9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Again, I Hate ‘People’ With Uniform

Bismillah.

Entah berapa kali aku merasa kecewa dengan aparat, hari ini aku dikecewakan lagi. Niatnya berangkat ke acara hajatan temen kuliah di komplek Halim, karena guwe dari Salemba, maka jalan termudah adalah lewat A. Yani, sampai kali malang masuk lewat jl. Trikora. Berangkat naik motor bebek supra x punya Babe. Istri aku bonceng di belakang, berdua kami melaju memenuhi undangan kawan kami.

Masuk Jl. Trikora ada pemeriksaan, mungkin sekedar ditanya-tanya dikit, seperti sopir angkot depanku. Giliranku, aku buka helmku, motor aku hentikan. Ditanya sama PM yang jaga,

“Mau kemana?”

“Ke undangan pernikana teman di Ardya Grahita Pak, jawabku dengan sangat sopan”

“Ardya Grahita mana? gak ada itu” Jawab bapaknya ketus, agak sengak, merendahkan

“Di dalam komplek halim sana Pak, Gedung Ardya Grahita” Jawabku dengan sopan lagi, memperjelas tujuanku, aku yakin jalannya tepat sebab sebelumnya sudah lihat peta.

“Gak ada gedung Ardya Grahita” Jawab bapaknya tambah sengak dan merendahkan, gak ada ramah-ramahnya blas.

“Seingat saya betul kok Pak” Sejurus kemudian aku mau mengambil HP untuk melihat kembali SMS dari temen tentang nama gedungnya.

“Ardya Garini maksudmu?” ketus bapaknya.

“Betul Pak, itu dia gedungnya” Kataku masih sopan.

“Dah sana-sana masuk” kata bapaknya. Eh dilanjut lagi bapaknya bilang gini, “Ardya Grahita.. Ardya Grahita gedung e Mbahmu” Dengen nada sengak, ketus dan merendahkan.

“Makasih pak” Aku berlalu menyusuri jalan trikora.

Dalam hatiku, sepanjang perjalanan itu pun hingga pulang ke rumah, bahkan sampai saat menulis ini masih sakit hati. Sampai-sampai kepikiran gini, ‘Kalau saja dia rakyat jelata kayak aku dan bukan PM, aku ajak berkelahi satu lawan satu saat itu juga, kenapa begitu tidak sopan pada orang, salah apa saya yang sudah berkata dengan sopan. Itu jalan juga jalan negara, siapa aja berhak lewat, bangunnya juga pake uang pajak dan setiap bulan aku gak telat bayar pajak, bahkan gajinya si bapak tadi juga dari pajak yang bahkan sebelum terima gajikupun sudah dipotong pajak setiap bulan’.

Kenapa si Bapak yang terhormat tadi berlaku seperti itu padaku?apakah karena aku naik sepeda motor? Aku punya jenggot tipis? Istriku pakai jilbab agak gede?. bagaimana jika yang bertanya ke bapak tadi cew cakep naik fortuner? apakah juga akan sesengak saat meladeniku? bagaimana jika yang lewat jokowi? apakah juga semenyebalkan seperti tadi?

Begitu banyak pertanyaan yang tak terjawab olehku tentang sikap bapak tadi, tentang apa salahku hingga diperlakukan serendah itu, aku bukan pencuri, aku taat aturan, bayar pajak juga tertib. Ehhmm, ini bukan petama kalinya buatku, tapi bukan juga berarti semua people with uniform adalak jelek. Apakah masih ada yang baik? masih ada, namun sedikit menurutku. Jadi mengandai-ngandai, kalau polisi-nya polisi, kalau polisinya tentara saja seperti ini, bagaimana dengan warganya(polisi dan tentara) ya? (gak takut An nulis seperti ini? bismillah aja, hanya menyuarakan isi hati🙂 )

Jadi teringat pesen bapak, tentang filsafat jawa. Bapak menceritakan tentang urutan keprajuritan di jawa, senjata yang dipegang pasukan yang paling rendah drajatnya itu tombak. Tombak itu panjang dan sangat mudah terlihat, pemegang tombak biasanya akan maju duluan, mati juga mati duluan😀 . Diatas pasukan tombak adalah pasukan pedang, biasanya yang pegang pedang itu para satria (langsung inget satria kamandanu🙂 ), pedang lebih pendek dari tombak, tapi kemampuan pemegang pedang diatas pasukan tombak. Nah, diatas pedang ini adalah para senopati, panglima, bahkan hingga raja. Senjata mereka apa? keris. Lebih pendek dari pedang, tapi yang memegang keris bukanlah sembarang orang, bahkan mereka pantang menghunus keris jika keadaan tidak genting. Taukah dimana keris disimpan? di belakang punggung, dari depan tidak terlihat sama sekali kalau orang tersebut memegang senjata. Senjata tidak digunakan untuk menakut-nakuti orang, tapi sekali terhunus keris tersebut, dampaknya dasyat.

Seharusnya, semakin seseorang itu mempunyai kekuatan yang besar, dia semakin tawadu’, tidak sombong dan tidak memperlihatkan ‘kerisnya’. Ah, mungkin yang aku temui tadi adalah pasukan tombak atau mungkin dia belum menikah. Loh? apa hubungannya dengan menikah? Hehehe, kalau yang udah menikah, minimal merasakan memakai keris di nelakang punggungnya. Jadi sudah pernah pegang 2 ‘keris’ dalam waktu bersamaan (depan – belakang). Mungkin si bapak masih pegang satu keris saja.

Oiya satu lagi, aku masih sempat bilang makasih sama bapaknya, thank Mbak Ely atas postingannya🙂

Punya pengalaman menarik dengan uniform kawan?

31 comments on “Again, I Hate ‘People’ With Uniform

  1. danirachmat
    November 11, 2012

    Sabar Mas.. Whoosssyyaaah…..
    Kadan mereka emang suka ga sadar kayak gitu, Suka merasa paling tinggi aja..

    • 9ethuk
      November 11, 2012

      Alhamdulillah, masih under control tadi mas dan🙂

  2. aqomadin
    November 11, 2012

    terlalu emang aparat….. saya pernah bang dicegat didaerah kebayoran lama, polisinya pd nyetopin motor, kondisinya ramai kyknya ada razia gitu. Nah pas polisi sibuk sm motor” yg diberhentikan, saya bablas aja tancap gas ngebut hehe. Klo dikejar ya kebut”an ama ntu polisi

    • 9ethuk
      November 11, 2012

      Lagi dikejar setoran mungkin Bang dari atasannya, sebagai info (kata temen juga), bahwa bensin mobil dan motor2 polisi itu tidak ditanggung sepenunhnya oleh negara, jadi sisanya kudu cari sendiri. Salah satunya ya lewat tilang itu🙂

  3. Andik Rasida
    November 11, 2012

    Mungkin dia malaikat yang menguji kesabaran anda?

    • 9ethuk
      November 11, 2012

      Wakakakaka, mas andik iki iso ae. Cek kurang kerjaane malaikate😀

  4. Imron Rosyadi
    November 11, 2012

    lagi dapet tuh PM nya mas #upss

  5. izzawa
    November 11, 2012

    ckckc..terlaluu..
    saya juga bingung kenapa mereka rata2 semua nggak punya hati ya???
    apa memang sifat orang nya begitu,,atau emang uniform nya itu yang bikin mereka seperti itu…👿

    • 9ethuk
      November 11, 2012

      Ehhmm, ada betulnya juga, jadi seakan semua yang pake uniform yang sama ada di belakang mereka😦

      Gak papa, asal aku masih punya Alloh

  6. Rawins
    November 11, 2012

    kenapa gak bilang bukan mbahmu tapi mbahku pak…

    • 9ethuk
      November 11, 2012

      Aku rodo wedi e pak, wedi mergo lg mbonceng istri, wedi golek perkoro, sek nduwe anak cilik😦

  7. jepri
    November 11, 2012

    wkkwkkwkkwkk, udah mangkel banget ya bro, lumayan buat ngisi blog, he he he

  8. ririsnovie
    November 12, 2012

    Alhamdulillah belum pernah punya pengalaman seburuk ini dengan uniform, semoga enggak..
    Mungkin si PM belum lihat foto di atas, klo udah lihat kayaknya gak bakal berani mas.. =))

  9. Ely Meyer
    November 12, 2012

    kalau hal itu terjadi di sini sdh bisa dituntut PM nya

    • 9ethuk
      November 12, 2012

      Sayang sekali belum untuk INA Mbak,..

  10. ahmad fauzi
    November 12, 2012

    Pesawatnya kurang gede mas…
    didesa sebelahku ada bangkai pesawat lebih gede..

    hahay
    😀

    • 9ethuk
      November 12, 2012

      Loh iyo ta? Dimana tuh?

      • ahmad fauzi
        November 13, 2012

        LANUD wirasaba…
        eks angkutan TNI-AU….

      • 9ethuk
        November 13, 2012

        ???? Dimanakah itu? Aku baru tau 2 LANUD Aja, Lanud iswahyudi Maospati magetan, Lanud Halim, jakarta timur

  11. delakeke1
    November 13, 2012

    Sabar masbro, diambil hikmahnya
    Emang prajurit kayak begitu. mereka agak susah hidupnya.
    Banyangin aja. Betapa BETEnya mereka jaga seharian tanpa bisa fb-an, blogwalking, atau bahkan posting keseharian di pos jaga

    • 9ethuk
      November 13, 2012

      Hehmm, betul juga ya mas ya. Seharian jaga di pos palang jalan… Gak bisa posting di blog pula😀
      Thank u mas

  12. Fifin
    November 13, 2012

    wkwkwk… ngakak bacanya kang. Terutama filosofi prajurit jawa dan tentang menikah yang belum pernah merasakan memegang keris. mantabs.

    • 9ethuk
      November 13, 2012

      Jadi kang fifin dah pernah pegang 2 keris donk?😀

  13. Sukron Abdilah
    November 13, 2012

    yang sabar mas….aparat memang begitu. btw, itu photonya sekuat Hercules…bahkan lebih kuat lho. hehehe

    • 9ethuk
      November 13, 2012

      Ada tiang pancangnyaaaaaaaaaaaaaa…😀

  14. lunaticmonster
    November 19, 2012

    kadang kesal ya bro, kitanya gak tau mau ngomong apa lagi dan harus bagaimana mengungkapinnya, itulah hasil didikan militerisme kita, kalau dulunya di kamp mereka di bentak – bentak, di gebukin ya hasilnya gitu, ujung-ujungnya ketemu mayarakat bawaanya bentak-bentak mulu, salah dikit udah kaya habis ngerampok bank aja,

    sebagian dari mereka masih membanggakan seragam yang mereka pakai, pastilah mereka bangganya setengah mati, bisa pamer sama mertua-mertua mereka, hey gua aparat! gua gagah! berwibawa! dan mapan,
    padahal berani sumpah, udah berapa kali hati ini mencaci maki, mengumpat, mendoakan sampai menyumpah serapahkan mereka…..dan harusnya mereka itu sadar hidup buat siapa..😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 11, 2012 by in [Catatan Harian] and tagged , , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: