9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Goblok-goblokan menalar sistem Bank Konvensional VS Bank Syariah (Part 1)

Sebenarnya agak malu dan sedikit takut juga menulis artikel ini, secara gw bukan ahli dalam menjelaskan hal ini. Dan sekali lagi tidak memiliki pendidikan formal menganai perbankan syariah maupun konvensional. Ehmm yang akan saya tulis disini hanya sebats melogika cara kerja sebuah system dengan hal yang simple dan mudah dipahami oleh orang awam sekalipun. Sebab menurut saya, saat ini masih sulit untuk menjelaskannya secara simple, yang ada justru ketika dijelaskan kita jauh lebih pusing dari sebelum djelaskan. Hehehehe (saya termasuk didalamnya).

Tulisan ini juga saya tulis dari beberapa blogger yang mengulas pembahasan serupa. Saya coba kumpulkan, saya cerna menurut pola piker saya dan akan saya jelaskan kembali secara lebih simple, atau istilah jepangnya, goblok goblokan.

Namun sebelum masuk ke menu utama, saya ingin mengutarakan bahwa, dalam banyak hal batasan halal haram itu terletak pada akad atau perjanjian di awal  saat akan melakukan aktivitas tsb. Contoh, Apa bedanya berhubungan badan antara laki laki perempuan itu dianggap dosa/haram dengan hubungan badan itu berpahala/halal? Betul, yang membedakan adalah jika sebelum berhubungan badan tsb ada akad ijab qabul, maka aktivitas tsb halal dan tidak ada dosa. Namun jika sebelum melakukan hubungan badan tsb tidak akad nikah maka menjadi Haram dan berdosa.

Padahal, secara aktivitas sama saja khan? Yang membedakan adalah perkataan “Saya nikahkan putrid kandung saya………………….” Oleh wali perempuan dan dijawab “saya TERIMA Nikahnya…………….”. Itu saja yang beda.
Contoh lain, di meja teman kerja kita ada uang 10 juta yang berupa pecahan 50rban tergeletak begitu saja. Kalau kita mencurinya juga tidak akan tau karena secara fisik tidak Nampak, pun kalau kita ijin dengan baik baik minta 50rb dan ternyata dikasih maka akan sama saja secara nominal yang kita terima yaitu 50rb juga. Namun secara halal haram jauh berbeda 180 derajat.

Semoga 2 contoh diatas bisa sedikit memberi pencerahan, supaya kita tidak termata kudakan secara materi saya menilainya, tapi harus tetap memasukkan nilai atau urgensi sebuah akad/perjanjian awal sebelum aktivitas dilakukan.

Untuk memudahkan alur berifikir, saya akan bagi menjadi 2 peran hubungan kita dengan bank. Pertama, saat kita menjadi penabung atau penyimpan uang di bank. Kedua, saat kita meminjam uang di bank.

Saat kita menjadi penabung di bank konvensional. Maka ketentuan oleh bank berlaku hukum sebagai berikut, kita menabung sejumlah uang, maka dalam jangka waktu tertentu kita akan mendapatkan bunga atas simpanan kita tersebut. Dari mana bunga tersebut? Kita tidak tau pasti dan terserah bank mau darimana dapet bunga tersebut yang penting kita mendapat hak bunga atas simpanan yang kita berikan ke bank. Nah, bunga disnilah yang haram! Kenapa bunga bank haram? Silakan dibaca pada artikel saya sebelumnya disini. Intinya pijakan kita mendapatkan bunga adalah berdasarkan waktu, semakin banyak uang yang kita simpan dan semakin lama kita simpan, maka bunga yang kita dapatkan semakin banyak. Mau bank rugi atau untung kita berhak atas bunga yang telah ditetapkan oleh bank atas simpanan kita.

Jadi persentase bunga atau uang yang akan disetor ke tabungan kita berdasarkan simpanan pokok yang kita simpan di bank. Jadi uang yang akan kita terima bulan depan juga sudah bisa kita ketahui pada awal akan menabung.

Contoh, kita menabung uang di bank 10jt dengan perpanjian awal bunga selama setahun adalah 5%. Artinya setahun kemidian uang tabungan kita di bank ‘HARUS’ sejumlah Rp. 10.500.000,- (500rb adalah 5% dari 10jt). Dari mana bank mendapatkan 500rb? Kita tidak bisa tau pasti, yang jelas itu berasal dari keuntungan bank (akan lebih jelas setelah kita bahas ketika kita menjadi peminjam ban konvensional). Baik bank itu untung atau rugi, kita tetap harus mendapat uang 500rb. Sebab kita sudah menabung selama setahun. Jadi waktu adalah uang.

Saat kita menjadi penabung di bank syariah, maka nasabah penyimpan dana di Bank Syariah digunakan skema Titipan (wadiah) serta Bagi Hasil (mudharabah). Bank Syariah akan menentukan % nisbah bagi hasil yang dihitung dari jumlah keuntungan yang diperoleh atas dana yang di-mudharabah-kan dengan pihak Bank. Untuk skema Titipan, maka Bank Syariah boleh memberikan sejumlah uang kepada nasabah berupa bonus. Jika bank lagi untung besar otomatis uang yang akan masuk ke rekening kita juga akan besar, sebab angka pengali dari besar uang yang dikirim ke tabungan kita bukan berdasarkan jumlah yang kita simpan tapi berdasarkan keuntungan dari dana yang sudah diputar untuk usaha.

Jadi persentase uang yang akan disetor ke tabungan kita berdasarkan besar keuntungan yang diperoleh oleh bank setelah diputarkan atau setelah uang tersebut memberikan keuntungan.  Jadi uang yang akan kita terima bulan depan belum bisa kita ketahui pada saat awal menabung.

Contoh, Jika diketahui :
1. Tabungan kita di Bank Syariah Rp. 10.000.000,00 dengan jangka waktu 1 bulan
2. Saldo rata-rata seluruh tabungan di Bank tersebut yang memiliki jangka waktu 1 bulan adalah Rp.5.000.000.000.000,00
3. Saldo pendapatan distribusi bagi hasil seluruh tabungan yang ada di Bank tersebut yang memiliki jangka waktu 1 bulan Rp.50.000.000.000,00
4. NISBAH bagi hasil Deposito dengan jangka waktu 1 bulan adalah 55,00 % untuk Nasabah dan 45,00 % untuk Bank.
5. maka bagi hasil yang diterima oleh Nasabah tersebut adalah
Perhitungannya sebagai berikut :
(Jumlah Tabungan kita di bank :(dibagi) jumlah total tabungan semua orang dibank) x Keuntungan bank x nisbah (persentase bagi hasil nasabah dengan bank)
Jadi dari simulasi tersebut didapatkan, jika kita menabung senilai Rp.10.000.000,00 dengan nisbah 55,00%. Pada bulan berikutnya, kita akan mendapat bagi hasil dari Bank sebesar Rp. 55.000,00. Cukup adil bukan ?.Perhitungan tersebut baru bisa diketahui pada bulan berikutnya. Jika rata rata keuntungan dan saldo di bank semakin besar maka jumlah yang akan kita terima juga akan besar. Jadi tidak bergantung hanya kepada nilai tabungan yang kita simpan.

Masih bingung? Mari kita lebih sederhanakan.

Taruhlan di sebuah desan hanya ada 3 orang penduduk, Orang pertama pemegang uang (A ),  Orang kedua, pengusaha yang akan beternak sapi (B), Dan Orang ketiga adalah pembeli sapi (C). Untuk bisa beternak sapi, si B bekerjasama dengan di A. Dengan perjanjian awal, si A membelikan si B Sapi seharga 10jt. Si B akan memelihara sapi tsb. Hasil keuntungan sapi tsb akan dibagi dengan persentase 40 untuk si A dan 60% untuk si B (sebagai pemelihara).

Setelah dipelihara dalam jangka waktu tertentu, maka sapi tsb laku dijula ke C sebesar 15 juta. Jadi ada keuntungan 5 juta. Maka uang uang didapatkan si A adalaha 10 juta ditambah 2 juta (40% dari 5 juta), dan si B akan mendapat 3jt. Kita adalah si A dan bank adalah si B sebagai pengelola dana yang kita titipkan.

Bagimana Jika keuntungannya lebih kecil? Maka si A dan si B juga akan mendapat lebih kecil, pun ketika keuntungan jauh lebih besar dari 5 juta, maka kedua belah pihak akan mendapat lebih. Jadi besar keuntungan tidak bedasarkan waktu tetapi keuntungan yang didapatkan setelah modal yang kita tabung di bank diputar untuk usaha. Semoa lebih jelas.

To be continued (next bagaimana saat kita menjadi peminjam di bank)

4 comments on “Goblok-goblokan menalar sistem Bank Konvensional VS Bank Syariah (Part 1)

  1. Fifin
    October 17, 2012

    yup logika ini yang saya tangkap dari penjelasan mengenai m-dinar. Kan tiap bukan kita dapat untung tuh. Itu karena dinar kita diputarkan untuk usaha.

    Ditunggu part 2 nya kang, semakin menarik nih🙂

  2. 9ethuk
    October 17, 2012

    Udah diupoad mas part 2 nya. hehehe, sumangga aken.

  3. Rahmat
    March 3, 2014

    judulnya kok gamblang banget mas, hihihi
    kalo ini bukan goblog-goblogan, tapi emang pengertian yang dah pas
    :-p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: