9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Goblok-goblokkan menalar sistem Bank Konvensional VS Syariah (Part 2-Habis)

Mari kita lanjut, jika pada artikel sebelumnya (klik disini) kita bahas saat kita menjadi pihak yang menabung di bank, sekarang akan kita ulas bagaimana system yang berjalan saat kita menjadi peminjam uang di bank.
Saat kita meminjam uang di bank konvensional, aturan yang berlaku hanya satu kita diberi pinjaman sejumlah tertentu dan harus mengembalikannya sejumlah tertentu plus bunganya dalam jangka waktu tertentu. Hubungan antara kita dengan bank adalah peminjam dan yang meminjami. Kreditur-Debitur.

Contoh, kita meminjam uang di bank 10jt. Maka diperjanjian awal sudah ditetapkan bunga dari pinjaman kita itu. Misal sebesar 5% dalam jangka waktu 1 tahun. Jadi di akhir tahun kita wajib mengembalikan sejumlah Rp.  10.500.000,-. Entah kondisi keuangan kita sedang seret atau lancar kita wajib membayar bunga tersebut. Bagaimana kalau tidak sanggup membayar? Kemungkinannya aka nada 2, pertama akan dilakukan penangguhan dengan konsekuaensi bunga akan berlipat ganda atau aka nada penyitaan terhadat harga berharta kita yang kita berikan sebagai jaminan saat meminjam. Inilah yang saya makud pada artikel sebelumnya (klik disini) tentang system kerja riba.
Contoh lagi, kita kredit motor. Disepakati harga motor 30jt, margin bunga bank adalah 10% selama 30 bulan. Maka setiap bulan kita wajib membayar  1,1jt. Total yang kita bayarkan selama 30 bulan adalah 33jt. Bagaimana jika telat bayar? Ada 2 kemungkinan, motor akan ditarik atau ada penambahan denda atau penalty.

Bagaimana dengan Bank Syariah? Sistem simpan pijamnya ada beberapa model tapi yang gw tau system bagi hasil, system jual-beli, system sewa dan system jual-sewa. Mumet? Podo! Hehehe. Kenapa kok pake system dan model model begitu? Sebab uang yang keluar dari bank syariah harus digunakan ke usaha yang riil dan halal. Tidak bisa kita pinjam di bank syariah untuk membuka diskotik, pasti ditolak. Karena memang focus pembiayaan bank syariah pada sector riil.
Jadi saat kita mengajukan permohonan pinjaman ke bank syariah untuk membuka usaha misalnya, untuk penggemukan sapi seperti contoh diatas,
Taruhlan di sebuah desan hanya ada 3 orang penduduk, Orang pertama pemegang uang (A ),  Orang kedua, pengusaha yang akan beternak sapi (B), Dan Orang ketiga adalah pembeli sapi (C). Untuk bisa beternak sapi, si B bekerjasama dengan di A. Dengan perjanjian awal, si A membelikan si B Sapi seharga 10jt. Si B akan memelihara sapi tsb. Hasil keuntungan sapi tsb akan dibagi dengan persentase 40 untuk si A dan 60% untuk si B (sebagai pemelihara).
Setelah dipelihara dalam jangka waktu tertentu, maka sapi tsb laku dijula ke C sebesar 15 juta. Jadi ada keuntungan 5 juta. Maka uang uang didapatkan si A adalaha 10 juta ditambah 2 juta (40% dari 5 juta), dan si B akan mendapat 3jt. Kita adalah si B dan bank adalah si A sebagai pengelola dana yang kita titipkan.
Disepakati harga motor 30jt, jika menggunakan system jual beli maka jelas sistemnya. Bank akan membeli motor tsb dari dealer seharha 30 juta. Dan menjualnya kembali ke kita seharga 33 juta, kita diberi kelonggaran dengan membayarnya selama 30 bulan dengan angsuran 1.1jt perbulan.
Kalau system yang digunakan system beli-sewa, maka dari awal disepakati kita berkerjasama dengan bank untuk membeli motor tersebut. Dengan harga 30 juta. Karena kita diberi hak untuk menggunakan motor tersebut dari awal, maka kita dikenai biaya sewa oleh bank atas penggunaan motor tsb selama 30 bulan dengan biaya sewa perbulan adalah 1.1jt. jadi total 30 bulan adalah 33juta. Bagaiman jika menunggak? Maka aka nada system infak untuk fakir miskin setiap harinya(aku pake kpr syariah dan ada ketentuan ini juga jika terjadi keterlambatan pembayaran) sesuai kesepakatan kita dengan bank.
Bagaimana dengan system kredit rumah? Secara prinsip sama juga, InsyaAllah kalau masalah kredit rumah akan saya bahas detail di artikel serial Rumah di blog ini.
Dari sini terlihat bahwa secara materi uangnya ya sama sama saja, tapi secara prinsip akad diawalnya jelas berbeda. Itulah kenapa dari awal saya tekankan, dalam banyak hal yang membedakan system halal haram itu pada saat akadnya.

Sedikit yang saya tau saya share ke temen2 semua, silakan dibagi jika temen2 punya pengalaman.

3 comments on “Goblok-goblokkan menalar sistem Bank Konvensional VS Syariah (Part 2-Habis)

  1. Fifin
    October 17, 2012

    Ayo saatnya nabung di bank syariah🙂. Atau kalau mau kredit ke bank syariah ^_^

  2. Fifin
    October 17, 2012

    Eh lebih baik klo nabung dalam bentuk dinar ajah he he

  3. 9ethuk
    October 17, 2012

    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: