dalam Kemenangan, Kesetiakawanan dalam Kekalahan”

Sebuah tulisan terpampang besar dan bisa terbaca dengan jelas meskipun dalam jarak yang cukup jauh, bahkan di ujung kolam terjauhpun. Ya, itulah tulisan di kolam renang Bujana Tirta Rawamangun.

Setip sabtu pagi saat istirahat sambil terengah engah di pinggir kolam aku membaca ulang tulisan tersebut. Meskipun berulang kali aku baca, tak ada bosan sama sekali. Justru sebaliknya, semakin menguatkan aku yang lagi belajar renang.

Kerendahan Hati dalam kemenangan,

Sangat dalam buanget ngak seeh itu. Dalem banget maknanya Mas Bro. Sebuah kemenangan bukan ajang wah, bukan tempat bilang aku yang paling. Bukan sarana untuk mendongakkan kepala dan membumbungkan dada.

Di kolam renang yang ini, aku melihat bapak bapak melatih dengan sabar anak-anaknya untuk belajar renang. Atau bahkan kakek kakek yang melatih cucu-cucunya. Ada juga memang pelatih renang melatih anak-anak kecil, mungkin baru berumur 4 tahunan anak kecil yang dilatihnya. Bayangkan, betapa rewelnya. Namanya juga anak kecil, pasti rewel, ogah-ogahan, gak nurut, suka sendiri, bahkan kalau ada yang takut air lebih repot lagi. Tapi,

Aku melihat, bapak-bapak itu, dengan sabar tetap melatih mereka.

Sayup sayup aku mendengar,

“Ayo terus,…” Terus bergerak kakinya” “Masuk air kepalanya, naik! ambi nafas……..”

Nyata betul, bahwa yang menang dalam hal kemampuan berenang, kekuatan fisik, tetap dengan rendah hati mengajar yang lemah dan belum bisa. Harusnya ini bisa kita nyatakan dalam keseharian.

Oiya, dan tak pernah terlihat sekalipun, bapak-bapak pelatih yang sudah mahir itu memamerkan kemampuannya ke anak didiknya yang bisa membuat anak didiknya minder karena ke-belum-mampuan mereka berenang.

Ada juga, ibuk  ibu yang melatih anaknya yang baru berumur 2 tahunan mungkin, di kolam terdangkal. Aku yakin Ibu tersebut tidak bisa berenang, tapi dari pancaran wajahnya. Mereka ingin anak mereka bisa renang, ingin anaknya tidak takut air.

Sesekali aku melihat bagaimana trik trik Ibu -ibu tsb membujuk anak mereka masuk ke dalam air, hahaha. Lucu. Tapi memang luar biasa.

Kesetikawanan dalam Kekalahan,

Siapa bilang olah raga renabg hanya buat orang yang fisiknya kurus atau berat badan tidak terlalu berat? SALAH!! tegas aku katakan. Kalau mau bukti, silakan ke kolam renang Bujana Tirta tiap sabtu pagi dan Minggu pagi.

Dari sekian kali ke kolam renang ini, aku melihat ada adak kecil, mungkin masih TK tapi postur tubuhnya seperti Boboho (ingat film saolin-saolin khan? nah persih kayak itu posri tubuhnya. Dan TERNYATA. Dia ‘mengejekkku’ dengan telak. Gaya bebas dari ujung sisi panjang ke sisi panjang satunya. Mungkin sekitar 50 meter kolam dalam (3.5 m). Imajing it! Aku terkagum luar biasa. Dan membayangkan, bagaimana dulu ia memulainya. Akan sangat-sangat berat sekali. Melawan kecapean yang sangat, malu dengan porsi tubuhnya, melawan rasa takut di kedalaman dll dll.

Tadi pagi aku baru tahu orang tua mereka, bapaknya sama besarnya, tapi jangan salah. Bapaknya jago gaya kupu-kupu, salah satu gaya yang paling sulit dan sangat melelahkan. Tapi begitulah Ayah dimanapun, selalu menyemangati anaknya. Dengan cara mereka, pun ketika seorang ayah marah pada anaknya, bukan maksudnya marah tapi untuk kebaikan anaknya. Seperti ayah anak ini yang agak marah pada ‘Boboho’ ketika abis renang sisi memanjang, boboho makan kue di pinggir kolam. Serta merta Ayahnya memberi nasehat, katanya “Jangan kau makan, apa guna kau renang kalau abis renang langsung makan” dengan logat medannya.

Mungkin bapak dan anak itu kalah dalam hal fisik di banding rata-rata kita, tapi mereka setiakawan. Saling mengingatkan dan menguatkan. Begitulah seharusnya kita.

Seperti biasa, setelah kram aku beranjak pulang. 1 jam 45 menit dari awal aku mulai renang. Hari ini, aku dah main di panjang terus. Paling main di lebar kolam pas pemanasan aja. Dan ternyata, sangat melelahkan main di panjang. Kalau gaya dada, fisik kuat, tapi nafas yang perlu dilatih lagi. Kalau gaya bebas fisik yang belum kuat, nafasnya jaga belum kuat. hahaha. Next time better!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 12, 2012 by in [Catatan Harian], [Opini] [Reportase] [Analogi] and tagged , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: