9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Punya Salah Apa Uang Receh?

Beberapa hari sebelum menulis ini, aku membuat cerita singkat di wall fb tentang pengalamanku membelanjakan uang receh, baik yang 500an maupun yang 100an (klik disini). Dari 3 tulisan singkat tsb, ada yang unik terkait komentar komentar yang muncul. Meskipun sebagain besar menganggap cerita tsb hal yang lucu, namun gw penasaran dimana letak kelucuannya.

Biasanya, sesuatu itu dianggap lucu jika,

tidak sewajarnya hal tsb dilakukan, meskipun secara aturan diperbolehkan dan sah sah saja.
geli aja, kok masih ada yang melakukan meskipun kebanyakan orang malu malu melakukannya.
tidak seperti kebanyakan orang melakukan tindakan tsb.
Ehmm, apalagi ya?

Padahal, secara sadar atau tidak sadar kita yang mengumpulkan uang tersebut. Sebagai contoh gw sendiri. Gak terasa uang tsb aku kumpulkan hampir sekitar 2,5 tahun lebih. Dan tidak terasa, kenapa? sebab ‘mengumpulkannya’ tidak disengaja.

Contoh, habis beli dari minimarket. Dapet uang kembalian 500an, 200an atau 100an. Masuk ke saku. Pas celana mau dicuci, pasti kita ambil dulu. Taruh di meja.
Lain hari ke warteg, dapet lagi kembalian uang 500an. Taruh di dompet, dapet kembalian lagi taruh di dompet. Hingga dompet agak susah di tutup. Keluarin dari dompet, taruh di meja mana aja di kost/kontrakan.

Begitu terus menerus. Karena di meja berserakan, kadang jatuh ke lantai, eh pas sapu sapu kiat pungut. Taruh lagi di meja. Karena capek ngeliat barang berserakan, aku ambil botol. Masukin ke botol. Lama kelamaan botol penuh. Kita ambil botol yang lain. Penuh juga. Akhirnya gw kelompokin berdasarnya nilai nominal uang receh tsb. Begitu seterusnya hingga terkumpul ratusan keping.

Dan anehnya, saat kita beli apapun di minimarket atau di warung. Kita merasa canggung untuk membayar dengan uang receh, dan merasa lebih nyaman membayar dengan dapat kembalian dari pada membayar uang pas.

Jujur aja deh, prosentase saat kita membayar. Lebih banyak mana? pake uang pas atau uang lebih? saya yakin 80% lebih sering menggunakan uang lebih.

Contoh, habis belanja di minimarket. Habisnya 17.500. Di dompet ada uang 20rb, 10rb, 1rban 4 lembar, dan 200an 3 keping. Uang mana yang akan kita keluarkan?

Hehehehehe. Pasti lebih sering 20rban. Dan kita akan mendapat receh. Kenapa ya? Ya karena kita adalah ‘kolektor’ uang receh.

Meskipun kita kolektor, tapi anehnya kita bukan penyayang barang koleksi kita. Loh kok bisa? Simple aja, ini contohnya.

Sering aku liat, jika ada orang saat naik kendaraan di bus atau angkutan. Tidak sengaja uang recehnya jatuh? apa yang dilakukan orang tsb? sebagian besar yang aku liat cuek, merasa malu mengambil lagi. Atau paling tidak sekedar formalitas ‘mencari tanpa ada niat menemukan. Seakan malu mengambil uang receh. Apa salah uang receh?

Bahkan di jakarta, sekedar untuk parkir. Kita malu kasih uang parkir 500 rupiah. Orang pun akhir mematok nilai minimal buang hajat di tenpat umum adalah 500 rupiah, kalau belum naik. bahkan di jakarta bakal disahkan aturan untuk menaikkan sewa parkir. Makin langkalah uang receh. Apa salah uang receh?

Ehmm, sepengetahuanku, minimarket yang masih menghargai uang receh adalah minimarket hari hari. Di minimarket itu bahkan uang kembalian 25 rupiah juga masih ada dan diberikan dan minimarketnya menyetok uang receh tsb. Aku masih menyimpan uang 25rp kembalian dari minimarket tsb di dompetku. Hehehe.

Sebenarnya apa bedanya uang 50rb yang terdiri dari :
1 lembar uang 50rb
2 lembar 20 dan 1 lembar 1rb
5 lembar 10rb
10 lembar 5rb
………
……..
100 keping uang 500an
500 keping uang 100an
……..
……..

Sama sama manusia, tapi yang satu naik camry satunya naik bajay. Seakan akan lebih mulia yang naik camry. Padahal sama sama manusianya. kalau yang naik bajay pencopet maka bakal digebukin orang banyak hingga dibakar. Jika yang naik mercy korupsi, bakal di kawal puluhan polisi dan dimasukkan ke ‘hotel’ prodeo.

Maka menjadi masuk logika jika Islam mengajarkan kita bahwa yang paling mulia disisi Alloh adalah tingkat ketaqwaan. Siapapun atribut fisik orang tsb.

6 comments on “Punya Salah Apa Uang Receh?

  1. Fifin
    October 19, 2012

    wah aku juga begitu kang, suka narung uang receh di meja begitu saja. Cuma ndak sampai banyak begitu. Kalau udah terasa banyak ya dibelanjain, atau dikasih ke pengamin yang sering lewat depan rumah.

  2. 9ethuk
    October 19, 2012

    Mantabz tuh Kang. Di depan kontrakanku jarang lewat pengamen soalnya.

  3. osenka
    October 23, 2012

    assalamu’alaikum. salam kenal.

    saya setuju dengan anda, banyak yg suka ngumpulin uang receh tapi gak dibelanjain. kalau saya sendiri, memang suka ngumpulin uang receh yg dibawa kemana2. biasanya uang ini buat bayar parkiran, pengamen, fotokopi, dll. kalau udah banyak banget, biasanya saya tuker ke warung2, mereka suka nyari uang receh buat kembalian.

    • 9ethuk
      October 23, 2012

      Wa’alaikumsalam wr wb,
      Salam kenal juga, ehmm tadi aku buka blognya belum ada profilenya. Jadi bingung nyebut apa. hehehe.

      Wah, berarti anda sudah memulainya duluan ya. Joosss!!! Salut dah. Salam receh ya,😀😀

      • osenka
        October 23, 2012

        😀 salam receh. duit ya tetep aja duit ya.

        makasih atas kunjungannya, maaf jadi bingung, belum sempat ngedit profile. bingung juga mau nulis apa tentang diri saya😀

      • 9ethuk
        October 23, 2012

        Hehehehe,….
        Ditunggu update blognya ya,..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 19, 2012 by in [Opini] [Reportase] [Analogi] and tagged , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: