9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Putriku (Part 4)

Masih dengan penuh ketakutan dan kekhawatiran, bahkan aku masih inget betul. Ac pesawat yang biasanya aku kedinginan, ini malah aku keringetan. benar benar keringat keluar karena rasa takut dan was was. Manusia sekali saat itu aku, tersadar bahwa pada ketinggian sekian ribu kaki diatas permukaan laut tak ada yang mampu membuat selamat kecuali penguasa bumi dan langit.

Sesekali pesawat bergetar karena cuaca, dan pilotnya menyalakan lampu kenakan sabukpengamankembali. Aku hitung beberapa kali kejadian seperti itu, yang setiap kejadiannya membuatkeringat dinginku keluar. Padahal dulu dulu juga seperti itu, tapi kali ini beda. Mungkin, karena ada harapan yang sangat berlebih untuk bertemu keluarga dan menyadari bahwa saat terkatung katung diatas langit kita adalah hamba yang tak berdaya. sama sekali tak berdaya. lemah.

Langit surabaya terbuka, cahaya lampu kecil dan menyebar merata terlihat cerah, secerah harapanku untuk bisa segera menapakkan kami di bumi surabaya. Akhirnya mendarat dengan selamat juga di Juanda. Alhamdulillah.

Tanggal 14 Agustus malam sampai di rumah, bertemu istri dan kedua orang tua. Aku liat perut istri masih menggelembung, alhamdulillah masih belum lahir. Masih diberi kesempatan menemani istri melahirkan.

Detik detik menuju tanggal 19 Agustus, estimasi HPL oleh dokter. Sesekali aku ajak istri untuk jalan pagi atau jalan sore, katanya untuk membuka jalan lahir.

Satu hari, 2 hari, 3 hingga tanggal 19 Agustus. Tidak ada tanda tanda kontraksi. Sempet down. Kenapa?

Tanggal 19 Agustus ke RS, untuk cek kehamilan. Rekam denyut jantung babi dan pemeriksaan tanda tanda melahirkan. Masih dengan tanda tanya, kenapa?

Hasil : Denyut nadi normal, bunda bayi sehat. Tapi belum ada tanda melahirkan. Pembukaanpun belum ada. Masih dengan tanda tanya, kenapa?

Diminta suternya pulang dan balik lagi tanggal 23 Agustus saat praktek dokter Vita pertama kali setelah libur lebaran.

Penantian menjelang tanggal 23 Agustus. Masih dengan aktivitas yang sama, kadang jalan kaki pagi hari atau sore hari. Sekalian menemani istri jalan-jalan. Untuk melancarkan jalan lahir. Jujur aku khawatir, dan semakin merasa bahwa aku lemah, tak bisa berbuat apapun.

Sehari, dua hari hingga sampai juga pada tangal 23 Agustus (tiba tiba jantungku berdegup agak cepat saat menulis ulang tanggal 23 Agustus ini, entah kenapa).

Kami sekeluarga (full team, aku, istri, bapak, ibuk, mas al, mbak wid dan asha) ke RS menuju praktek dokter membawa hasil rekam jantung yang dilakukan tanggal 19 sebelumnya. Ada pemeriksaan USG juga. Hasilnya : USG normal, posisi bayi sudah tepat dengan kepala di bawah, berat bayi sudah mencapai yaitu 3.3 kg (estimasi dari lingkar kepala bagi dari data USG), belum ada pembukaan, dari rekam jamtung tidak ada kontraksi sama sekali dengan artian belum ada tanda tanda melahirkan.

Kata dokter : Besok (tanggal 24) akan kita induksi untuk membantu proses kelahiran sebab jika tidak segera dilahirkan takut berbahaya pada Bunda dan babynya.

Istriku/ Ibuk (aku lupa) bertanya tentang induksi tsb, resiko dan perihal lainnya.

Dijawab oleh dokternya : Induksi itu semacam ‘dipaksa’ kontraksi supaya bayi segera lahir. Dilakukan selama 10 jam dengan diinfus dengan cairan induksi yang akan membuat kontraksi rahim. Selama induksi berlangsung, jika bayi menjadi semakin lemah-bundanya kuat (dilihat dari rekam denyut jantung) maka induksi akan kita stop dan langsung operasi. Jika bayinya kuat, namun bundanya yang tidak kuat induksi juga akan kita stop dan kita lakukan operasi.

…………………………………………….

Pulang ke rumah perasaanku kacau, diem aja di mobil. Aku liat istriku sesekali masih ngobrol tapi aku yakin betul, rona ketakutan terpancar kuat di wajahnya. Induksi, ya kata kata itu yang menurutku membuatnya takut. Sebab aku tau, dia telah buanyak bahkan sangat banyak mendengar cerita tentang induksi. Baik dari temen2 kerjanya, temen2 kuliah yang sudah menikah, family-familynya, internet, buku dan semua hal tentang melahirkan.

Aku kacau saat itu, benar benar kacau. Dan tak tau harus bagaimana menghadapi kondisi saat itu. hanya satu hal saja kenapa aku ada di surabaya, ingin ada di samping istriku saat melahirkan. Tak bisa mengambil keputusan. Buntu. yang ada dipikiranku, hanya ingin mensupport keputusan istriku, apakah siap induksi atau apapun itu.

……………………………………………. (Musyawarah keluarga)

Diputuskan operasi langsung tanpa induksi.

(to be continued)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 10, 2012 by in [Perjalanan Hidup] and tagged , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: