9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Perjalanan Sebuah Puisi (Part 3)

Sampai di Masjid UI Salemba jam 10 kurang seperempat. Sholat Duha dulu. Lumayan buat menghilangkan grogi. Hehehe. Jujur penasaran banget kayak apa orangnya ini. Meskipun si calon perempuan ini temen seangkatan kuliah, tapi beda kelas. Hamper aku gak pernah bertegur sapa. Aku Cuma tau dari foto angkatan orangnya, kalau pun toh ketemu juga gak menghiraukan. Setelah hamper 2 tahun bekerja ini adalah pertemuan pertama kami tentunya. Dan pertemuan yang berbeda dari dulu mungkin pas jaman kuliah. Penasaran banget, apa memang seperti yang di foto anaknya.

Aku liat sekilas ada 2 cew, satu aku kenal banget. Popol, yang nemenin perempuan satunya yang berjilbab besar. Aku Tanya popol, mau gimana? Di jawab maunya pake hijab. Mbokk. Kayak syuro aja neh. Lak gak keliatan wajahnya, orangnya. Hufttt. Ya weslah. Ngalah.

Di satu sisi hijab aku dan mas Supri dan di Sisi lain popol dan pihak perempuan. Dan benar saja, di ta’aruf ini justru yang banyak bertanya adalah pihak perempuan, Bahkan curangnya si cew ini dah menyiapkan buku catatan yang aku lirik dari sedikit celak di balik hijab isinya daftar pertanyaan. Sedangkan diriku?!! Biodata aja aku lupa bawa, boro bor mau punya daftar pertanyaan. Alamak.

Apa saja yang diperbincangkan?


  1. Seputar keluarga
  2. Sifat masing masing
  3. Tentang pekerjaan
  4. Dll dll. Aku lupa euy dah lama soalnya.
Kalau dari aku mah lebih ke mengulang isi bioadat yang lupa aku bawa. Namun ada 1 hal yang aku tekankan dan aku pastikan disanggupi. Pertama, Setelah menikah harus Ngaji yang sefikroh denganku. Ini syarat mutlak bagiku. Dah itu aja point bagiku, yang lainnya aku dah lupa. Yang jelas di point ini pihak perempuan menyanggupi.

Ehmm, masih penasaran dengan wajahnya mas bro, kayak apa. Aku Cuma bisa melihat tangganya aja di balik hijab. Putih juga, ehmm, agak kurus. Hehehehe. Dah itu thok. Yang lain gak keliatan!!!!!

Diakhir pertemuan, mas supri menutup acara dengan do’a dan pesan wajib yaitu :
  1. Di sepakati batas member keputusan hasil ta’aruf adalah seminggu.
  2. Selama masa memberikan keputusan tsb, dilarang berkomunikasi antara pihak perempuan dan laki laki.
  3. Perbanyak do’a dan istikharah.
Dan hari demi haripun berlalu menuju satu kinggu ke depan. Jujur saat itu aku lagi banyak kerjaan di pabrik. Bahkan hingga menjelang hari H pemberian keputusan. Ada satu pertanyaan besar yang masih belum bisa aku terima, aku belum melihat wajahnya, orangnya secara keseluruhan. Argghhh. Uneg unegku ini aku sampaikan ke MR pas pekanan di minggu itu, bahwa aku pengen sekali melihat wajahnya, orangnya. Biar tenang. Aku berharap jawabannya adalah ada ta’aruf ke dua. Hehehe.

Dan jawaban dari MR adalah, GAK USAH ta’aruf lagi. Istikharah aja, liat dari foto udah cukup!. Mbookkk. Lalu belia menceritakan kisah dulu beliau saat dipertemukan dengan Istri belua saat ini oleh Allah. Terserah temen2 percaya atau tidak, tapi saya mempercayainya. Meskipun dijaman yang penuh dengan kontaminasi dan kekotoran ini. Masih ada orang yang hatinya bersih. MR termasuk yang telat menikah, dan MRnya MR saya dan semua teman2 MR saya mencarikan biodata, namun tidak satupun yang sreg. Mungkin prinsip MR saya sama kayak saya, cukup satu aja yang sreg dan berlanjut hingga akhir.

Hingga suatu saat, MR bermimpi melihat seorang perempuan. Lalu dicerikan mimpi tsb ke MRnya MR saya. Dan ternyata, si perempuan yang dimimpikan MR saya itu adalah kader juga yang selevel. Dan mereka berdua BELUM pernah bertemu sebelumnya satu sama lain. Pertemuan mereka pertama adalah di mimpi MRku tsb. Yang berujung dengan pernikahan hingga saat ini. Selesai bercerita, aku tertegun. Dan bisa menerima keputusan MR bahwa tidak perlu ada ta’aruf lagi.

Menjelang waktu yang ditentukan memberikan keputusan tiba. Tidak ada kesempurnaan bagi manusia. Dan puncak semua usaha adalah kepasrahan. Mengembalikan semua usrusan yang kita tidak mengetahui hanya kepada pemilik bumi dan segala isinya. Dalam do’a yang dalam aku berdo’a yang intinya :

Rabbi,
Engkaulah penggenggam jiwa manusia. Yang mengetahui yang tampak dan tak Nampak.
Hamba tak mengetahui siapa perempuan ini yang Engkau pilihkan.
Hamba tidak mengenal sedikitpun seperti apa perempuain ini yang Engaku pilihkan.
Hamba tidak punya alas an untuk menolak sedikitpun.
Maka hamba mohon,
Jika memang perempuan ini jodoh hamba,
Hamba mohon mudahkanlah kami, ikhlaskanlah kami, rahmatilah kami, berkahilah kami….
…………………………..
(Dan semua do’a kepasrahan mengalir bersama tetesan air mataku yang tak kuasa aku bendung, semakin menyadarkanku bahwa kita tidak memiliki hak apapun atas apa yang ada dalam hidup kita).

Bismillah, aku putuskan LANJUT ke tahap berikutnya. Pada hari itu juga, selang beberapa jam pihak perempuan juga memutuskan LANJUT. Naik level ke tahap 5 (to be continued)

3 comments on “Perjalanan Sebuah Puisi (Part 3)

  1. Fifin
    September 28, 2012

    wuah… proses bang An ini relatif sama dengan yang dinovel Kang Abik he he. kereeen.

    Beda sama saya yang langsung srudak-sruduk. Kenal orangnya dari lama (trus suka), udah deh langsung ngomong sama bapaknya, wkwkw. ^_^

  2. Anas
    October 10, 2012

    wah wah dadi eling jaman proses biyen wae

  3. 9ethuk
    October 11, 2012

    Kang Fifin : Menawi sampeyan lelaki tangguh, jadi langsung level atas. Tembak orang tuanya. hehehe

    Mas Anas : Mergo aku isih kelingan iki tak tulis maneh mas. dadi seng ditulis seng bener2 berkesan. Dan sayangnya semuanya berkesan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 26, 2012 by in [Perjalanan Hidup] and tagged , , , , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: