9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

7 Nasehat Pak Kost dan Bu Kost

Bakalan gak bisa tidur kalau belum nilis artikel ini, sebelum memory menggerusnya perlahan lahan hilang hilang detailnya, harus segera dituliskan dengan segera untuk mengabadikannya. Yupz, bismillah.

Berawal dari niatan nyari makan setelah sholat isya’, saat keluar pintu kost, pas mau ngunci pintu. Eh, bu kost kebetulan keluar pintu rumahnya. “Mau kemana Mas Aan?” Tanya Bu Kost, “Ke dapur depan Bu” Jawabku seperti biasanya sambil snyum. “Dah Makan sini ajah, kebetulan nasinya masiih banyak, ayo ayo sini sini bareng ama bapak ma dedy sekalian” Ibu Kost mulai memaksa dan seperti biasanya kalau dah bilang ayo ya ayo kudu makan, hehehehe.

Walhasil, makanlah aku di rumah bu kost bareng dedy (ponakannya bu kost) dan pak kost. Daging ungkep dan kerang, alhamdulillah. Maknyuss, pun sekaligus berhemat secara tidak sengaja. Tidak terencana menurut kita, tapi dah masuk dalam hitungan rencana Alloh.

Selsai makan, minum teh anget. Maknyuss double. Gak enak dong SMP (Selesai Makan Pulang), ngobrol ngobrol dulu ama Bu Kost dan Pak Kost. Aku lebih sebagai pendengar pasif, sesekali memberi balasan untuk ‘menyemangati’ Pak Kost dan Bu Kost bercerita. Tema yang dibicarakan acak, tapi aku dapat mengelompokkannya ke cerita tentang saat mereka membangun rumah tangga setelah menikah, cerita dan kepribadian anak anak mereka, dan cerita tentang orang orang yang pernah ngontrak di kontrakan mereka dulu.

Nah, yang akan gw share disini adalah cerita cerita mereka itu. Cerita nyata dan jujur gw harus apllause sambil berdiri terhadap mereka berdua. karena alurnya acak, gw akan critain per topik aja seingat gw aja ya, coz sebenarnya banyak banget critanya, hampir 2 jam setengah mas bro.


Pertama,  bapak dan ibu kost pernah merasakan sakitnya diusir dar kontrakan. Padahal saat itu, bu kost baru melahirkan anak kedua. Bahkan kata bu kost, ubun2 bayinya juga masih nyut nyut. Minta tenggang waktu perpanjangan satu bulan aja tidak diperbolehkan oleh yang punya kontrakan. Sampai akhirnya mereka ngekost sementara satu kamar dengan janda, sebuah kamar yang hanya disekat dengan triplek. Dengan 2 anak. Mbook! Bukan berarti mereka tidak punya rumah, tapi rumah yang mereka udah beli masih dikontrakkan ama yang punya, perjanjiannya kalau yang ngontrak habis bisa langsung ditempati. Tapi ternyata yang ngontrak di rumah yang ia beli memperpanjang kontraknya. kata Pak Kost, “Saya sudah merasakan sakitnya diusir dari kontrakan mas aan, masak saya juga mau ngusir orang yang masih ngontrak di rumah yang saya beli? gak tega mas, sakit banget rasanya diusir itu” kata pak kost sambil mengelus elus dada.

Kedua, masih ada hububgannya sedikit dengan cerita diatas. Hehmm, tak heran makanya, Pak Kost pas sudah punya rumah di Jakarta menampung semua saudara, ponakan, bahkan sampai teman kerjanya tinggal dirumahnya. Gratis. Ibu kost menambahi, “Jadi mas aan, beras itu sampai habis ratusan kilo tiap bulan, lha wong yang ikut bapak itu belasan orang. Jadi buk ini dah kayak bu kost sejak dulu”. bahkan ada yang numpang ikut pak kost hingga 7 tahun. Gratis. Mbookk!! Luar biasa. “Tapi ya gitu mas aan, yang penting mau hidup seadanya dan makan seadanya, dan alhamdulillah mas aan semua dah jadi orang” tambah pak kost. Ini baru pejuang, ungkapku dalam hati.

Ketiga, Pak Kost cerita, si eneng, anak pertama dan satu2nya anak perempuannya pak kost satu2nya. Dulu waktu kecil tomboi mas aan, mirip kayak si nadine itu (cucunya pak kost dari anak ketiganya). Gak mau pake rok mas aan, dah kayak laki aja. Begitu lulus smp, dia ke surabaya, disana diasuh ama bibinya. Jelang beberapa tahun, pas kami ke surabaya. MasyaAllah mas aan, berjilbab rapat, pake kaos kaki, roknya nyampek bawah mata kaki. Kaget kita mas, kok bisa berubah drastis. Ini didikan bibinya mas aan, bibinya emang taat banget bersilamnya. Kamu terharu, sekarang mah udah berjilbab pada umunyalah. Hahahaha kata pak kost.

Dia orangnya tegas mas aan, sigap, dan paling ditakuti sekeluarga kalau dah marah, si egi (nak bungsu yang agak nakal) aja takut. Sekarang dia yang paling melejit perekonomiannya. Tapi bukan masalah materinya mas aan, dia amat amat sangat tegas masalah ibadah kepada kedua anaknya, pun pada suaminya. Yang belum sholat pasti diprak oprak sholat. Dulu suaminya malas2an sholat atau bahkan gak sholat kali ya mas, coz suaminya dari solo ikut kejawen gitu kalau gak salah. Sekarang dah masu sholat. Satu lagi yang membuat saya terharu mas aan, rumahnya yang di cibubur baru aja di kontrakkan ke orang korea langsung 2 tahun kontrak. Sekitar 70jt dapetnya. Si eneng telpon bapak, “Bapak, eneng minta maaf ya, uang kontrakan rumah eneng yang di cububur belum bisa eneng bagi ke bapak, karena buat memberangkatkan haji mertua dulu” kata bapak sambil menirukan gerakan menelpon (aku mendengar suara bapak agak bergetar). ya Allah mas aan, saya sampek menangis mas, bukan apa apa, tapi perjuangannya itu lho. kalau bapak khan udah haji, dan meryuanya si eneng ikyt kejawen juga, masih susah sholatnya. Sebenarnya mertuanya si eneng kalau masalah harta buat berangkat haji mah mampu mas, tapi bapak salut sekaligus trenyuh ke si eneng yang ‘memaksa’ meruanya berhaji dengan uangnya mereka. Alhamdulillah mas aan, sekarang ibu mertuanya sudah berjilbab, dan bapak mertuanya mau belajar iqro dan mau ke mesjid. “Itu yang bikin bapak bangga. kalau istilah bapak mah, dia itu berjuang mengislamkan orang islam” kata bapak.

Keempat, Dulu ada yang ngontrak disini mas aan, pas habis melahirkan anak kedua. 3 hari habis melahirkan si ibu atau istri dari mas G (lupa namanyha), kejang kejang matanya melotot tidak bisa bergerak mas, akayak orang step gitu mas. Itu kejadiannya pas suaminya (mas G) lagi kerja. Mana bayinya masih di rumah sakit dan harus segera dibawa pulang. Akhirnya bapak yang nggendong Mbak H (lupa namanya) ke rumah sakit mas aan. Dan istrinya mas G harus dirawat di rumah sakit selama 2 bulan. Dua orang anaknya ini yang ngasuh bapak ma ibuk mas aan, lha mas G nya kerja, istrinya di rumah sakit. Jadi kami mengasuh 2 anak kecil, lucunya mas aan. Pas ada hajatan di bandung yang gak bisa kami tinggal, kami terpaksa mengajak 2 anak tadi ke bandung. hahahaha, kakek nenek yang punya anak kecil. bu kostbercerta sambil ketawa lepas. Tapi efeknya mas aan, sampai sekarang dah kayak saudara sendiri.

Kelima, dulu ada mas aan, namanya mas pur, dia yang paling gak pernah ketinggalan sholat subuh di mesjid. Jenggotnya panjang kalau ke mesjid pake celana cekak gak pernah pake sarung, taat banget oranya mas dan baik banget.  Sampai2 pas bapak operasi usus buntu dia ama mas x (lupa namanya, yang ngontrak disini juga) nungguin di rumah sakit terus. Banyak yang ngontrak disini mas aan, dari masing masing itu bapak belajar ke meraka, buat memabtu mendidik dan sebagai contoh bagi anak anak bapak. Hebat banget bapak ini, meski usianya terpaut jauh dengan yang ngontrak di tempatnya ia tidak sungkan belajar dari yang muda.

Keenam, saya itu punya prinsip harus bisa menafkahi keluarga dan istri tidak bekerja. Sebab, membesarkan keluarga itu tidak cukup dengan materi mas aan. Banyak orang sekarang memenuhi kebutuhan anaknya secara materi, tapi tidak ada ikatan hati samasekali. Dulu ada orang depan itu mas, anak memukul orang tuanya pake bambu sambil memaki orang tuanya maaf, anjing, dll (naudzubillah). Kenapa itu mas? sebab tidak ada ikatan hati orang tua ke anak. Makanya mas aan, meskipun mas aan dan mbak ruli kerja, tolong sempatkan komunikasi dengan hati dengan anak2 mas aan nantinya.

Si ari (anak ketiga pak kost yang tinggal berdempetan dengan ak kost) itu dan istrinya gak pernah memukul anaknya mas. Bahkan si euis (istri mas ari) kalau lagi mangkel pengen nyubit anaknya hanya berucap. “subhanallah, hehhmm” benar2 mereka gak pernah bapak liat ngasari anaknya. Beda dengan si eneng yang tegas mendidik anaknya. Semua orang punya caranya sendiri2, tapi pesan saya lakukan dengan hati. Supaya nanti anak cucu kita mendo’akan kita dengan hati pula. Bukan materi yang bisa menggerakkan hati.

Ketujuh, nanti kalau punya anak jangan satu mas aan. Minimal 4 lah, rejeki tak akankemana. Ibuk ngalami sendiri mas aan, ngasuh anak 1,2,3 atau 4 mah sama aja capeknya. Secapek apapun kalau ngeliat anak mah bakal hilang capeknya mas. Dan bahagia banget kalau anak banyak itu mas ada aja ceritanya masing masing. Dan masing masing memberikan kebahagiaan. Wow, keren kok sama persis dengan bapak surabaya ya pesennya. Asyiikk.

Terakhir bapak kost bilang, kalau barakahnya hidup itu tidak terletak pada bergelimangnya materi dunia, tapi dari kebahagiannya menikmati setiap perjuangan hidup itu sendiri.

Beruntung sekali aku ngontrak disini, banyak hal yang aku dapatkan dari yang sudah banyak makan garam kehidupan. Moga bermanfaat sobat, silakan dishare jika temen2 punya pengalaman.

2 comments on “7 Nasehat Pak Kost dan Bu Kost

  1. Anas
    October 15, 2012

    saking semangatnya sampai lupa dengan eyede, tapi daripada gak iso turu mending salah salah sitik gak opo….

  2. 9ethuk
    October 15, 2012

    Hehehehe, penyakit lama mas. Selalu gak begitu concern ke eyd dan 'malas' mengilang membaca kembali sebelum upload. Obate opo ya mas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 14, 2012 by in [Catatan Harian], [Yang Kukenal] and tagged , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: