9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Tumor Usus

Ada seorang kaya raya. Rumahnya besar pun sangat luas, halamannya mampu menampung puluhan mobil mewah yang ia punyai. Bahkan di belakang rumah ada landasan helikopternya mas bro. Bagaimana tidak luas, rumahnya terletak di pulau tersendiri yang ia beli.

Kalau mau kerja, cukup naik helicopter ke jakarta, pun dijakarta dia punya rumah juga lengkap dengan mobil meah juga.

Semua putra putrinya pun sekalian menantunya sudah memegang perusahaan yang dimiliki si tuan ini, bahkan sampai anak cucu sudah coba dia persiapkan. Intinya tak ada yang tak dimilikinya di dunia ini, kecuali hanya satu hal saja, hanya satu hal saja. Yaitu dia menderita sakit.

Dimana colon yang menuju dubur tempat ditampung, maaf kotorannya manusia terpaksa harus siangkat karena tumor usus. Karena kaya, maka dokter paling canggih di dunia bisa membuatkan tampungan, maaf kotorannya diluar tubuhnya. Tepatnya di letakkan di depan perutnya, diikat dengan penyangga platina, sehingga seakan perutnya gendut menggelembung. Tempat, maaf kotorannya ini terbuat dari bahan elastis seperti plastik, namu dibuat sedemikian rupa menyerupai kelenturan usus. Tapi harus diganti setiap seminggu sekali untuk mecegah bau, maaf kotoran menyebar.

Hanya satu hal tsb yang dia khawatirkan, selain itu dia sempurna. Kadang dalam hatinya ia berfikir, aku ini kok seperti membawa wc kemana mana. Membawa jamban kemana mana. Kotoran dalam plastik kemana mana. Sedangkan tempat yang paling dianggap hina, kotor, dan penuh najis adalah wc.

Meskipun semua orang (seolah olah) hormat dan tidak mempermasalahkan hal tsb, tapi ia tetap saja merasa agak minder. Kadang takut juga menyelimuti jika sudah mendekati satu minggu, takut bau, maaf kotoran akan tercium dari plastik yang ia bawa. Apalagi sampai jebol. Saat itu, ia merasa bahwa ia adalah orang terhina dan terkotor di dunia, meskipun ia memiliki du nia seisinya.

Saudara, hakekatnya kita sama dengan orang tadi. Bedanya, Alloh masih menutupi aib kita dengan menyimpan, maaf kotoran kita di perut kita sehingga seolah olah kita ‘normal’. Namun sejaitinya sama saja, kita membawa kotoran kita kemana mana dalam perut kita. Lalu apa yang mau kita sombongkan dari diri kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 8, 2012 by in [Opini] [Reportase] [Analogi] and tagged , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: