9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Cerita Dunia Hitam (1)

Mumpung masih anget di ingatan. Dan supaya tidak lupa untuk selalu mengisahkannya. Ehmm, btw pasti nanya kenapa judulnya gitu, hehe. Dunia hitam yang aku maksud adalah dunia ketika masih muda, dimana rambut masih berwarna hitam. Aku sebut cerita, sebab yang akan aku critain adalah cerita dari orang-orang luar biasa yang sudah meninggalkan dunia hitam menuju dunia putih (rambut dah memutih). Hahaha.

Pertama cerita bapakku sendiri (bapak magetan), bapak surabaya, dan Pak kost (sekarang, di mardani 3 no.28). Yang pengen aku ceritakan adalah ketika mereka memperjuangkan cinta dan tekadnya sehingga berhasil mempersunting istri mereka saat ini. Hahaha,.

Kisah ini aku dapat langsung dari mereka. Mereka menuturkan dengan penuh kenangan, seakan bernostalgia. Kembali memutar memori ketika rambut masih hitam legam, dan fisik masih segar bugar. Terliohat jelas di mata mereka, mereka bangga sudah menjaga kenangan itu hingga sekarang. Bertahan dalam keluarga yang utuh. Dengan semua perjuangan dan liku-liku kehidupannya.

Pertanyaan lagi, knp tidak cerita ttg aku sendiri? jawabnya, aku masih hitam belum putih, kedua rahasialah, khusus aku critakan buat anakkku. Dan biarkan anak-anakku yang akan menuliskan ceritanya kelak. Hohohoho.


Kakekku (dari Ibu) Asli Pamekasan. Kerja sebagai najib di Ponorogo. Seorang penganut NU yang sangat taat. Yang ia tularkan pada anak-anaknya. Mbah Nur Alim, biasa aku menyebut almarhum. Beliau mempunyai 2 Istri. Satu di Madura, satunya di Ponorogo (yang di Ponorogo Nenekku). Ibukku adalah anak pertama dari Istri beliau yang di Ponorogo.

Kakekku (dari Bapak) asli Magetan. Mempunyai 2 Anak (Sebenarnya 3, 1nya anak angkat). Bapakku anak ke dua. Satunya Budhe. Bapak dan Budhe sama-sama guru SD. Saat itu, budhe ditempatkan di salah satu daerah/ pulau di Madura.

Nah, suatu ketika. Ibuk lagi pas maen ke Pamekasan, Bapak juga ke Madura mengunjungi Budhe. Mereka betemu di Angkutan Umum. Saling menyapa sebentar hanya basa basi bertanya nama dan alamat.

Dari mata turun ke Hati, Setelah dari Budhe Bapak nekad ke Pamekasan, menusul Ibuk. Sampai di Pamekasan, Ibuk dah balik ke Ponorogo. Dari Pamekasan, bapak ke Ponorogo. Nyampek di Ponorogo, ternyata Ibu sedang mengajar di salah satu SD terpelosok di Gunung (lupa nama gunungaya di daerah Ponorogo). Bapak berangkat ke Gunung tsb (konon katanya orang-orang situ terjenal sangat angker, tidak jarang jika melihat semacam cahaya berkilau dll dah biasa). Sesampai di sana, bapak hanya melihat Ibuk dari radius sekian ratus meter di balik pohon, sedang Ibuk di Mess bersama teman-temannya. Digodain temen2nya kalau ada seorang Pria yang naksir di balik Pohon, (hahaha. Ngisin2ni ae Pak).

Hari berganti-hari, dari balik pohon hingga ke rumah Ponorogo (rumah Nenek). Alkisah baru berepa kali ketemu, Bapak langsung ditodong kakek untuk menikahi Ibuk, wahahahaha. Rasakan. Padahal Umur waktu itu baru 22 tahun, Ibuk juga 22 tahun, gaji bapak kalau gak salah 16rban. Ya sutralah, akhirnya menikahlah mereka. 2 tahun kemudian aku lahir, tahun 1985. Sekarang aku udah 27 tahun. Artinya sebentar lagi usia pernikahan mereka 30 tahun. Bukan waktu yang singkat untuk mengisahkan 10950 hari dalam setiap lembarnya.

Beberapa yang aku ingat adalah,
Untuk membuat rumah, Bapak sangat detail merencanakan. Waktu aku masih kecil Bapak beli sapi anakan, di pelihara sudah besar di belikan kayu. Sisa uang buat beli sapi anakan lagi begitu terus hingga dari aku TK hingga aku SD kelas 4. Tidak jarang pula bapak mengajakku bermain lumpur yang dibentuk kotak dan dihiasi sebuag garis menyilang, yang baru aku sadari ketika dewasa bahwa aku dijak bikin batu bata merah. Bahkan aku masih ingat jelas bapak pula yang diajari kakek cara membakar batu bata merah. Bertahun-tahun Bapak dan Ibu mengelola keuangan hingga Pas aku kelas 4 SD baru bisa terwujud sebuah rumah mewah (mepet sawah, hahahaha) sebuah kamar tamu, kamar keluarga, 2 kamar tidur. Itupun yang baru di mester (belum ada keramik) cuma 2 kamar, sisanya masih tanah. Kita berlima menempati (saat pindahan rumah, koko baru lahir).

Belum ada listrik, pake lampu teplok dengan minyak tanah. Bukan 1 atau 2 bulan. Tapi 2 tahun kami merasakan tanpa listrik, jadi kalau dah habis Isya kami disuruh Ibuk segera tidur, bangun udah subuh. Hidung berwarna hitam kena angus lampu teplok. Hahahahaha. Kalau pengen nonton TV, berarti harus ke rumah Budhe, melewati sawah, dan tidak jarang bertemu ular. Yang masih aku imgat, bapak sering menggendongku dari rumah Budhe habis nonton TV melewati sawah-sawah hingga sampai rumah. Teduh rasanya di gendong Bapak.

Di rumah Ibuk punya peraturan, mending gak berangkat sekolah daripada gak makan pagi. Jadi sebisa mungkin Ibu masak dengan cepat dan lauk apa adanya. Dan kala itu, aku paling seneng kalau pas Ibu bikin bubur kalau pagi. Enak banget. Sekarang aku baru tau, pas dulu Ibuk bikin bubur, ternyata jatah beras dari kantor sudah tinggal sedikit untuk sampai di akhir bulan, sehingga biar cukup dimakan sekeluarga dibikinlah bubur (merinding aku menulis ini).

Dan masih banyak kisah lainnya, yang tak cukup dituliskan.

to be continued (nextnya kisah Bapak Surabaya, menaklukkan hati Ibuk Surabaya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 27, 2012 by in [Catatan Harian], [Kata Mereka], [Yang Kukenal] and tagged , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: