9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Putriku (Part 6)

Di puncak usaha manusia yang menemui jalan buntu, maka disanalah kepasrahan terletak.

Apa yang bisa aku perbuat coba?

Kini, manusia kembali ke asalnya, tidak memilki wewenang sedikitpun atas dirinya. Bahwa yang mengatur segala sesuatu, yang menghendaki kita lahir di dunia bukanlah diri kita. Bahkan saya dan istripun tidak berhak dan tidak punya kuasa untuk melahirkan anak kami, sedikitpun tidak punya kuasa. kepada siapa lagi kita akan memohon? hanya Allohlah tempat meminta dan menyembah.

Proses operasi dimulai, detik demi detik berjalan melambat. Sangat lambaaatttttt…!!! sekali. Semua rasa muncul satu persatu dan bertengkar satu sama lain, bertemu di dosis yang kadang tidak sama disetiap detiknya. Dentuman suara jantung berdegud naik turun tidak teratur mengikuti irama pemenang rasa yang ada.

Kadang,. aku duduk di sofa samping ruang operasi. Kemudian berdiri, berjalan ke arah pintu luar, kembali lagi ke dalam lalu duduk sofa samping ruang operasi lagi.

Satu menit, dua menit,……. 5 menit, 10 menit,… detik terus berjalan. Diikuti jarum menit yang perlahan bergerak bahkan terlihat diam saja dari tadi. Aku masih menunggu.

Di tengah-tengah waktu operasi, bapak, ibuk, dek koko, dek pram datang ke rumah sakit. Membantu support penuh akan kelahiran cucu perempuan mereka dan keponakan bagi adek-adeku. Aku semakin tentram, 2 keluarga penuh tumplek bleg menanti di samping ruang operasi. That what family for. Ada disaat kita butuh sandaran dan ketentraman.

Sholat ashar terdengar, aku berniat menenangkan diriku sendiri.

Aku beranjak ke mushola lantai 2 yang memang disediakan oleh rumah sakit untuk keluarga pasien.

Aku sholat ashar, entah bagaimana pahala sholatku. Yang jelas campur aduk rasanya saat sholat. Dan pastinya, aku memohon pada Alloh supaya Istri dan anakku sehat kedua-duanya.

Baru saja keluar mushola, aku mendengar suara bayi yang kueeeeeeeenceeeeennnnnngg!!! banget. Aku segera menuju ke lantai satu, disana ada bayi sedang nangis teriak teriak digendong suster. Dan keluarga mengerubungi bayi tersebut sambil bilang. “Mana bapaknya mana bapaknya di adzani, mana aan?” Budhe Uti mencari cari aku. Sigap aku langsung mendekat ke bayi tersebut, sejenak ehhmm atau mungkin sepersekian detik. Inikah wujudmu nak?, yang kami nanti sembilan bulan lebih. Yang ada di perut bundamu, yang setiap hari aku elus elus di perut bundamu, yang setiap waktu kami do’akan untuk kesehatanmu, yang setiap orang di keluarga mengharapkan kelahiranmu, yang harus kami nanti 5 bulan sebelum kepastian bundamu positif hamil dan yang yang yang lain.

Pas mau aku adzani, aku diminta mengadazaninya di ruang baby aja, jangan di koridor. Hehehe😀 akhirnya aku dibawa ke ruang baby yang ada di seberang ruang operasi.

Diruangan itu, aku adzani anakku ditelinga kanan.

“Allohuakkbar….. Allohuakbar…….”

…………..

“Laillahaillah….”

Entah kenapa, suara adzan itu terdengar begitu saangaaaaattt indah, membuat bulu romaku berdiri, dan suaraku bergetar disetiap kalimat adzan yang kulantunkan. Seakan tersungkur, bahwa dibalik semua peristiwa, maka Allohlah yang maha besar, semua kecil dihadapanNYA. Sambil takjub, aku melihat annakku ini, saat adzan anakku diam tidak menangis seperti sebelumnya. Seakan ikut mendengarkan dengan seksama dan menyaksikan kebesaran Alloh yang telah melahirkannya untuk melihat dunia. Welcome to the wolrd my girl.

Selesai adzan, aku iqamat di samping telinga kiri anakku.

Selesai adzan dan iqamat, aku keluar rungan. Semua keluarga yang ikut menunggu memberikan selamat padaku satu persatu, memelukku, memberi nasehat singkat. Tiba-tiba, di tengah-tengah suasana itu, tanganku ditarik bapak surabaya ke kamar inap kami. Bapak magetan ikut, seolah tau apa yang akan kami lakukan. Kami bertiga sujud syukur, menyungkurkan kepala kami ke lantai penuh rasa syukur tak terhingga. Khusuk kami bertiga bersujud, hingga tak terasa air mataku keluar tak terbendung. Pun bapak surabaya apalagi, sudah dipastikan menangis.

“Selamat ya An, sekarang kamu sudah benar benar menjadi bapak, do’akan terus itu anakmu” kata bapak surabaya.

Bapak magetan memukul lembut kepalaku, memelukku. Tanpa kata, tapi aku tau apa yang ‘diucapkan’ bapakku.

Kami keluar ruangan menemui keluarga yang masih ramai di koridor sambil melihat anaku di baling kaca yang ada di ruang bayi yang masih menangis. Keras banget nangisnya. Gak papa, untuk melatih otot jantung kata susternya. Saking kencengnya sampai keluar air mata saat nangisnya. Duh nak, segitunya seh kalau nangis.😀 (mirp sopo hayoo nangisnya?)

Beberapa saat kemudian, pintu ruang operasi dibuka. Itu pasti istriku.

……………. to be continued.

2 comments on “Putriku (Part 6)

  1. dwiyuli
    October 23, 2012

    Yup, benar sekali Pak. Pasrah akan kekuasaan Allah, itu satu-satunya yang bisa dilakukan saat semaksimal mungkin usaha dan berdamai dengan keadaan, tentu saja diiringi doa.

    • 9ethuk
      October 23, 2012

      Luar biasa ya Bu rasanya,.. benar benar deh. Jika menikmati setiap perjalanan hidup, seharusnya setiap manusia semakin mendekat pada Rabbnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 22, 2012 by in [Perjalanan Hidup] and tagged , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: