9ethuk

Berbagi adalah sumber energi abadi

Nabrak Ayam [Pelajaran dari Bapak Magetan]

Photo bapakku dan aku pas masih kecil :)

Photo bapakku dan aku pas masih kecil🙂

Bismillah.

Entah mengapa, tiba-tiba teringat kejadian saat aku SMP dulu. Pas lagi naik motor ke mesjid untuk sholat duhur kalau gak ashar, tiba-tiba ada ayam yang nyebrang jalan secara tiba-tiba. Dan si ayam nyebrang tanpa kasih kode dulu, mana nyebrangnya gak di zebra cross lagi, dan si ayam hanya memberiku waktu sepersekian detik untuk berfikir, apakah banting strir atau tabrak saja. Ternyata ‘pilihan’ jatuh kepada nabrak si ayam..

Klepek-klepek. Mati tersimbah darah di tengah jalan. Aku berhenti, bingung. What should i have to do? Ada mbah-mbah yang menyaksikan kejadianku tadi, si mbak langsung ambil ayamnya tadi, membuangnya ke pinggir jalan deket sawah. “Udah, lanjt aja ke mesjidnya, ayamnya yang salah”. Dengan agak ragu aku melaju motor ke mesjid.

Malam harinya, aku cerita ke bapak tentang kejadian nabrak ayam, tanpa aku duga, muka bapak merah, marah. “Ini uang, cari yang punya ayam sampai ketemu dan ganti ayam yang mati kau tabrak” kata bapak tegas. Perintah bapak adalah titah, ibarat prajurit men-sendiko dawauh-kan perintah panglima perang. Tidak bisa ditawar ataupun ditolak, dan harus dilaksanakan, apapun resiko dan susahnya melaksanakan perintah itu.

Aku mumet, hampir seminggu aku nyari pemilik ayam itu di kampungku, coba ayamnya bisa ngomong pas sesaat sebelum mati dia milik siapa, hehe ngimpi. Dan dari sekian buanyak ayam, aku harus nyari satu satu. Di kampung, hampir setiap rumah punya ayam yang dilepas bebas. Jadi seperti nanya satu-satu penduduk desa, hiks hiks. Tapi hal terberat adalah melawan rasa malu karena udah nubruk ayam tanpa mau tanggung jawab😦

Akhirnya, seteleh perjuaangan panjang, ketemu juga yang punya ayam, yaitu mas budi, ketua karang taruna saat itu. Itupun taunya pas ngobrol-ngobrol saat pertemuan karang taruna. Malu sangat masbro saat itu, tapi harus dilawan. Segera aku sampaikan maksud tujuanku minta maaf dan mengganti ayam yang kutabrak dengan uang yang aku bawa.

Efek setelah itu yang luar biasa tak terlupakan, hati ini rasanya PLONG!!!! dan sampai sekarang masih ceket (istilah surabaya, ingat kuat di ingatan). Terimakasih Bapak, akan aku sampai terus ke anak cucuku.

31 comments on “Nabrak Ayam [Pelajaran dari Bapak Magetan]

  1. Fanny Novia
    December 15, 2012

    Harus patuh sama perintah orangtua ya Yudi😀

  2. Fanny Novia
    December 15, 2012

    Salah Mas…mmaaap..hahaa…tadi itu sempat baca blog teman yang namanya Yudi… *duh malu*

  3. yisha
    December 15, 2012

    yeah, yisha pasti ngga bakal berani.
    selamat deh atas kesuksesan kaka yang ini……..

    • 9ethuk
      December 15, 2012

      Thank u dek yisha, doain kakak tetep bisa pegang teguh ya…

  4. whysooserious
    December 15, 2012

    luar biasa, semoga masih banyak orang tua yang mengajarkan tanggung jawab pada anaknya…

  5. Setokdel
    December 15, 2012

    paling nggak ayam itu memang harus dihargai mas jangan sampai mati sia-sia, sebagai warga negara kesatuan republik Indonesia ayam juga punya hak asasi #ikingomongopo

    • 9ethuk
      December 15, 2012

      tar bikin uu perayaman ya🙂

  6. ~Ra
    December 16, 2012

    Nah, kalau ada 100 orang aja kayak kakeknya ai, indonesia masih punya masa depan yang pasti.😀

    • 9ethuk
      December 16, 2012

      Seratus orang mah kurang…. atu Non, apalagi udah kakek2. Yang dibutuhkan pemudanya.

      • ~Ra
        December 16, 2012

        Lho dari 100 itu ngajarin anaknya, anaknya ngajarin lagi cucunya… jadinya turun temurun..

        Kaya Omnya itu..
        🙂

        Semoga Aina besar bisa membawa perbahan pada negeri ini ya Om..

      • 9ethuk
        December 16, 2012

        Aamiin ya Rabb…
        Makasih ya ndut, bagus banget doanya…

  7. Ely Meyer
    December 16, 2012

    Wow ….. salut sama bapaknya, juga sama mas, makasih sudah sharing ceritanya

    • 9ethuk
      December 16, 2012

      Makasih juga mbak udah membaca ..

  8. Wong Cilik
    December 16, 2012

    rasa plong yang seperti itu pernah kualami juga mas …
    melawan rasa takut dan malu itu memang sesuatu banget … *bingung mendeskripsikannya …

    • 9ethuk
      December 16, 2012

      Ayo crita wong,… perjuangannya setimpal dengan rasanya khan?

  9. cumakatakata
    December 16, 2012

    semoga semakin banyak yang seperti beliau Mas…

    • 9ethuk
      December 16, 2012

      He eh, jadi pengen pulang ke magetan neh😦

      • cumakatakata
        December 16, 2012

        saya juga udah lama gak kemagetan Mas.. terakhir waktu bulan syawal kemaren…

      • 9ethuk
        December 16, 2012

        Loh, ke magetan? magetannya mana? ke mana?

      • cumakatakata
        December 16, 2012

        kasih tau gak yaaaaaaaaaaaa?😛

      • 9ethuk
        December 16, 2012

        Gak usah aja deh
        Hohohoho

      • cumakatakata
        December 16, 2012

        hahahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

  10. ririsnovie
    December 17, 2012

    Bapaknya keren mas, ah jadi makin kangen bapakku #lhoh

    • 9ethuk
      December 17, 2012

      Anaknya siapa dulu, loh?! Hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 15, 2012 by in [Bertemu] [Reuni] [Kumpul], [Catatan Harian], [Opini] [Reportase] [Analogi] and tagged , , .

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 159 other followers

Tulisan Terdahulu

%d bloggers like this: