9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Perjalanan Sebuah Puisi (Part 4)

Naik ke level 5, apa yang kurasa? tak ada. Biasa aja. Masih bingung juga harus bagaimana setelah ini. Lha piye gak bingung mas bro. Semua kesepakatan hanya berdasarkan niatan dan keteguhan kata kata yang terucap. Kita bilang “YA” dan tak ada kata mundur.

Padahal, kalau kita mau bercermin kondisi saat ini, bagaimana hubungan ‘pacar’ jauh lebih banyak kata kata “YA”. Namun hanya sekedar kata. Dan tak ada ikatan apapun, pun lebih banyak putus ditengah jalan. Atau ‘accident’ ditengah perjalanan. Sehingga tidak heran, bahwa butuh ‘kwitansi’ untuk bukti kata kata “YA”.

Tapi tidak demikian Islam mengajarkan kita, bagaimana mungkin seorang yang mengaku umat muhammad dan Hamba Alloh berbohong. Apa alasan kita saat kita nanti bertemu Rasul kita di Akherat? Mau ditaruh dimana muka kita saat menengadah berdoa pada pencipta langit dan bumi, sedangkan kita tidak bisa menjaga apa yang sudah kita ucapkan? Seorang mukmin bisa jadi penakut, lemah, marah, bakhil, tapi tidak mungkin dia berbohong. Sebab kesempurnaan iman itu tidak cukup dihati, tapi butuh diucapkan dan dibuktikan dengan progress aktifitas.

…………….

Karena bingung harus ngapain setelah bilang “YA”. Aku tanya MRku. What next Ustadz? gitu bahasa bangsrinya.

“Pergi ke surabaya, temui orang tua pihak perempuan. Mohon restu dan nyatakan niatmu langsung”. Tegas Ustadz menyuruhku pada hari minggu. Dari ucapan beliau jelas bahwa itu keharusan. Tanpa ragu aku dengar dan aku laksanakan.

Minggu berikutnya, aku meluncur ke surabaya. Tanpa pikiran apapun, meskipun belum tau rumahnya. hanya berbekal alamat saja. Bertemu langsung dengan calon orang tua, meskipun belum pernah tau wajah mereka. Bismillah ajah.

Biar gak takut takut amat, aku ajak Sohibku Andang dan Maknit (Makcomblang).

Berangkat dari kontrakan Andang, Pak dosen (Andang) pake baju bathik, celana rapi dan sepatu kulit. Aku pake kaos joger yang ada tulisannya “Aku tidak sanggup berpoligami sebab aku juga gak mau istriku berpoliandri” (entah sadar atau tidak sadar aku memakai kaos itu, yang jelas itu kaos terbaru yang kupunya, dibeliin Leha pas mereka ke bali tak lupa pake sendal eiger (buntut) dan tas eiger (buntut juga). Berangkat, aku lupa aku sadar atau tidak memakai pakaian itu saat itu. Yang jelas Andang diem aja, berarti oke.

————————-
Nyamperin Maknit dulu. berangkatlah kita bertiga mencari alamat tsb,tanya sana sini. Muter muter, telp pihak perempuan (pihak perempuan tidak bisa pulang masih di jakarta, artinya kalau aku dibantai nanti bakal dibantai habis2an tanpa ada yang membela. Andang ama Maknit paling jutru ikutan mbantai).

Setelah muter-muther akhirnya ketemu juga rumahnya. Cukup sederhana rumahnya, kesan pertamaku. Sesuai kriteria di biodataku. Bukan orang yang sangat kaya. Aku sedikit tentram, setidaknya egoku gak bakal mudah terpecik jika aku tersinggung. Hehehe,…

Dan……………..

Bapaknya jago ngomong mas bro, banyak bahan pembicaraan, kita bertiga dicritain kehidupan keluarga tsb. Sifat-sifat anak mereka, pengalaman hidup mereka. Dan yang bayak di ajak bicara justru Andang…. Arghhhh… Untung Ibunya membelaku, ehmm menyodorkankku. hehehe…

Dan, di suatu akhir cerita dari Bapak,.. ada jeda waktu yang agak lama dimana semua terdiam. hening. Aku masuk mengutarakan maksud kedatanganku, kalau tidak salah seperti ini yang aku ucapkan.

“Maksud kedatangan saya kemari, ingin mengutarakan niat untuk membina hubungan serius dengan putri bapak hingga ke jenjang pernikahan……………………………” Aku diam.

Kini Bapak berucap, intinya menerima niatanku aku lupa textnya. yang aku ingat saat mengucapkan penerimaannya suaranya bergetar. Seakan menahan rasa haru yang sangat.

Kemudian Bapak berpesan, untukku juga meminta persetujuan Orang tuaku. Dan aku meng iyakan, sebab memang setelah dari surabaya aku langsung menuju ke magetan (pun sampai detik saat itu aku ke surabaya, Bapak Ibuk kandung belum tau kalau aku lagi nembung anak orang, hehe. Bikin kejutan dikit Mas Bro).

Di Akhir kunjungan, Bapak pihak perempuan berpesan banyak hal pada kami bertiga, pesan orang tua yang telah sangat banyak makan garam kehidupan. dan ribuan doa terlantunkan di siang hari itu. Alhamdulillah semua dilancarkan Allah swt.

OOT dikit, setelah keluar rumah. Andang baru kasih tau aku kenapa ia tidak menegurku berpakian kaos oblong dan sendal jepit. “Biar calon mertuamu tau dirimu yang seaslinya An” kata Andang.

Siang itu juga aku langsung menuju magetan, naik bis sumber kencono. Kenapa buru buru, sebab pada siang itu juga adalah prosesi lamarannya Faizal, sohibku satunya yang saat ini sudah menikah dengan gadis yang dilamarnya. Terpaksa gak ngasih tau faizal, sebab kondisinya memang tidak memungkinkan. Sorry Zal.

Seperti biasa, sopir bisnya ‘kesurupan’, wes wes wes ngebut gak karuan. Tapi aku seneng, coz cepet sampai. Hehehehe. Nyampek Maospati dijemput bapak, seingatku udah  agak malem nyampek maospati. Aku yang nyetir motor, bapak aku boncengin. Sepanjang Maospati hingga ke rumah, aku menceritakan semua yang ada di surabaya. Bahwa aku barusan ‘nembung’ anak orang. Sengaja saat itu aku menggunakan ‘metode’ sambil berboncengan, supaya raut mukaku gak tampak sehingga lebih nyaman aku menyampaikan yang ingin aku sampaikan, maklum seingatku aku belum pernah mengutarakan hal serius hasil keputusanku sendiri ke orang tuaku. Ini pertamakalinya aku melakukannya. Dan semua cerita mengalir bersama kami berdua menerobos gelapnya jalan menuju Bangsri.

Sampai dirumah juga. Alhamdulillah. Sekarang lebih tenang, tinggal ke Ibuk dan ‘pura’pura’ kebapak. Aku lebih enjoy bicara keinginanku ke Ibuk daripada ke bapak untuk hal yang merupakan hasil keputusannku. Entah kenapa aku juga tak tau. Dan sambil kusampaikan, aku tancapkan flash dish ke komputer rumah. Aku buka file yang ada Foto pihak perempuan dan Foto keluarga pihak peremupan. Aku jelaskan keluarga mereka ke orang tuaku dan semua hal yang pengen mereka ketahi tentang calon menantu. Semua kuceritakan.

Dan,…

Di akhir semua cerita itu, aku memohon restu untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Yaitu lamaran. Kedua orang tuaku merestui, “Jika kamu sudah mantab, bismillah Le. Bapak Ibuk mendukung. Selalu berdo’a moga diberikan yang terbaik”. Alhamdulillah dimudahkan. Besoknya langsung cabut ke Jakarta lagi, naik Harapan Jaya.

…….. Menuju Jakarta, masih tidak percaya dengan semua yang telah kujalani. Semua hanya bermodal ucapan, tekad, dan Bismillah. (to be continued)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 11, 2012 by in [Perjalanan Hidup] and tagged , , , , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: