9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Rumah (Part 1)

Nekad, Itulah kata kata pertama yang ingin aku tulis di judul Rumah ini. Entah pengaruh di Surabaya 5 tahun atau emang udah bawaan bayi, hehehe.

Bagaimana tidak, sehari setelah nikah keuangan minus. Satu tahun nikah, dengan modal nekad bermimpi pengen segera punya rumah. Maka Maha Benar Allah, menikahlah, kau akan kaya. Hehehe. Tapi yo sabar, gak iso mak bendunduk. Nabung mas bro tiap bulan, untung punya istri yang bisa handle uang. Setidaknya tiap bulan kita bisa nabung 1 dinar. Setelah terkumpul sekitar 9 dinar dan ditambah tabungan total 30an juta. Kita nekad nyari rumah(kepedean, hahahaha).

Di jakarta banyak orang punya mobil, tapi belum tentu punya rumah. Maklum mas bro harga tanah disini gila!. Paling rendah per meter 2jtan (gak masuk mobil) hingga yang di pondok indah per meternya sudah 30jtan. Mboook!!

Berati sudah jelas, pilihan bukan di jakarta jika ingin punya rumah, setidaknya tidak dalam jangka waktu dekat. Pilihannya adalah kota pinggiran Jakarta : Bogor, Bekasi, Depok, Banten (tangerang).

Tahap pertama dimulai,
Browsing, tanya tanya orang tentang kelebihan dan kekurangan masing-masing daerah.

Bekasi: Panas, udara tak begitu bagus(kawasan industri banyak), macet, air tanah sudah mulai gak bagus. Akses ke RSCM bisa 2 jalur, KRL dan Bus Bekasi-Senen.

Banten : Panas, jauh, akses ke RSCM agak ribet.

Depok : Lumayan adem, akses KRL tiap 10 menit arah Depok-Kota atau Bogor-kota ada, sudah mulai macet tergantung daerahnya (masuk list survey lapangan).

Bogor : Adem, air tanah bagus, udara bagus, agak jauh. Akses ke RSCM bisa 2 jalur : KRL dan Bus (masuk daftar list survey lapangan).

Setelah tanya sana sini tentang kota depok dan bogor, masing masing punya kelebihan dan kekurangan. Tidak lupa tanya temen sekantor yang kebetulan punya rumah di bogor ataupun depok. Harga tanah, kpr, dll. Kesimpulan dari semua tanya tanya adalah kudu langsung ke daerahnya. Yupz. Masuk tahap ke dua mas bro. Survey ke daerah bogor dengan target adalah.
1. Mencari perumahan/ kampung yang akses ke stasiun ke arah jakarta kota tidak jauh, paling jauh waktu tempuh ke stasiun adalah 20-3 menit.
2. Bebas banjir
3. Air tanah bagus
4. Tanah bukan bekas sawah (kalau bisa bekas kebun)
5. Akses ke pendidikan mudah mulai SD, SMP, SMA
6. Akses ke Rumah Sakit mudah
7. Akses ke pasar mudah
8. Masuk dalam rentang budget (hohohohoho, akeh njaluk e tur murah)

Tahap 2, survey ke lapangan.

Karena gw kerja, maka survey kelapangan gw lakukan di hari sabtu atau minggu. Sebelum survey aku saranin browsing browsing di internetlah, tanya temen2 sekantor yang rumahnya di dareah yang mau survey, tanya jalan dll. Atau kalau pas ada event pameran perumahan datangin aja mas bro, disana banyak info dan selebaran. Tinggal dipilih mana yang akan di survey ke lapangan, lebih mudah.

Yupz, masih inget betul, hampir 3 bulan tiap sabtu atau minggu gw menyusuri jalan dari stasiun UI depok terus ke arah bogor sepanjang jalan pinggir rel kereta. Tiap ada perumahan atau spanduk perumahan gw cari, gw datangin ke kartor pemasarannya langsung. Inget mas bro langsung ke kantor pemasarannya, gak usah takut. Minta aja brosur, tanya ini itu. Paling tidak tanyakan 8 point diatas. Ditambah, kalau sistem KPR, pake banknya apa aja, ada yang syariah tak, sistem pembayaran DP, biaya lain2, sistem pembangunan rumah, sepuasnya dah. Namanya juga kita konsumen.

Dah gak terhitung lagi berapa banyak brosur di kontrakan. Selepas survey biasanya gw ngobrol sama istri malemnya tentang ini itu dll. Kadang berakhir No, atau perlu kita survey lagi, kadang juga minta pertimbangan Ortu. Gak bisa maen2 mas bro, coz ini menyangkut uang yang besar soalnya. Dan investasi jangka panjang. Intinya kudu sabar, kalaujodoh tak kemana.

Kalau ada yang cocok (aku ma istri cocok), baru deh istri aku ajak lagi ke perumahan tsb (motoran boncengan). Biar mantebs juga istri. Dari sekian perumahan lebih banyak No-nya setelag istri ikut liat. Yach pertimbangan tiap orang beda beda mas bro. Tak apa, kita cari lagi. Intinya kudu sabar mas bro, gak boleh ada istilah “Alah omah khan podo wae, seng penting ora kudanan” weeeh gak setuju gw. Rumah itu punya kesucian mas bro, jadi gak boleh sembarangan.

Akhirnya, setelah sekian puluh perumahan sepanjang depok bogor, ada juga yang istri cocok, yaitu (to be contionued)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 22, 2012 by in [Perjalanan Hidup] and tagged , , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: