9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Tidak Jujur, sudahkah jadi kebiasaan di negara kita?

Saya kurang tau bagaimana sejarahnya bahwa tidak jujur itu sudah menjadi hal yang biasa di sekitar kita, bahkan secara sadar atau tidak sadar kita juga ikut melakukan ketidak jujuran itu. Entah karena ikut-ikutan atau hanya sekedar menghindar dari justifikasi kalau kita bersalah.

Disini gw akan share beberapa hal yang ketidak jujuran yang kita lakukan, ehmm walanya kebingunngan bagaimana mengelompokkanya. Setelah dipikir pikir akhirnya aku kelompokkan terhadap lingkungan sekitarku.

Lingkungan kerja,

Ketika ditanya atasan : “Kapan bisa selesai pekerjaan ini? tanggal sekian bisa khan”
Jawaban terbanyak yang sering aku dengar, ” Seharusnya bisa Pak” Kenyataannya tidak bisa, dan saat memberikan jawaban itu kita sadar betul bahwa dengan tanggal tsb memang tidak bisa. Tidak Jujur.

 

Ketika kita bertanya “Barang ini harus saya selesaikan kapan ya? coz lagi padat di pabrik?”
Di jawab, “Harus selesai minggu siang ya An, coz sore mau diangkut” Padahal kenyataannya akan di angkut masih besok paginya. Dan memang saat memberikan jawaban akan diangkut sore hari, yang menjawab tau betul bahwa akan di angkut esok pagi. Hanya karena takut jika di pasin waktunya takut tidak selesai. Tidak jujur.

Ketika ditanya, “Kenapa project ini molor dan tidak sesuai schedule?”
Dijawab dengan melempar ke orang lain atau dengan seribu satu alasan yang sebenarnya tidak berhubungan secara langsung. Tidak jujur.

Ketika kita ada interview ditempat lain, dan gak masuk kerja saat interview/test. Kita jawab ada keprluan keluarga, sakit, ke dokter dan alasan2 yang lain.

Ketika diminta untuk overtime, “Maaf pak ada keperluan keleuarga” Eh ternyata pas pulang ngeliat si anak main ke Mall. Tidak jujur.

Dan bukan barang langka menemui,
Surat keterangan sakit yang dipalsukan,
Kwitansi klaim kacamata dipalsukan hanya untuk mengambil jatah uangnya.
Kwitansi perjalanan/ sewa kendaraan yang dipalsukan.
Dengan alasan “Itu khan hak saya, kalau tidak diambil sayang.”

Tidak jujur.

Di Jalanan,

Lihatlah sopir angkot, ketika mereka berhenti dengan tiba tiba, maka si sopir akan berpura-pura menoleh ke arah kiri, berpura pura melihat penumpang.

Jika terjadi senggolan atau kecelakaan, maka kedua belah pihak akan saling menggertak, marah. Supaya tidak dianggap bersalah.

Di jakarta, lebih baik melanggar lampu merah secara berjamaah dari pada lewat saat lampu hijau sendirian. Jauh lebi berbahaya lewat sendirian meski lampu hijau.

Kalau temen2 tanya2 jalan, apalagi pas jalan kaki. Nanyanya ke tukang ojek. Apa yang terjadi? kecil kemungkinan ditunjukkan jalan tersingkat. Atau dulu pas di surabaya, kalau tanya tukang becak atau ojek sering di tunjukkan jalan yang salah. Atau paling simple adalah di jawab ” tidak tau” dengan asalan tidak mau repot.

Lihatlah pengemis cilik, dan pengemis2 yang lain ada yang berpura2 sakit, bwa anak entah anak siapa, mengucapkan belum makan dan semua kebohongan yang ada.

Kalau ada yang erangkep polisi, tidak jujur dengan berkata gak punya uang, SIM ketinggalan padahal gak punya SIM, tidak melihat rambu padah emang sengaja melanggar rambu. Pun polisnya, mengerahkan segala ara untuk dapat point penuh di tempat.

Di bengkel motor, motor tidak rusak disarankan ganti ini, ganti itu. Apalagi kalau minta diservice dan motornya ditinggal, kita cuma bilang service dan ganti oli. Kenyataannya, selesai diservice, petugas bengkel bilang ada penggantian ini itu dll.

Kalau naik kendaar umum, seharusnya kita bayar 2.500, kita gak ada uang pas. Kita kasih 3.000, yakin deh kagak akan dikembalikan yang 500 kalau tidak kita minta. Bahkan tidak jarang kalau kita kasih 5000 kenek atau sopir pura-pura lupa kembaliannya kalau tidak diminta.

Diparkiran umum sama aja, tarif parkir 1000, dan tidak tertulis dimanapun. Kalau kita kasih 2000 diem aja tanpa kembalian. Kita kasih seribu, juga diema aja gak minta lebih. Ah tidak jujur juga.

Jalanan banyak sekali mengajari kita trik ketidak jujuran.

Di lingkungan rumah,

Ada undangan, kita telat datang. Posisi kita masih dirumah, ada telpon berdering, “Posisi dimana?” kita jawab, “Iya, ini lagi jalan, bentar lagi nyampek” cpd.

Lucu juga melihat para Ibu ibu menenangkan anak2nya yang rewel nangis. Di bilang ada ini lo, ada itu, setan atau apalah supaya anaknya diam. Atau mau diajak pergi kemana, padah semua itu tidak ada. Ah, tidak jujur.

Pulang kerumah agak telat, ditanya keluarga. “Kok telat, darimana?” silakan jawab sendiri sesuai kebasaan kita menjawab.

Diri sendiri,

Saat sholat, kita memulai dengan takbiratul ikram. Allohuakbar. Allah maha besar, yang lain kecil. Selain Allah kecil.

Tapi, pikiran kita memikirkan yang lain, ingat kunci ditemukan dimana, ingat belum melakukan ini dan itu, ingat pekerjaan, ingat teman, lupa sudah berapa rakaat, lupa bacaan solat. Baru aja kita bilang Allah maha besar yang lain kecil, dan seketika setelah kita bilang itu kita memikirkan selain Allah dalam solat kita. Ah tidak jujur juga kita.

Sudah terlalu banyak ketidak jujuran di sekitar kita dan diri kita. Akankah selamnya tidak jujur? Akankah kita didik anak-anak kita tidak jujur juga?

Maka jangan heran jika ditataran tingkat yang lebih atas banyak ketidak jujuran, lha wong di hal yang paling simple seperti diatas saja mengajarkan kita tidak jujur. Ketidak jujuran yang dilakukan orang kecil dampaknya kecil, pun jika dilakukan orang dengan kekuasaan yang besar dampaknya akan sanhat besar. Itulah sedikit logika kenapa negara kita kurang pesat perkembanganya. Karena masih sedikit orang-orang yang jujur.

Sangat susah untuk jujur, tapi tidak ada kata terlambat untuk memulai.

Beruntunglah kita yang memiliki keluarga, sahabat yang jujur pada kita. Itu anugrah tak ternilai yang kita berikan pada diri kita sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: