9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Putriku (Part 5)

Ibuk menghubungi dokter Vita untuk mengkonfirmasi bahwa tidak perlu dilakukan induksi, langsung dilakukan operasi. Kemudian disepakati bahwa Operasi dilakukan Tanggal 24 Aug 2012 setelah jum’atan. Tapi kami diminta datang sekitar jam 9an pagi untuk administrasi dan general check up.

Kami sekeluarga bersiap menuju rumah sakit. Semua perbekalan disiapkan, mulai dari persiapan untuk calon bunda, hingga perlengkapan untuk bayinya.

Sekeluarga full team ke RS Sayang Bunda Cimanuk. Bismillah aja.

Sesampainya disana, kita mengisi formulir, terdiri dari formulir bersedia operasi, dll. Ehmm, untuk operasi ada beberapa pilihan paket. Ada mulai paket kelas III, II, I hingga VIP. Masing masing paket operasi beda2 harganya. Mulai 8.9jt hingga 17jtan yang VIP, aku agak lupa. Hehmm, diskusi bentar dengan istri, menyesuaikan premi yang ditanggung asuransi dan ketersediaan uang kita. Ehmm, tapi untuk sementara sebelum di klaim reimbuse biaya akan di cover bapak dulu, asyikkk…

Kita pilih Klass II aja. Pertimbangan, gak terlalu jauh dari jatah premi yang bisa di klaim (8.5jt) dan Kamar udah dapet yang AC. Maklum, surabaya, tau sendiri bagaimana jika siang hari. Bismillah.

Setelah administrasi beres, kita dapet kamar yang kami pesan. Kamar Klass II bersisi 2 tempat tidur/ untuk 2 pasien dalam satu kamar yang dipisahkan dengan curtain. Nah pas kebetulan hari itu hanya kami saja, jadi satu kamar yang seharusnya untuk 2 orang sementara bisa kami pakai sendirian. Alhamdulillah.

Hehmm,, aku liat. Wajah istriku sudah tidak setegang kemarin saat mendengar kata-kata induksi. Sekarang lebih ceria dan bersemangat seperti biasanya. Seakan dia sudah mempersiapkannya tadi malam, entah dengan cara apa. Tapi dia tatag saat akan operasi. Dan aku lega.

Dapet infodari susternya jika operasi akan dilakukan sekitar jam 2 siang. Jadi kami yang cow masih punya kesempatan untuk sholat jumat dulu. Jum’atan di masjid RS Darmo, lewat pintu belakang.

Berangkat bertiga menuju RS Darmo mencari masjidnya. Istriku, Ibuk, Mbak Wid dan Asha di rumah sakit menunggui istriku. Masing-masing orang menjalakan perannya. Mungkin terlihat tidak sama, tetapi jika di satukan akan mengumpul menjadi satu.

Selepas sholat, aku panjatkan do’a yang cukup spesifik. Supaya runcing do’a itu. Sebuah doa yang detail sedetail do’a nabi Muhammad sesaat menjelang perang badar. Sebuah do’a yang sangat detail dibanding dengan do’a do’a yang lain. Kenapa musti detail? Supay runcing pena itu. Semakin runcing pena, maka goresan tulisannya semakin jelas terlihat. Supaya doa lebih tajam, jika pedang tajam maka akan mudah digunakan untuk menebas dibanding dengan pedang yang tumpul.

Simple do’aku.

“Ya Alloh, semoga operasi berjalan lancar. Istri dan anakku sehat”

Maka aku sambut do’a itu dengan
RABBANA HABLANA MIN AZWAJINA WA ZURRIYATINA QURRATA A’YUNIW WAJ’ALNA LIL MUTTAQINA IMAMA.
(“YA TUHAN KAMI, ANUGRAHKANLAH KEPADA KAMI ISTERI-ISTERI KAMI DAN KETURUNAN KAMI SEBAGAI PENYENANG HATI (KAMI), DAN JADIKANLAH KAMI IMAM BAGI ORANG-ORANG YANG BERTAKWA)

Indah sekali do’a ini.

Selesai menunaikan sholat jumat aku kembali ke rumah sakit syang ibu. Tepat pukul 1 lebih. Istri diminta masuk ruang persiapan operasi untuk pemasangan infus dll. Kalau di ruangan persispan operasi aku masih boleh masuk. Di ruangan itu aku duduk di samping istriku yang berbaring di tempat tidur dengan jarum infus tertancap di tangannya. Ia bercerita betapa sulitnya tadi saat suster menacari lokasi untuk memasukkan jarum ke pembuluh darah. Dan memang seperti itu juga sebelum sebelumnya.

Kami berdua berbincang ringan, sekedar bercerita ini itu sembari tertawa kecil kadang kadang. Atau bercerita tentang suatu hal yang bisa membuat istriku sedikit rileks dan tenang, meski aku sadar ia pasti mau tidak mau memikirkan operasinya yang akan dijalaninya sebentar lagi. Di rungan sebelah kami. Tidak ada obrolan berat hanya berbincang bincang baiasa, sebiasa saat kami dulu di kontrakan saat malam selepas sholat isya. Ngobrol tentang kerjaan, hal lucu dikerjaan atau apapun itu. Yang ingat aku tidak mengucapkan kata kata romantis meskipun pandai membuat puisi, seakan beku semuanya dihadapan realita. Tidak ada kata kata penyemangat seperti saat orasi, sebab orasi mati suri di hadapan pertaruhan hidup dan mati yang akan dijalani istriku sebentar lagi.

“Dokternya sudah datang, permisi Pak kami mau membawea ibunya ke ruang operasi” Kata susternya.
“Saya boleh ikut masuk suster?” tanyaku.
“Tidak diperkenankan masuk kecuali tim operasi pak” jawab susternya tegas.

Aku keluar ruangan dan istriku masuk ke kamar operasi. Aku lupa aku engucapkan apa, jika tidak salah.

Bismillah ya Yank, banyak banyak do’a.

—————– Seakan watu berhenti. Setiap detiknya begitu lama. Apa saja yang dilakukan team operasi di dalam sana. Tidakkah mereka mau memberi sedikit kabar padaku yang gundah dulana menunggu.

to be continued.

2 comments on “Putriku (Part 5)

  1. Fifin Abu Hanan
    October 21, 2012

    wah ternyata ceritanya mirip dengan kita kang. Sama-sama operasi. Bedanya posisi bayi kita yang 'mlumah'. Ga tahu klo di Ai gimana, kok bisa ndak kontraksi-kontraksi.

    Yup ketika operasi, yang ada setiap detik hanya ada dzikir dan pasrah. Hemm mengingatnya jadi #sendu. Saat-saat yang luar biasa.

  2. 9ethuk
    October 21, 2012

    Dan bersyukurlah kita ketika bisa mendampingi istri saat melahirkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 20, 2012 by in [Perjalanan Hidup] and tagged , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: