9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Perjalanan Sebuah Puisi (Part 5)

Ada yang terlewat belum aku ceritakan pada part 4 sebelumnya (klik disini untuk part 4), yaitu detik detik untuk pertama kalinya aku melihat secara langsung dan utuh dari ujung jilbab sampai ujung sendal pihak perempuan. Kapankah itu? yaitu di stasiun gambir. Sesaat sebelum aku naik kereta menuju surabaya untuk menemui calon orang tua. Jadi, begini ceritanya.

Setelah aku diperintahkan MR untuk kesurabaya, aku memberi tahu pihak perempuan kapan aku berangkat ke surabaya. Kebetulan pihak perempuan ingin nitip barang untuk diberikan ke ibunya. Nah janjianlah kita ketemu di stasiun gambir, cieeeeee. Aku dag dig dug saat itu, bener-bener saat yang mendebarkan. bagaimana tidak, sejak taaruf hingga menyetujui hasil taaruf untuk lanjut ke tahap selanjutnya aku belum pernah melihat calon perempuan sama sekali (kecuali dlu pas kuliah, itupun masa bodoh, cuek abis).

Bermodal hati dag dig dug, ek Gambirlah aku. berangkat ke gambir aku sengaja agak awal, hehehe. Takut macet di jalan dan supaya bisa ketemu. Hehehehe, jadi malu nulisnya. Naik busway dari fly over pasar rebo ke arah ancol oper di cililitan. Nyampek halte senen oper bus way ke arah gambir. Akhirnya nyampek gambir juga. Smsan, ternyata pihakperempuan sudah ada di lantai 2 terminal gambir. Aku telat, hiks. Mana jadwal berangkatnya agak mepet lagi, kalau gak salah tinggal 30 menitan sebelum kereta berangkat pas aku nyampek di stasiun. Sempet beberapa kali nyari lokasi si perempuan dambaan hati ini duduk dan enunggu aku dimana. Karena gak ketemu ketemu lokasinya, aku telpon si pihak perempuan muter2 lantai 2. Suaranya mas bro,…. semriwiinnggg merdu merdu agak melengking gimana gitu. hehehe.

Pas muter2, ada yang manggil namaku dari belakang. Dug dug, dug dug,.. inikah gerangan itu yang aku tak bisa melihat pas ta’aruf?

Aku membalikkan badan, sejurus aku liat perempuan berjilbab coklat lebar membawa tas di tangannya. Pake kacamata, wajahnya putih bersih, tinggi (tapi aku lebih tinggi, hehe), agak kurus. Dan,… cantik!

Sejurus kemudian dia memberikan titipan ibuknya, dan ada tambahan satu kantong plastik lagi berisi minuman ringan dan snack. Alhamdulillah. Xixixixi, dah kayak dorama aja. Cew yang ngasih bingkisan buat makan di perjalanan buat cownya. Hahahahaha.

Hatiku tentram, setentram Nabi Ibrahim yang ditentramkan Alloh saat ingin melihat Rabbnya.

Perjalanan ke Surabaya menjadi bertambah semangat, hehe.

——————— begitu ceritanya.

Balik lagi ke kelanjutan dari Part 4. Perjalanan dari magetan balik lagi ke Jakarta dengan telah memegang penuh persetujuan ke empat orang tua semakin menguatkanku. Bahwa segalanya dipermudah Alloh.

Sesampai di Jakarta, aku laporan ke MR bahwa misi telah dilaksanakan dengan sukses. Dan bertanya, What next Ustadz?

Pertemuan kedua keluarga besar sekaligus kitbah (lamaran). Wow,…!!!

Aku diminta Ustadz untuk mendiskusikan dengan keluargaku dan keluarga pihak perempuan mengenai tanggal dan waktunya. Kapan dimana dan seperti apa.

Menginta calon istri masih sebagai CPNS yang belum dapat jatah cuti, maka pelaksanaan kitbah dan acara pernikahan harus menyesuaikan tanggal merah yang tepat. Nah disinilah seninya mencari tanggal.

Jadi inget, dulu pengennya kita berdua (aku dan calon istri) pengen segera kitbah dan acara akad nikah secepatnya. Kalau bisa sebulan setelah kita aku dari Surabaya nembung itu langsung kitabh seminggu kemudian langsung akad nikah. Khan begitu seharusnya, lebih cepat lebih baik, untuk menghindari fitnah.

Ide kami ‘diketwain’ ke empat orang tua kami, gundulmu le, emang gak perlu persiapan tetek bengeknya? hahahaha. Maklum darah muda, hehehe.

Dari rembugan, diskusi dan musayawarah. Disepakati, acara kitbahnya sebulan setelah aku ke surabaya itu dan akad nikahnya di bulan juni atau sekitar 3 bulan setelah kitab. Pertimbangan orang tua, mereka butuh waktu untuk mempersiapkan walimahannya. Cari lokasi, cateraing, undangan, dll yang saat itu kami belum tau. jadi, total waktu setelah ta’aruf hingga ke akad nikah sekitar 4 bulanan kalau tidak salah.

Bagi kami berdua 4 bulan cukup lama, tapi bagi orang tua, itu waktu yang sangat cepat. Entah kenapa, kami kurang tau. Mungkin karena kami belumjadi orang tua kali ya,. Apapunlah, asalkan orang tua senang, kamipun senang dan bahagia. Apapun untuk orang tua.

Menunggu saat saat kitbah.

to be continued.

4 comments on “Perjalanan Sebuah Puisi (Part 5)

  1. Anas
    October 20, 2012

    Kalo aku dulu beda An. Karena calon istri adalah dedengkotnya KAMMI dan Mbak'e bocah-bocah, SMS diseneni, dolan ke rumah ndak boleh, jadinya waktu khitbah, aku gak ngerti omahe.. Jadinya aku diumbah Bapak. “Iki ngelamar anak'e wong malah gak ngerti omahe?”

  2. 9ethuk
    October 20, 2012

    Jiaaahhhhh, wakakakakaka,……
    Aku mbayangno ae wes nguyu cekakakan mas. Hahahaha, ayoo critaa!!!!!!

  3. duniaely
    October 20, 2012

    kok dipedot sih mas ceritane🙂

  4. 9ethuk
    October 20, 2012

    Hehehe,.. Capek Mbak Nulisnya. Hahahaha. Masih belajar nulis neh.

    Btw, pake wrd prwss enak tak mbak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 20, 2012 by in [Perjalanan Hidup] and tagged , , , , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: