9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Perjalanan Sebuah Puisi (Part 6)

Bismillah.

Kitbah atau Lamaran kalau dalam bahasa Indonesianya. Satu hal yang menjadi kesepakatan bersama adalah adanya seserahan saat lamaran, ada juga yang dilakukan saat pernikahan, namun karena pertimbangan supaya tidak ribet saat pernikahan seserahan dilakuakn saat lamaran. Katanya orang-orang kalau memberi barang seserahan jangan di tawar dan yang memilih harus mempelai perempuan, bapak-ibukku saat itu juga berpesan dan mewanti-wanti hal yang sama, harus nurut apa yang dipinginkan pihak perempuan.

Hehmm, mikir. Jalan bareng belum boleh ama Ustadz, mau ngajak orang ketiga serba salah juga. Akhirnya kita sepakat, yang beli barang-barang seserahan adalah pihak perempuan yang ditemani popol (temenya istriku saat ini), lah diriku kemana? Hehehe leyeh-leyeh di kontrakan, internetan menunggu nota atau bon hasil belanja untuk aku ganti pake uangku jika mereka sudah beli barang-barang seserahan. Gara-gara beli barang sendiri tanpa aku temeni ini, si pihak perempuan sampai menangis, mengeluh, cek nelongsone rek, wes tuku barang dewe, nggowo dewe, blonjo dewe. Kasian juga seh. Hehehe tapi yak apa lagi?

Selesai belanja, aku mengambil barang seserahan sekaligus mengganti uang yang digunakan buat belanja. Satu kata, alhamdulillah gak keluar dari budged😀 .

Dapet barangnya segera aku kirim ke surabaya untuk di bungkuskan. Minta tolong tetangga family di surabaya untuk membungkuskan. Nanti pas acara lamaran tinggal diambil sekalian berangkat ke rumah calon mempelai perempuan. Hehehe. Jiannn.. pek enak e thok wes🙂

Weits ada yang hampir lupa, cicin kawin. Lah ini yang lucu ceritanya. Aturan yang kami sepakati adalah membeli cincin platina sepasang, karena memang cowok khan gak boleh pake perhiasan emas kalau dalam islam.  Yang beli siapa?😀 calon mempelai perempuan lagi, di temani popol lagi, aku tinggal setor ukuran jari dan dapet tanda nota/bon pembelian. Setelah beli dan merasa semuanya aman, eh ternyata dari info temenku yang juga nyari-nyari cicin platina, katanya harus hati-hati, kadang pedagang suka bilang emas putih sebagai platina. Padahal emas putih dengan platiana jauh berbeda. Dan benar saja, karena penasaran, calon istri ngecek ke penjual cincin yang kami beli, ternyata si penjual ngaku itu campuran emas dengan perak atau emas putih. Wadalah…

Trus piye iki? berarti cincinku tidak bisa aku pakai saat nanti lamaran. Dan bukan hanya itu, sepasang cincin yang kami pakai sudah ada namanya, karunia (di cincinku) dan nugroho (di cincinya). Kenapa karunia dan nugroho, sebab 2 nama itu memiliki makna yang sama🙂.

Akhirnya dengan terpaksa aku mencari cincin lagi, tapi sebisa mungkin mirip dengan bentuk cincin yang sudah kami pesan. Dari info temen, banyak cincin perak di Mall PGC Cililitan, aku meluncur ke sana segera, mencari cincin selain emas yang bentuknya mirip dan harganya terjangkau. Kalau beli platina gak sanggup, pertama: harga, kedua : harus pesan dulu dan jadinya, bisa jadi lebih dari acara lamaran kami.

Di Mall PGC, mulai dari lantai satu sampai lantai paling atas aku telusuri, mencari penjual cincin perak yang bentuk cicinnya mirip dengan cincin kawin kami. Muter-muter gak karuan, gak ketemu juga cincin perak yang mirip dengan cincin emas putih yang kupunya. Bingung, akhirnya nemu satu cincin, entah terbuat dari apa, yang jelas bukan dari emas. Bentuknya bagus, mirip dengan yang kupunya. Harganya-pun sangat terjangkau sekali🙂 , itu aja yang aku beli. Sekedar supaya saat ceremony pasang cincin ada yang bisa digunakan. Done, akhirnya dapat juga.

Cincin emas putih yang kupunya diapakan? disimpan rapi di box cincin. Tetap sepasang dengan yang di kenakan istriku sekarang🙂

Hari yang dinanti tiba, saat lamaran di rumah calon mempelai perempuan, Surabaya. Dengan membawa do’a restu Ustadz dan temen-temen halaqoh, guwe berangkat ke surabaya, berniat meminang sang bidadari pujaan hati. Ibu bapak berangkat dari magetan langsung menuju TKP, aku gak mampir dulu ke magetan, tapi langsung k e surabaya. Tidur dimana? Di rumah Faizal, bolo plek, ditemani kang mas Andang. Rencanya seperti ini, malam hari H lamaran aku nginep di Faizal bareng andang juga, paginya sambil mengambil bungkusan seserahan sekalian berangkat ke Rumah Calon mempelai perempuan (pake mobilnya Faizal🙂 ). Ibuk-bapak berangkat dari magetan ketemuan di dekat rumah calon mempelai perempuan, jadi pas kerumahnya bisa bareng. Adekku juga langsung menuju ke Lokasi. Cakep dah pokonya🙂

Malam lamaran kemana? muter-muter karang menjangan nyari makan di tempat dulu kami kuliah😀 , bahkan seingatku sampai larut malam. Hahaha, kata faizal, mene kon lamaran tum, bengine kok isik kluyuran (besok kamu lamaran tum (panggilan khan faizal ke guwe), malam kok masih kluyuran), gak papalah mumpung masih bisa dan kumpul.😀 .

Pagi haripun beranjak dengan cepat, dan aku juga harus siap. Menyiapkan diri dan hati untuk siap menerima keputusan, ditolak atau diterima lamaranku untuk meminang bidadari pujaan hati. Bismillah aja. Itu thok prinsipnya.

Berangkat pagi-pagi, dandan rapih. Pake baju bathik coklat keemasan, pemberian ibuk saat pernikahan adekku dulu. Pake celana putih. Ehmm, masih pake sendal eiger😀 . Berangkat!! Andang dan Faizal juga pake batik, cakep dah pokoknya.

Acara lamaran ini tidak banyak yang ikut, dari aku hanya keluarga besarku saja, aku ajak serta temen-temenku (Andang, Faizal, dan Maknit), Dari calon istri juga hanya keluarga besar dan beberapa bolo plek istri. Sederhana, hanya semacam pertemuan 2 keluarga.

Pangeran datang (aku-red😀 ) membawa keluarga, kawan dan seserahan, menuju istana calon mempelai perempuan genap beserta keluarga besarnya. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung artinya pantang menyerah😀 , berani bertindak, siap dengan segala resiko, kemungkinan terburuk di tolak. Paling nangis gero-gero satu minggu habis itu nyari bidadari lain lagi yang mau😀

Acara dimulai, kami disambut dengan hangat oleh keluarga besar calon mempelai perempuan, di sudut pintu, agak pojok, aku lirik ada perempuan berjilbab abu-abu pakai kacamata duduk tersipu malu. Sejurus aku langsung tau, itu calonku🙂 . Astagfirullah. Sabar An!😀

Bapakku memberi sambutan sekaligus menegaskan kedatangan kami, kemudian Bapak Calon mempelai perempuan memberi sambutan dan jawaban dari lamaran kami. Satu hal yang gak akan aku lupa, bapak calon mempelai perempuan sampai menangis haru atas kedatangan kami. Saya datang baru sekali sebelum lamaran saat itu, dan memenuhi janji datang saat lamaran. Karena memang seperti itu aku diajarkan, pantang tidak memenuhi janji yang sudah diucapkan. Dan jawaban dari lamaran kami adalah di terima. Alhamdulillah,….. dimudahkan kembali.

Setelah seserahan di serahkan, eh ada kejutan ibukku memberi tambahan hadiah berupa gelang emas pada calon mempelai perempuan. Wuichh enak e rek😀 . Setelah seserahan adalah acara tukar cincin, dari awal aku sudah bilang kalau yang memasangkan cincin di jariku dan cari calon mempelai perempuan adaah ibukku. Dan disetujui, di hari itu ibukku memasangkan cincin di jari manisku dan jari manis calon istriku🙂

Acara ditutup dengan do’a yang dalam, bahwa tiada kekuatan dan kekuasaan kecuali hanya milik Alloh, yang merencanakan secara detail setiap kejadian dan peristiwa, yang mempertemukan jodoh setiap manusia, dan saya sangat bersyukur atas semua ini.

To be continued-

 

6 comments on “Perjalanan Sebuah Puisi (Part 6)

  1. ririsnovie
    November 18, 2012

    kwereenn mas, ditunggu kelanjutan kisahnya..senyum2 dewe aku bacanya..hahaa

    • 9ethuk
      November 19, 2012

      Ojo diguyu tapi yo, coz masih banyak yang kocak😀

      • ririsnovie
        November 21, 2012

        lanjutkan!!! wes ngguyu ngakak padahal..aku wes moco dari part 1-6..juwarraa mass..

      • 9ethuk
        November 21, 2012

        InsyaAlloh..🙂

  2. puchsukahujan
    November 28, 2012

    sampun kulo waos pak, lengkap dari part 1-6
    hehe, kayaknya heroik banget…..
    jadi merinding saya bacanya, memang urusan ini tidak pernah lepas dari campur tangan Allah 😀

    • 9ethuk
      November 28, 2012

      🙂
      Dirimu di pihak perempuan ya, jadi persepsi bacanya agak beda dengan saya yang dari pihak cow🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 18, 2012 by in [Perjalanan Hidup] and tagged , , , , , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: