9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Cium Tangan, Ada yang Salah?

Bismillah.

Entah sejak kapan kebiasaan cium tangan bapak-ibuk sebelum berangkat kerja aku lakukan. Seingatku, sejak SD aku pasti cium tangan Ibuk-dan Bapak sebelum berangkat sekolah. Bahkan kebiasaan itu tetap aku dan adek-adekku lakukan hingga SMP, SMA. Saat sudah kuliah, pas pulang kampung pun aku tak lupa cium tangan Ibuk-Bapak ketiga datang dan balik lagi ke Surabaya. Bahkan hingga sekarang aku sudah punya anak, kebiasaan itu tetap kulakukan.

Ehhh, ternyata aku menikah dengan seorang perempuan cantik yang menerapkan hal yang sama kepada kedua orang tuanya. Bahkan lebih ekstrem, mau ke indomart deket rumah aja cium tangan ke bapak ibuk kalau istriku mah😀

Pagi tadi pas mau berangkat kerja, aku cium tangan Ibuk dan bapak. Kemudian istriku mencium tanganku. Lalu aku cipika cipiki ke istriku. Ai masih bobok, kalau bangun dah dan bisa cium tangan, maka akan aku ajarkan untuk cium tangan Abinya yang mau berangkat kerja.

Kalau Ai dah besar, akan aku ajarkan hal yang sama. Mencium tangan orang yang lebih tua, setiap berangkat kerja cium tangan Abi dan Bundanya, kakek-neneknya sambil aku ajarkan bilang “assalamu’alaikum……”😀 , membayangkannya aja teduh rasanya.

Banyak yang malu cium tangan kedua orang tua, entah saya tidak tau kenapa. Tapi alasan terbesar adalah tentang kebiasaan, jadi solusinyapun sudah jelas yaitu membiasakan. Secara psikologi, dari membiasakan cium tangan, akan menimbulkan ikatan emosional yang lebih dari hanya sekedar berlalu begitu saja saat akan meninggalkan rumah atau baru datang dari rumah.

Sebenarnya rumusnya simple aja, hormati yang tua, sayangi yang muda. Tapi rasa hormat dan sayang itu tidak cukup hanya di perasaan atau di halam hati, butuh aktualisasi nyata di prakteknya. Bahkan praktek sekali saja tidak cukup, butuh keberulangan yang konsisten. Ibaratnya pemeliharaan alat, konsistensi cium tangan itu ibarat preventive maintenance terhadap alat, sehingga alat bisa berfungsi bagus setiap saat. Begitupun cium tangan, akan senantiasa memperbaharui ikatan cinta diantara anggota keluarga.

Simple untuk dilakukan, tidak perlu bayar, dan effectnya bakal luar biasa untuk keharmonisan keluarga, bagaimana tidak selalu harmonis jika malam taruhlah bertengkar. Paginya pas suami berangkat kerja ucapkan salam, istri cium tangan hahahaha. Atau anak mau berangkat sekolah ucapkam salam lalu cium tangan. Teduh banged dah..

Jadi, sudahkan sobat cium tangan bapak-ibuk?

8 comments on “Cium Tangan, Ada yang Salah?

  1. Ely Meyer
    November 9, 2012

    aku biasa mencium suamiku di garasi setiap pagi , saat dia sudah duduk di dlm mobil, setelah itu biasanya tanganku digenggam erat dan diciumnya sambil bilang terima kasih byk atas semuanya🙂 ….. dia ya yg suka nyiumi tanganku, aku belum biasa, lebih sering meluk dan nyium langsung suami sama mama mertua😛

  2. Rawins
    November 9, 2012

    orang jawa mah udah umum cium tangan kalo ketemu yang lebih tua. kalo ketemu yang lebih muda apalagi cewek cakep, baru pengen cium yang laen…

    • 9ethuk
      November 9, 2012

      Xixixi, asal si cew gak lagi pegang sendal aja mas😀

  3. cumakatakata
    November 11, 2012

    Alhamdulillah sayu juga selalu praktekin ini….
    dan kelak akan saya ajarkan juga pada anak…..😛

    • 9ethuk
      November 11, 2012

      Mantabz, Mas. Jika bukan dari kita memulai lalu siapa lagi🙂
      Makasih sudah berkunjung

      • cumakatakata
        November 11, 2012

        Benar Mas, semoga kita dapat dengan mudah mengajarkan paa anak2 kita🙂

      • 9ethuk
        November 11, 2012

        Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 9, 2012 by in [Opini] [Reportase] [Analogi] and tagged , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: