9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Putriku (Part 7-Habis)

Tergolek lemas, seorang perempuan cantik memakai kerudung dan kacamata. Wajahnya terlihat pucat, seakan habis mengalami kejadian yang hebat. Diatas tempat tidur dorong, berselimutkan kain yang menutupi setengah badan ke bawah, setengah badan lagi tertutup jilbanya besar.

Segera aku hampiri istriku yang berbaring di tempat tidur dorong, aku bantu suster mendorong dan memindahkan istriku dari kamar operasi ke kamar rawat inap.

Aku pegang tangan istriku, entah dia sadar atau tidak sadar, tangannya sangat dinngin seakan menahan rasa sakit yang amat. Tapi yang membuatku aneh, rona wajahnya menunjukkan kegembiraan yang sangat. Ada ekspresi bahagia yang luar biasa terpancar dengan kuat di wajahnya. Aku mau bilang, “kau luar biasa yank”, namun hanya keluar di dalam hati. “kau,  sudah menjadi bunda sekarang yank”, ya. Bunda. Sebuah sebutan yang biasa kita biasakan sejak si dedek masih dalam kandungan. Dan aku, ingin dipanggil abi. Bunda-Abi. 2 pilihan sebutan yang kita sepakati saat usia kandungamu beranjak besar saat itu. Jadi teringat saat diskusi, mau dipanggil apa nanti, Bapak-Ibu, Abi-Ummi, Abah-Ummi, Ayah-Bunda, Ayah-Ibu,… sempet ketawa ketiwi kalau dulu latihan mengucapkan kata kata itu,😀😀 secara dedeknya masih di kandungan dan kita belum terbiasa dengan sebutan yang ‘aneh’ itu. Mulut kita agak kaku mengucapkannya, telinga kita geli geli gimana mendengarkannya.

Tapi semenjak anakku lahir, harus dimulai dibiasakan. Setidaknya memotivasi kita menjadi lebih baik, sebab hakekatnya, ‘bukan orang dewasa yang melahirkan anak, tapi kehadiran anaklah yang mendewasakan orang tua’.

Tempat tidur dorong sampai di kamar rawap inap, posisi tempat tidur juga sudah pas. Sebelum suster yang mengantar pergi, suster berpesan. Mbaknya belum boleh makan/minum sebelum 4 jam lagi. Belum boleh bergerak miring atau duduk sebelum 8 jam. Setelah 8 jam latihan miring/duduk dulu. Setelah sehari latihan latihan jalan ya. Kami manggut manggut.

Setelah istri nyaman di ruang rawat inap, aku menuju ruang baby kembali. Sekarang saatnya melakukan sunnah Rasul, melakukan tahnik. Yaitu memasukkan kunyahan lembut kurma yang di oleskan ke dinding mulut bayi. Karena aku tak membawa kurma utuh, maka aku melakukannya dengan sari kurma yang sudah aku siapkan sebelumnya. Caranya, cuci tangan, jari telunjuk kanannya aku emut dulu (supaya ada ludahku disana), kemudian aku tutulkan ke sari kurma, lalu aku oleskan ke bibir dan terkena gusi dedeknya. Sambil aku do’akan :

Innï u’ïdzuki bi kalimäti-l-lähi-t-tämmati min kulli syaithänin wa hämmatin wa min kulli ‘ainin lämmatin.

Artinya: Sesungguhnya aku memperlindungkan kepada-Mu (anak ini) dengan kalimat-kalimat Allah yang Sempurna, dari segala gangguan syetan dan gangguan binatang, serta gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat buruk bagi apa yang dilihatnya.

Indah sekali do’a ini. Rasul mengucapkan ke doa ini untuk kedua cucu beliau, hasan dan husein. Kelak, aku ingin mentahnik cucuku dan mendoakan dengan doa ini. Aamiin.

Aku amati, si dedek klamu klamut menikmati sari kurma yang aku oleskan. Subhanallah. “Nikmat sekali rasanya ya nak?” tanyaku dalam hati.

Sudah selesai tugas abi? belum. Kali ini mencuci ari-ari dan menguburkannya. Meskipun ari-ari sudah dicuci, pesan ibukku (2 ibuk) diminta dicuci lagi dirumah pakai sabun sampai bersih dan yakin bersih.

Setelah dapat ari-ari anakku, aku dan bapak pulang ke rumah. Untuk mencuci ari-ari dan menguburkannya. Lubang ari-ari juga sudah aku gali beberapa hari sebelumnya. Jadi tidak perlu lagi ada acara gali lubang pas hari H. Oiya, perjalanan pulang, kami mampir dulu ke pasar kembang, beli garam supaya gak bau saat ari ari di kubur sehingga menghindari hewan liar ndoker ndoker(menggali lubang), sisir, pensil, buku, apalah aku gak paham. Intinya, sebenarnya gak ada hubunganya apa apa. Hanya menghindari perdebatan dengan sesepuh dan keluarga besar. Dan aku juga meyakini bahwa seharusnya tidak seperti itu juga. Seingatku gak semua aku masukin, kata bapak ada beberapa barang yang gak masuk logika dan dikhawatirkan mengundang setan atau jin, itu tentu gak diikutin. Tapi, intinya jika memang di keluarga besar tidak mempermasalahkan tidak menggunakan tata cara itu semua, lebih baik tidak usah diikutkan. Cukup dikubur pake wadah, dibungkus kain, pake garam sudah cukup.Di tempat aku mengubur ari-ari juga tidak aku kasih lampu dan kurungan. Alhamdulillah Anak tetep sehat, sebab Allahlah yang memberi kesehatan, bukan selainNYA.  Bismillah aja, meski belum bisa ikut 100% tuntunan Rasul, kita tetep berdo’a untuk kebaikan dunia akherat. Aamiin.

Setelah mengubur ari ari selesai dilakukan, aku diajak bicara 4 mata oleh bapak surabaya. Menyampaikan pesan yang turun temurun senantiasa disampaiakan dari orang tua ke anak saat kelahiran cucu. Apa saja itu ada 7 pesan yang masih ceket (ehmm, melekat erat di ingatan) disampaikan bapak kepadaku terhadap anakku nanti;

Pertama, saat kelahiran dilakukan Adzan dan Iqamat (sudah kulakukan)

Kedua, Menggali lubang dan menguburkan ari-ari (sudah kulakukan)

Ketiga, Memberi nama yang baik. (Sudah kulakukan)

Keempat, Melakukan potong rambut dan Aqiah.

Kelima, Memberi makan dan minum dari rejeki yang halalan thoyiban

Keenam, Memberi tauladan pendidikan agama dan pendidikan umum yang baik, termasuk pendidikan akhlak.

Ketujuh, Mencarikan jodoh dan memilihkan jodoh yang baik, menikahkan dengan cara yang baik (jadi inget, saat menikah bapak yang langsung menjadi wali. Tanpa perantara najib)

Dan bapak memintaku, untuk menyampaikan ke anakku saat kelahiran cucuku kelak.

Belum bisa melaksanakan aqiqah pada hari ke tujuh, sebab harus segera balik lagi ke jakarta, kerja. Anakku masih tergadai selama 36 hari. Baru hari ke 36 setelah kelahiran bisa aku laksanakan aqiqah. Menjadi hak milik kami sepenuhnya. Aina Aulia Raissafitri, welcome to the world my lillte girl (9ethuk)

2 comments on “Putriku (Part 7-Habis)

  1. dwiyuli
    October 25, 2012

    Alhamdulillah, sudah terlewati yaa pak.

    Btw, bisa samaan gitu yaa Ai dan Hanan, akan memanggilnya orang tuanya Bunda dan Abi ^^… Gak ada perjanjian yaa sebelumnya, hehe.

  2. 9ethuk
    October 25, 2012

    Wehehehehe, Abi dan Bunda juga tah? Xixixi,.. Abi Fifn,… Gak janjian sama sekali kok. Kenapa pilih itu bun?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 24, 2012 by in [Perjalanan Hidup] and tagged , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: